CHAPTER 1

884 63 10

SAMANTHA WEST memandang hamparan salju yang berada di bawahnya. Mereka tampak putih, empuk seperti gumpalan kapas. Namun penampilan mereka menipu. Mereka sama kerasnya dengan tanah dan melompat ke sana dengan ketinggian ini akan membuat tubuhmu langsung remuk.

Berapa ketinggian cable car ini? 100 meter? 200 meter?

Pernahkah kalian memiliki dorongan untuk melompat, ketika kalian berada jauh di ketinggian dan menatap ke bawah? Seakan-akan ada suara yang berbisik di relung terdalam jiwammu, "Terbanglah, biarkan gravitasi memelukmu."

"Pada akhirnya kita semua kembali ke bumi."

Sam buru-buru menghapus pikiran itu dari benaknya. Kesalahan besar menatap ke bawah dalam kondisi seperti ini. Seharusnya ia pandangi saja pemuda tampan yang ada di sampingnya.

Ia menoleh ke arah Michael Sommers yang duduk di sebelahnya. Dawn benar, pikir Sam. Mike adalah pemuda yang keren. Tak heran Dawn naksir padanya semenjak musim panas lalu. Dan ini sudah musim dingin, sudah berapa bulan ya berarti?

Semua perempuan memang layaknya jatuh cinta pada pandangan pertama pada pemuda seperti Mike. Ia seorang gelandang futbol, bertubuh tinggi tegap dengan mata biru dan rambut pirang berombak yang menawan. Sam juga memiliki rambut berwarna emas, sama indahnya jika dibiarkan tergerai. Namun sayangnya di cuaca sedingin ini, ia harus membungkus erat kemilau rambutnya dibalik tutup kepala wool yang tebal itu.

Pemuda itu hanya diam menatap barisan pepohonan pinus yang timbul dan tenggelam di antara pegunungan bersalju ketika cable car mereka bergerak melintasi jurang. Ia hampir tak berbicara dengannya. Mungkin ia merasa canggung, sebab ini kali pertama mereka bertemu.

Terdengar bunyi gemeretak gigi dari sampingnya. Sam menoleh dan melihat Jung Soo tengah gemetaran sambil menatap ke bawah.

"Kau tak begitu suka dengan ketinggian ya?" tanyanya pada pemuda berwajah Asia itu.

Jung Soo menoleh dengan matanya yang coklat dan dalam.

"Bu ... bukan," ujarnya masih menggigil, "Hanya saja ... dingin di sini."

Terdengar suara Mike terkekeh, "Jangan khawatir, Jung Soo. Kita akan segera sampai dan di sana kau bisa menghangatkan diri."

Wajah Jung Soo berubah cemberut bercampur malu. Kesal karena ia merasa Mike mengejeknya dan memerah malu karena ia menunjukkan kelemahannya di depan Sam.

"Tak apa, kok." hibur gadis itu, "Jangan lihat ke bawah, Itu akan membuatmu semakin tidak nyaman."

Pemuda itu tersenyum sambil mengangguk. Sepertinya ia pemalu, pikir Sam. Namun kata Josh, ia adalah pemain futbol yang bagus, walaupun ia baru saja belajar permainan itu semenjak datang dari Korea.

"Sam, kenapa mereka memanggil gadis secantikmu dengan nama laki-laki?"

Sam menoleh ke arah Mike.

"Kurasa itu resikonya memiliki nama Samantha. Memang dengan nama apalagi orang-orang akan memanggilku? Sammy?"

"Sammy? Yah, kurasa aku akan memanggilmu Sammy, semacam panggilan kesayangan."katanya sambil terkekeh.

Apa barusan Mike berusaha merayuku, pikir Sam. Ia pernah mendengar Josh memperingatkan Dawn agarberhati-hati terhadap pria seperti Mike. Bahkan mereka pernah bertengkar karenanya. Pertama mendengarnya, Sam merasa Josh hanya overprotektif terhadap adiknya itu. Bahkan Josh selalu lebih perhatian kepada Dawn ketimbang Hope, padahal mereka sama-sama adik kembarnya.

Namun Sam kini mulai merasa semua yang didengarnya tentang Mike adalah benar.Mike seorang playboy, Sam rasa itu rahasia yang diketahui semua gadis, Tetapi tetap saja banyak wanita yang mengejarnya.

HINGGA FAJAR MENJELANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang