Part 19 - Stronger

1K 31 2

-Cloudy POV-

Akhir pekan selalu ku habiskan dengan belajar, tak terkecuali hari ini. Memang cukup aneh, mengingat biasanya tiap akhir pekan aku selalu bermalas-malasan. Tapi kali ini kasusnya berbeda, aku tidak dapat bermalas-malasan lagi belakangan ini.

Ujian Nasional kian mendekat, mau tidak mau, aku harus belajar ekstra keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Aku tidak hanya ingin sekedar lulus, namun aku juga ingin diterima di universitas yang ku inginkan.

Semoga saja bisa terkabul. Amin.

Hari ini aku sudah membuat janji dengan Aubrey untuk belajar bersama, atau lebih tepatnya, aku sudah berjanji untuk mengajari Aubrey. Sahabatku itu meminta untuk diajarkan matematika, sebab katanya ia sangat lemah dalam pelajaran itu.

Aku sudah sampai di rumah Aubrey sejak pagi, dan sesampainya disana aku tidak langsung belajar, melainkan bergosip terlebih dahulu, hihihi. Setelah lewat pukul 10, barulah aku memulai aksiku untuk mengajari Aubrey.

Sebenarnya Aubrey itu mudah mengerti materi yang ku ajarkan, cuma karena memang Aubrey itu senang melihat orang lain sengsara, jadilah aku mengulang terus materi yang sama sampai Aubrey gumoh. Sukurin, biar rasa!

Tepat setelah makan siang, aku berpamitan pada Aubrey untuk pulang. Namun tiba-tiba saja Mas Anton mengabari kalau ban mobilku bocor. Ku pikir hanya satu yang bocor, ternyata semuanya. Apes.

Tadinya Aubrey bersikeras untuk mengantarku pulang, tapi aku tidak mau dengan alasan aku sudah besar, dan bisa pulang sendiri. Alhasil aku pulang naik angkutan umum.

Saat sedang menunggu angkutan umum, ada sebuah mobil sedan warna hitam yang catnya sudah usang, berhenti tepat di depanku. Dari dalam mobil, turun 3 orang pria dengan wajah ditutupi masker, yang langsung membekap mulutku seraya menarik paksa untuk masuk ke dalam mobil.

Aku meronta, minta dilepaskan, namun tenagaku tak sebanding dengan ketiga pria sialan itu. Akhirnya aku hanya bisa pasrah sambil terus melafalkan berbagai doa dalam hati.

Di dalam mobil, tasku dirampas begitu saja. Ku lihat ponselku dimatikan, lalu baterainya dilepas. Dengan mulut yang masih dibekap, dan tangan yang masih dipegang erat, aku berusaha mengambil tasku itu. Namun lagi dan lagi, usahaku sia-sia.

Dua orang pria yang tadi membekap dan memegangiku, melepaskanku. Dengan sigap, aku membuka kaca jendela mobil dan berteriak.

"Tolong!!"

"Siapa pun tolong saya!!"

"Saya diculik!!"

Tubuhku ditarik ke belakang oleh salah satu pria. "Berisik!"

"Percuma kamu teriak-teriak, tidak ada yang perduli!" ucap pria satunya.

Kemudian mereka mengikat tanganku dengan tali, menutup mulutku dengan lakban hitam, serta menutup mataku dengan kain.

Tunggu, kenapa aku jadi ingat adegan fifty shades of grey?

Aku tidak ingin diper-

What the hell?! Fokus Cloudy!

Aku meronta lagi, menendang apapun yang bisa ku tendang. Lalu tiba-tiba saja dapat kurasakan sebuah pistol ditempelkan di pelipis kananku. Aku tahu kalau itu pistol mainan, tapi tetap saja aku takut.

Takut ternyata dugaanku salah.

"Tenang, kami tidak akan memperkosa kamu."

Pernyataan itu membuatku sedikit lebih tenang. Sedikiiit. Hanya secuil, sisanya aku masih panik setengah mati. Rasanya aku akan gila sebentar lagi.

Only One [Completed]Baca cerita ini secara GRATIS!