Bagian 21

15.6K 1.6K 68

Alia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Dimas ketika laki-laki itu celingukan mencari cafe yang dimaksud Alia. Alia tiba-tiba mengirim pesan pada Dimas bahwa ia sedang ada di pusat perbelanjaan di dekat kantor Dimas dan mengajaknya untuk bertemu. Beberapa hari yang lalu, mereka memang sempat bertukar kontak, tak banyak obrolan hari itu, kecuali fakta bahwa Rafa adalah anak Alia.

"Hai, sori. Lama nunggu, ya?" sapa Dimas setelah mendekati Alia, lelaki itu mendongak dan memastikan bahwa memang di sinilah tempat mereka berjanji untuk bertemu. Tapi kenapa Alia masih di luar?

"Enggak, kok. Aku juga baru nyampe." Jawab Alia tersenyum, memperlihatkan gingsulnya yang dulu amat disukai Dimas. Sebab Alia yang memang sudah cantik itu, tampak jauh lebih manis ketika tersenyum dan memperlihatkan gingsulnya.

Dimas mengangguk-angguk kemudian mempersilakan Alia untuk lebih dulu masuk ke dalam cafe, sementara Dimas mengikuti dari belakang.

"Rafa nggak diajak?"

"Wah, kalau ngajak dia belanja si repot, Dim. Salah-salah semua mainan diangkut."

"Hahaha."

"Wah rame, ya... duduk dimana kita?"

"Mm... ya... paling di kursi."

Alia menoleh dan tertawa. Tangan mungilnya memukul pelan lengan Dimas, "Kamu tuh, ya... tetep aja dari dulu!"

Dimas tersenyum canggung sambil melirik ke arah lengan bekas sentuhan Alia.

Seorang staff cafe kemudian mendekati mereka dan menunjuk ke arah meja yang masih kosong.

"Kalau Rafa tahu aku mau ketemu kamu, pasti dia ngerengek pengen ikut." Ujar Alia sambil membuka-buka menu makanan yang diberikan oleh pramusaji ketika mereja sudah mendapatkan meja.

"Kenapa?"

"Kamu itu mirip banget sama oomnya yang di Surabaya, mereka sering main dulu. Pas kita abis ketemu dulu itu, dia tanya-tanya kamu terus."

"Oh ya? Padahal pad ketemu kelihatan cuek gitu Rafa."

"Hahahaha, anaknya memang begitu. Apalagi kalau udah dapet mainan. Dunia serasa milik sendiri. Tapi sebenernya dia mudah kok bergaul sama orang lain."

Lagi-lagi Dimas mengangguk-angguk sok mengerti.

Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, mereka kembali mengobrol, mulanya mengenai potongan masa lalu mereka setelah lulus SMA. Alia yang kemudian melanjutkan kuliah ke Surabaya, dan menikah ketika memasuki semester 5, dan Dimas yang kemudian memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan menikahi Dishi.

"Kok aku nggak kaget-kaget amat denger kamu akhirnya nikah sama Dishi. Kalian memang cocok sih, chemistry nya udah beda dari dulu." ujar Alia masih takjub. Sesungguhnya ia benar-benar terputus kontak dengan teman-teman SMAnya setelah menikah, kegiatan kuliah juga urusan domestik rumah tangganya cukup menyita waktu.

Dimas tersenyum kecut. Chemistry beda dari Hongkong? Padahal dulu dia naksir berat sama Alia, cuma nggak berani bilang aja.

"Namanya juga jodoh. Suami lo nggak ikut balik ke Jakarta, Al?"

Saat itu, Dimas tak memerhatikan perubahan air muka Alia sebab pramusaji lebih dulu menyela obrolan mereka dan menyajikan makanan yang mereka pesan.

"Ah, enggak." Jawab Alia pelan.

Dimas ingin bertanya lebih lanjut, tapi Alia kembali menjawab, "Beliau udah meninggal beberapa bulan yang lalu."

Mulut Dimas yang sebelumnya terbuka kini tertutup kembali. Meskipun Alia mencoba menunjukan bahwa ia tak bermasalah dengan pertanyaan Dimas, tapi tetap saja Dimas jadi canggung.

Bukan Nikah BiasaBaca cerita ini secara GRATIS!