Our Love (1/2)

6K 371 25


Seorang wanita cantik berbalut dres selutut berwarna hijau toska, menatap sengit pada satu objek yang membuat dirinya layaknya patung bidadari dari kayangan, berdiri tanpa dihiraukan, memang hakikat patung seperti itu bukan? Menjadi pajangan.

Sudah lebih dari 30 menit ia menatap sengit pada seorang laki-laki, yang sumpah demi apapun ia ingin sekali menceburkan lelaki itu pada sungai yang tepat berada didepannya. Lelaki yang sudah mengajaknya ketempat ini, tapi lelaki itu juga yang sudah mengabaikannya. Heol, menyebalkan!

Dengan perasaan dongkolnya Suzy, sang gadis melangkahkan kaki jenjangnya menuju kearah lelaki itu. Lelaki yang sedari tadi asik dengan dunianya sendiri, dengan kedua tangannya yang sibuk memegang kamera, mengarahkan pada objek yang Suzy pikir mampu mengeser dirinya dari posisi teratas, menjadikannya kedua.

"Yya!" Suzy memekik keras, merasa tidak terima karena telah diacuhkan seperti ini. Jika jadinya akan begini, ia memilih bobo cantik dirumahnya dengan ditemani boneka pikachu besar yang akan ia peluk, walaupun boneka pikachu malang itu akan terhempas kelantai kamarnya karena ulah tangan nakal seseorang yang memang seharusnya ia peluk.

Helaan napas kasar berhembus beberapa kali, begitu teriakan yang menurutnya merdu itu sama sakali tak menghentikan aktifitas sang lelaki, bahkan hanya untuk sekedar menoleh saja tidak! Keterlaluan sekali! Ck

"Yya! Kau mengacuhkanku!" Berhasil. Suara 3 oktaf yang keluar dari bibir Suzy itu mampu membuat sang lelaki menengok kearahnya. Yah lumayan.

Masih dengan tatapan sengit, Suzy menatap lekat lelaki itu. Lelaki yang mulai berjalan pelan menghampiri dirinya dengan jarak kurang lebih 3 meter. Dengan senyum manis tanpa dosa dari sang lelaki yang membuat kilatan marah dimatanya memudar sedikit demi sedikit. Katakan Suzy payah! Iya. Jika sudah tersuguhkan pemandangan yang sumpah demi apapun amat sangat terfavorit untuknya, bahkan ia akan merelakan 7 jam waktu tidurnya untuk tetap terjaga, hanya karna ingin melihat senyum menawan dengan kedua lesung pipi yang selalu malu-malu muncul menghiasi wajah sang lelaki, walaupun lelaki itu sangat jauh dari kata romantis yang menjadi syarat akan type idealnya, namun sepertinya poin itu perlu ia enyahkan hanya teruntuk lelaki datar dengan wajah mempesona yang sudah berhasil menyumbat hatinya.

"Waeyo?" Tuh kan benar! Bukankah Suzy tadi sudah mengatakan kalau lelaki itu sangat jauh dari kata romantis!
Bahkan 'peka' pun tidak!
Setelah dirinya diacuhkan oleh sang lelaki hanya kata 'waeyo?' yang keluar dari bibir tipis itu. Catat itu baik-baik.

Ingin rasanya Suzy menghisap rakus bibir itu, menjadikannya membengkak dengan warna merah merkah yang membuat si pemilik bibir pasti akan segera menyeretnya keranjang saat itu juga. Tapi ini alam bebas, jauh dari kata ranjang. Jadi ia bisa bernapas lega kalau ia benar-benar melakukan 'hal' tersebut.

Suzy mengelengkan kepalanya cepat. Sejak kapan pikirannya ternodai persis dengan otak mesum lelaki yang saat ini memiringkan kepalanya kesamping, memandangnya heran.

"Kau kenapa?" Myungsoo. Lelaki yang saat ini berada tepat dihadapannya, memandangnya dengan siratan 'sedikit' kekhawatiran dari bola matanya. Ingat hanya sedikit.

"Aku ingin pulang!" kalimat tegas yang tersirat agak manja itu keluar dari bibir Suzy, dengan mata memerah entah menahan marah atau air mata.

Myungsoo menghembuskan napasnya pelan "baiklah" ucapnya. "Ayo pulang!" Lanjutnya dengan tangan kanannya merangkul pundak Suzy karena tangan kirinya yang memegang kamera, atau kadang Suzy menyebutnya 'selingkuhan'.

Setelah sampai pada mobil berwarna hitam legam yang menjadi kepunyaan Myungsoo, Suzy langsung masuk kedalamnya menutup pintu dengan sedikit kencang. Ekor mata Suzy melirik kesamping, tepat saat Myungsoo mendudukan bokongnya dikursi pengemudi. Wajah Myungsoo biasa saja, datar, seolah kejadian membanting-nya tadi tidak berefek apa-apa bagi Myungsoo.

OUR LOVEBaca cerita ini secara GRATIS!