Part 15-Its About Kevin

2.3K 216 4

Part ini hanya ada adegan Kevin. Cellyn nggak muncul ya.

*****

Cowok itu berdiri di depan kelasnya. Barangkali jika pacarnya lewat ia bisa menyapa.

Namun setelah membuang waktu istirahatnya, yang dinanti tidak datang. Ia menghela napas kasar.

"Nungguin siapa sih bro?" Hafiels menepuk pundak Kevin.

"Bintang jatoh," jawab Kevin sekenanya.

"Emang bintang bisa jatoh kalau siang?" tanya Hafiels yang bahkan anak TK tau jawabannya.

"Nggak."

"Datar banget sih muka lo. Senyum dong kayak gue. Nih lihat Kev, lihat senyum gue." Hafiels mencoba memperlihatkannya di depan Kevin. Tapi cowok itu menjauh menghindari Hafiels.

Kevin mondar-mandir di kelas. Banyak yang menatapnya aneh. Lagipula tidak ada kerjan lain apa?

"Lo kenapa sih? Heran gue sama orang sok sibuk sendiri gitu." Hafiels mengikuti Kevin di belakangnya. Mereka seperti anak dan induk itik yang sedang kehilangan rumah.

Kevin berhenti dan memberikan tatapan tajam ke Hafiels.

"Tolong bantu gue," raut wajah Kevin berubah santai tapi terkesan dingin.

"Serem banget sih bang," receh Hafiels.

"Bantu gue cari cara supaya bisa tau keadaan Cellyn."

Hafiels melihat sekelilingnya. "Lo yakin minta bantuan gue?"

"Siapa lagi? Setan?" Kevin menatap Hafiels tajam.

Hafiels kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Kevin. Cowok itu kemudian terganga tidak percaya dengan usul Hafiels. Lebih baik dia cari cara lain saja.

"Gue suruh ke kelasnya langsung gak mau. Yaudah dedek bisa apa," Hafiels ngedumel.

Kevin beranjak menuju ruang pemilik sekolah. Dia membuka pintu berniat menenangkan diri di sana. Tetapi sesuatu yang seharusnya tak ingin dilihat Kevin sedang berdiri di sana. Dengan setelan jas yang berwarna sama, selalu hitam.

"Akhirnya kamu ke sini juga Kevin. Papa sudah menduga itu." Wijaya duduk di meja kerjanya.

"Apa yang akan anda lakukan di sini?" Rahang Kevin mengeras. Setelah kejadian itu ia tidak habis pikir Wijaya masih punya muka menemuinya.

"Hahaha," Wijaya tertawa puas. "Setelah apa yang kamu lakukan, Papa ingin berterima kasih. Papa hanya mengingatkan, kalau hubungan kamu dengan anak Pratama hanya sebuah perjanjian. Jadi jangan bawa perasaanmu ke sana."

"Anda tidak berhak melarang saya melakukan apapun!" Kevin berusaha agar tidak meluapkan amarahnya di sini.

"Oh tentu saya berhak. Kamu itu anak saya, calon pewaris semua kekayaan dan perusahaan saya nanti." Wijaya mendekat ke arah Kevin dan menepuk pundak anaknya itu.

"Hati-hati dengan apa yang kamu perbuat. Keselamatannya tergantung tindakanmu."

"Arggh," Kevin membuang seluruh dokumen yang ada di meja itu. Ia merobeknya sampai menjadi serpihan.

"Bodoh! Gue udah buat orang yang gue sayang menderita! Cowok apaan gue!"

Ponselnya bergetar. Satu panggilan masuk. Kevin menggeser tombol hijau pada layarnya.

"Halo Rain ada apa?"

"Aku di Jakarta Kev, sekarang aku pindah ke Indo. Kalau ada waktu ketemuan yuk."

"Kamu di Jakarta? Sejak kapan?"

"Baru kemarin. Orangtua sepupuku meninggal jadi aku harus nemenin dia."

Orangtua sepupu Rain meninggal? Firasat buruk langsung menghampiri cowok keturunan Indo-Jerman itu.

"Meninggal kenapa?" Kevin mencoba mengontrol suaranya.

"Kecelakaan pesawat."

Kevin menutup panggilan tanpa menghiraukan suara Rain lagi. Sekarang ia benar-benar menjadi cowok terbodoh. Bahkan Kevin menghancurkan dua sepupu yang sangat dekat itu.

Kini Kevin hanya bisa menyesal telah menuruti kata-kata papanya. Apa mungkin dia masih bisa dimaafkan?

"Gue nggak pantes buat kalian berdua," ucap Kevin lirih dan merosot ke lantai.

Ps. Aku update yeay sambil dibonceng di motor hmmm

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!