Di perjalanan di tengah konsentrasinya menyetir, Zuck merasa mendadak ban belakang motornya berat dan sedikit oleng. Dengan perasaan was-was Zuck menginjak rem dan melepas tarikan gas. Dan benar saja, saat ia turun untuk memeriksa, ia menemukan sebuah paku tertancap di ban!

Bugh! Spontan Zuck menendang ban motornya saking kesalnya. Motornya diam saja tak melawan, justru ujung sepatu Zuck yang sukses jebol menganga.

"Sial!" Emosi Zuck bertambah parah. Kali ini jok motor yang jadi sasaran. Ditamparnya keras hingga meninggalkan bekas tangan.

"Huft!"

Sesaat Zuck menghela napas panjang. Tiba-tiba ia merasa kasihan. Ini bukan salah motornya. Ini resmi salah Jabon! "Kenapa dia ingkar sama janjinya bangunin aku? Kenapa dia nggak melarangku nginep di rumahnya?! Kenapa?!" oceh Zuck mendongak ke langit.

Setelah mengusap-usap bekas tamparan di jok, Zuck menuntun motor malang itu berjalan di sisinya. Ia berharap ada tukang tambal ban yang sudah buka praktek sepagi itu. Beruntung tidak terlalu jauh dari TKP, ia menemukan apa yang diharapkannya tersebut.

"Enggak, enggak. Jelas-jelas ban udah bocor masa masih merasa beruntung?! Ini tetap sial. Apes!" Zuck terus mengomel menyalahkan keadaan. Malah sempat berpikir buruk, bahwa tukang tambal ban itu yang sengaja tebar paku di jalanan.

Dan sambil menanti ban motornya ditambal, Zuck pergi ke toko di sebelah bengkel. Kondisi keuangannya yang sangat payah, membuatnya hanya mampu membeli air minum kemasan gelas. Plastik penutupnya disobeknya lebar-lebar, lalu memanfaatkan sebagian besar isinya untuk cuci muka, sementara sisanya Zuck minum hingga tetes terakhir. Setelah itu ia duduk di trotoar depan toko. Wadah air minum yang telah kosong diletakkan begitu saja di depan kakinya.

Tapi kurangnya tidur, kegelisahan diburu waktu, serta perasaan kecewa akibat kekalahan tim jagoannya tadi malam, membuat tampang Zuck tetap berantakan dan tak sedap dipandang meski sudah dicuci dengan air mineral. Lusuh!

Tampang lusuh itu masih ditambah dengan cara berpakaiannya yang sangat tidak modis. Berupa jaket hitam kekuning-kuningan karena kusam, serta bawahan celana jeans lecek yang pada bagian dengkulnya sengaja disobek-sobek. Sepatunya juga sudah usang dan tampak koyak hasil dari menyepak ban motor tadi. Dengan tampang dan penampilan seperti itu, sebenarnya Zuck lebih terlihat seperti gelandangan kepagian daripada seorang manusia biasa. Ngakunya saja mahasiswa!

Tak lama berselang, Zuck melihat sebuah motor matic berhenti di depan toko. Pengendaranya yang seorang cewek berbusana SMU itu turun mendatangi toko.

"Bang, ada pulsa?"

"Tapi yang elektrik habis. Tinggal yang vouceran."

"Nggak masalah, Bang. Pulsa kiloan juga nggak apa-apa, yang penting pulsa saya keisi. Butuh cepet nih," kata remaja paruh baya itu tersenyum begitu manis.

"Ckckck... Udah cantik, ada cacatnya pula," Zuck sampai berdecak kagum dan bergumam tanpa sadar menyaksikan senyum itu. Selain manis, dilengkapi juga dengan lesung pipi yang imut dan menggemaskan.

Si cantik mengeluarkan dompet mewah dari dalam tas sekolah. Dibuka perlahan dan matanya tampak mencari-cari sesuatu di dalamnya. Tapi ia menggeleng. Zuck menduga mungkin isinya poundsterling semua, sehingga tidak laku digunakan di toko kecil seperti itu. Dompet itu kembali ditutup dan diletakkan begitu saja di antara tumpukan snack. Cewek itu merogoh tas sekali lagi mengambil dompet cadangan. Dari dompet ke dua itulah, ia berhasil mengambil selembar uang dan diserahkan ke pemilik toko.

Setelah pulsanya terisi, ia tampak menghubungi seseorang, berbicara, tertawa-tawa, dan Zuck tidak sudi memperhatikannya lagi. Bodo amat! Nasibnya sendiri masih belum jelas. Waktu kuliah tinggal tidak sampai setengah jam, sementara ia masih bengong di pinggir jalan menanti ban bocornya ditambal.

Zuck LinnBaca cerita ini secara GRATIS!