Prolog

9.8K 739 195


THIS STORY AND ITS CHARACTERS AND PLACES ARE BASED ON MY VERY, OWN IMAGINATION. DO NOT COPY IN ANY MEANS. I CREATED MY OWN COVER AS WELL AS THE ILLUSTRATIONS.

KISAH INI DENGAN KARAKTER SERTA TEMPATNYA BERDASAR DARI IMAJINASI SAYA SENDIRI, DILARANG KERAS MENJIPLAK DENGAN ALASAN APAPUN.


*

*

Fantasia Cosmo adalah dunia para mahluk fantasi. Dunia ini terdiri atas dua benua yang terpecah menjadi dua dan membentuk dua buah sayap malaikat yang membentang ke timur dan barat. Benua timur, atau East Wing, merupakan tempat para 'Mahluk Baik'-begitulah istilahnya bagi para peri, elf, manusia kucing, putri duyung, dan mahluk lainnya. Sedangkan Benua barat, atau West Wing, adalah tempat para mahluk kegelapan, seperti vampir, iblis, penyihir, dan manusia serigala.

Ada berbagai macam mahluk dengan berbagai bentuk dan kekuatan. Bahkan, ada lebih dari ratusan spesies yang masih tidak diketahui.

Salah satunya kami, para hellbender.

Hidup selama lima belas tahun di desa terpencil bernama Noreville bersama kakakku, George, sempat memisahkan kami dari kehidupan kaum kami yang sangat tersembunyi. Tetapi takdir menyatukan kami kembali, takdir yang mengikutsertakan campur tangan kekuatan Ratu kami, Ratu Azelia Gwyneth. Beliau memimpin kami di dalam sebuah balairung bawah tanah dari batu pualam putih yang menyala bagai silau timbunan emas. Mereka menjuluki tempat ini Suaka Cahaya, atau Light Asylum. Cahaya yang menguar dari permukaan licinnya menerangi kami sepanjang waktu, menjadi pengganti langit dan matahari di kehidupan kami yang terkungkung.

Suaka Cahaya seakan menjadi ikon golongan kami yang memiliki rambut bercahaya dalam warna-warna beragam. Karena jumlah kami hanya sejumlah ratusan saja sekarang, aku mengenali semua masyarakat Hellbender yang hidup bersamaku. Balairung Suaka selalu diliputi paduan corak aneka warna dari rambut-rambut indah yang dahulu kupikir hanya dimiliki George dan aku. Hari selalu dimeriahkan oleh cengkrama para peri neraka yang bertengger di pelataran rumah-rumah kotak mereka, kadang mengenai kelakar yang heboh hingga aku melupakan fakta bahwa kami adalah korban peperangan dahsyat di masa lalu, kadang mengenai sejarah kami, kadang juga tentang ... para penyihir.

Kedatangan Pangeran Penyihir itu sempat menuai kontroversi yang masih menderu di telingaku hingga sekarang. Meski sang Pemimpin West itu telah mengibarkan bendera putih, tak jarang aku mendapati seringai keraguan dari yang lain. Tetapi sudah lima tahun semenjak Zveon terakhir berada di sini.

Semenjak kami terakhir bertemu.

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Tak hanya umurku yang kini telah genap mencapai dua puluh, tetapi juga pengalaman berharga yang kudapatkan selama aku menjalani masa remajaku di sini.

Azelia pernah berkata padaku-ia marah jika aku memanggilnya Bibi-hellbender sekarang bukanlah hellbender yang sama semenjak Ekspedisi Neraka itu terjadi. Aku sempat heran mengapa pasukan Enigma dapat memberantas sebagian besar ras kami dengan lancar. Aku meminta penjelasan dari para tetua hellbender yang menjadi saksi hidup, bahkan aku sempat menggeledah seluruh artikulasi dan pustaka yang mencatat sejarah kami, hingga aku menemukan jawaban yang konkret. Rupanya, dahulu tak semua hellbender mengasah kemampuan sihir dahsyat mereka. Hanya para perwira dan keturunan kerajaan saja yang mendapat kesempatan untuk melatih sihir luar biasa mereka. Ditambah lagi, pasukan Enigma menyerang di saat semua makhluk telah terlelap di dini hari.

Menelusuri keterpurukan bangsa kami, Azelia mewajibkan seluruh kaumnya, tanpa terkecuali, untuk melatih sihir kami dengan tekun. Ia bahkan membentuk kelompok-kelompok berlatih untuk rakyatnya agar yang terlemah dari kami sekalipun dapat membela diri dengan baik. Tak jarang aku melihatnya ikut serta dalam pelatihan kami, memeragakan berbagai jurus maut yang sangat ia kuasai. Aku mengakui kebijaksanaannya, walau terkadang ia bisa jadi sangat angkuh.

Azelia selalu mengawasiku, memastikan aku benar-benar mendapat pengajaran yang terbaik. Bagaimana tidak, bukankah aku yang akan menjadi penerusnya? Berlatih memang terasa seperti siksaan, tetapi kurasa ketangkasanku mengayunkan pedang dan berpacu dengan sihir menjadi pertanda yang baik untuk membuat Azelia bernapas lega.

Tetapi ...

Sudah puluhan kali aku berusaha menyindirnya. Dan aku tidak tahu apakah Azelia berpura-pura tidak mendengarkan, tuli, atau memang tidak peduli.

"Kapan kau akan membuka portal itu?"

Dengan atau tanpa imbuhan 'bibi', Azelia hanya akan menutup matanya sambil mendengus sinis. Aku tak pernah memaksanya untuk menjawab, karena itu akan melanggar batasanku sebagai rakyatnya yang patuh. Ia hanya akan menyibak untaian rambut violetnya, tak memedulikan tatapan mata oranyeku yang memancar gundah.

Di upayaku yang ke sekian, akhirnya aku menyadarinya.

Bahwa Azelia tidak akan pernah membuka portal itu.

Ia memang tidak peduli. Bahkan jika ia peduli, ia tak terlihat telah menampung kekuatan besar yang diperlukan untuk menciptakan celah pelangi itu kembali.

Aku hanya bisa menggigit bibir tiap kali Azelia memasang keangkuhannya itu. Dan sambil memeluk diri, aku meredam pahit sambil menghentikan segala desakan sia-sia itu. Aku tidak akan memberot terhadap Azelia seperti remaja yang memberontak. Ia tetap Ratuku, keluargaku, satu-satunya hubungan darah yang kumiliki. Dan aku memang bukan remaja lagi.

Aku sudah dewasa sekarang.

Banyak yang telah berubah dari diriku, aku yakin Ziella yang sekarang bukanlah Ziella yang dahulu. Sekuat tenaga aku ingin mengenyahkan masa laluku yang lemah itu. Rasa rindu terasa begitu membelit, tahun-tahun membuatnya seperti angan-angan mimpi buruk yang mencekam. Aku selalu menghitung hari, bulan, dan tahun. Menerka kapan celah pelangi itu muncul dan mendatangkan sosoknya yang kurindukan.

Tak peduli seberapa keras aku berusaha untuk menciptakan distraksi terhadap bayangan, bayangan itu selalu ada. Ia selalu menggelitikku dengan jalaran nyeri, bahkan tiap kali aku memejamkan mata.

Cincin Zveon masih teguh merangkai jari manisku, dengan lapisan perak putih yang paling berkilau dan kristal berkilat semerah darah. Tak rusak sedikitpun dan selalu terasa dingin di tulangku. Akhir-akhir ini aku sering mengelusnya.

Apakah ia merindukanku? Aku berpikir muram. Pertemuan kami tak ada bandingannya dengan lima tahun yang kulalui tanpanya. Ia terasa seperti sekelebat bayangan samar yang berlalu begitu saja, dan aku merasa seperti kehilangan akal ketika aku menantikan bayangan terkelam itu muncul di titik tercerah Suaka Cahaya. Aku tahu ia akan berubah, apapun yang dilaluinya selama lima tahun terakhir. Mungkin telah terjadi peperangan dahsyat yang aku sama sekali tidak tahu. Mungkin para pemberontak itu telah menggulingkan takhta. Mungkin kegelapan akhirnya telah mewarnai West seperti sediakala. Mungkin kawan-kawanku mati, dan aku hanya bisa menganggap mereka masih hidup. Mungkin aku tidak akan dapat melihat keagungan Fantasia Cosmo kembali.

Kemudian di antara konspirasi-konspirasi menakutkan itu, nalarku mulai menjernihkan segalanya. Aku berharap Fantasia Cosmo masih berjaya. Aku berharap kawan-kawanku baik-baik saja.

Keraguan mulai merayap di benakku, cukup untuk membuat quartz di dadaku berdetak resah. Dari segala perubahan yang mungkin terjadi di luar sana ...

Masihkah ia orang yang sama?

Dan satu hal lagi ...

Masihkah ia mencintaiku?

*

*

*

<bersambung>

Shine and Shadow (Dark and Light, #2)Baca cerita ini secara GRATIS!