Bab 14

6.4K 736 44

©Misscel

Jaejoong tersenyum, senang mendengar jawaban Yunho yang tidak meleset. Tidak menyangka bahwa pria itu mengingat tentang yang disukainya. Ada rasa terkesan karena hal kecil yang mampu menggetarkan hatinya. Sedikit malu juga dirasakan Jaejoong, pengakuan Yunho bahwa ia selalu menangis saat menonton ulang melempar kepada kenangan mereka dahulu.

Memang ia selalu tidak bisa menahan air mata karena drama itu sedih sekali. "Jadi kau ingat karena aku yang selalu menangis, begitu?" Tanya Jaejoong kepalanya dimiringkan dan menatap Yunho dengan wajah dibuat sekesal mungkin.

Pria itu terlihat gelagapan, wajah menawan yang membuat hatinya meletup-letup tergantikan dengan kepanikan. Namun tidak lama Yunho kembali tenang, "Tidak, tentu tidak. Aku ingat apa saja tentangmu."

Kening Jaejoong setengah terangkat, kemudian kembali mengetes pria itu."Apa saja yang aku sukai memangnya, hmm?"

Sejenak Yunho menarik napasnya, matanya menatap lamat wajah. Jaejoong dan mulai mengucapkan apa saja yang disukai wanita itu, "Kau suka Hello Kitty, makanan pedas, membuat kue, jalan-jalan, menonton drama, mengumpulkan banyak uang," Yunho tertawa sebentar lantas kembali melanjutkan, "Warna pink, mengomel, merajuk, dan yang terakhir suka sekali membuat aku jatuh berkali-kali ke dalam pesonamu."

Sungguh Jaejoong terkejut dengan kalimat terakhir Yunho. Ia mengulum senang dan membenarkan rambutnya yang mengganggu. Menggigit sedikit bibirnya, lalu membalas tatapan Yunho dengan intens. "Mengomel dan merajuk bukan yang aku sukai, kenapa kau memasukkannya ke dalam daftar yang aku sukai? Kau jahat sekali," ujarnya dengan suara yang terdengar kesal.

"Hey, itu memang benar kau suka mengomeliku, dan merajuk sepeti Jihyun. Jadi kau tidak menyangkali bahwa suka sekali membuatku terpesona, iya kan?" Yunho tersenyum, ia mulai melancarkan aksi gombalnya, lagi.

Nah, Jaejoong menjadi kikuk karena itu. Ia mengerjap beberapa kali namun tidak mengalihkan pandangan ke arah lain. "Apa kau merasa jatuh ke dalam pesonanya sangat sering? 5 tahun kau tidak bersamaku mana mungkin bisa jatuh..."

"Sayang, Jae dengar, aku memang bodoh lima tahun lalu. Tapi aku sudah menyadari bahwa wanita yang kuinginkan satu-satunya memang hanya kau. Bersama denganmu seperti kembali ke rumah yang sebenarnya. Rumahku adalah kau," sela Yunho, ia bergerak memindah posisi untuk lebih condong kepada Jaejoong.

Jaejoong terdiam, cukup terpana dengan kalimat Yunho. Ia rumah pria itu? Manis. Tapi ia tidak ingin dijadikan rumah singgah. "Jika aku rumah bagimu, maka aku tidak mengizinkan kau untuk keluar dari rumahmu lagi. Kau tahu, tidak akan ada tempat lagi jika kau kembali meninggalkanku," sangat terang-terangan dan tegas. Jaejoong tidak ingin berbasa basi yang membuat semua tidak jelas. Obrolan mereka mengalir meski terkesan sedikit kaku tapi suasana canggung sudah lebih baik.

Tatapan mata setajam musang Yunho menghujam mata besar Jaejoong. Perlahan ia beringsut mendekat kepada wanita itu, hingga tidak menyisakan jarak diantara mereka. Yunho memberanikan diri menggenggam tangan Jaejoong yang ada di atas pahanya. "Aku tahu, Sayang. Dan aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, hukum aku seberat-beratnya jika melakukan hal yang sama kepadamu. Yang aku perlukan hanya lah kau, dan tentu saja buah hati kita, Jihyun. Kalian berdua adalah yang paling berharga. Jihyun adalah kebanggaan kita yang paling nyata. Dan aku ingin memilikimu sekali lagi jika kau mengizinkannya. Aku ingin kita kembali seperti dahulu, kembali menjadi pasangan yang bahagia dan selalu bersama hingga nanti."

Ini adalah saat yang tepat bagi Yunho mengutarakan perasaan sesungguhnya kepada Jaejoong. Berharap bahwa Jaejoong membolehkannya untuk kembali memiliki Jaejoong. Paham bahwa semua bertahap, setidaknya ia perlu jawaban dari semua. Perlu tanggapan bahwa ia memang satu-satunya pria yang akan ada dalam hidup Jaejoong.

Opportunity!Baca cerita ini secara GRATIS!