Chapter 11

56 12 2

Aku menuntun sepeda menuju lapangan, lalu memarkirkannya bersama-sama sepeda lain di antara pepohonan. Aku menengadah sambil memegangi ujung topi putihku. Awan bergulung-gulung hari ini. Apa akan turun hujan, ya? Refleks, aku tersenyum. Tapi, tak adil juga. Aku senang akan turun hujan, tapi anak-anak yang bertanding hari ini pasti akan kerepotan.

Lapangan masih sepi, baru ada beberapa anak perempuan di pinggir lapangan. Aku mengenali beberapa di antaranya—teman-teman sekelasku. Aku langsung mendekati mereka.

"Isna!"

Suara seruan Alya yang sedang berlari ke arahku membuat anak-anak cewek di pinggir lapangan menoleh. Waktu teman-teman sekelas melihatku, mereka melambaikan tangan, menyuruhku mendekat. Mungkin mereka sudah menyediakan tempat untukku.

Alya menggamit lenganku, lalu langsung menarikku. Kali ini kami tidak duduk di belakang gawang. Kami kapok pada bola nyasar yang nyaris mengenai kami tiap kami duduk di sana.

"Akhirnya, pertandingan pertama," seru Alya. "Untung hasil undiannya ... tim kita bakal melawan tim sesama daerah Sleman. Bisa repot kalau kita mesti jauh-jauh ke Kodya atau Bantul."

Aku mengangguk setuju. Aku mungkin tidak akan datang kalau tempat pertandingannya kejauhan.

Aku mengamati sekeliling. Orang-orang mulai berdatangan, begitu pula tim sekolah kami. Sepertinya mereka langsung datang dari sekolah. Mataku membulat saat tak menemukan Mas Irul di antara mereka. Apa dia tak ikut bertanding?

Tidak hanya aku yang sadar dengan kejanggalan itu. Sebab, kasak-kusuk di antara teman-temanku makin menjadi. Aku menoleh pada Alya. Belum sempat aku tanya, anak itu sudah berdiri.

"Bentar, ya. Aku mau tanya ke tim bola dulu."

Aku mengerti maksudnya. Pasti dia juga sadar kalau Mas Irul tidak ada. Lagi pula, dia kan nonton pertandingan ini untuk cari berita, bukan cuma sekadar nonton.

"Ih, Alya nyari-nyari kesempatan, deh," ledek Uut. "Pasti cuma mau caper sama anak-anak tim bola."

"Iya, Ut, iya," dengus Alya kesal. "Aku emang nyari-nyari kesempatan ... buat ngumpulin berita."

"Ih, ngeles."

Alya mengangkat dagunya angkuh, lalu berlari ke arah tim bola. Kami langsung tertawa melihatnya. Sekarang, sebelahku kosong. Aku menoleh ke arah Uut. Heran karena dia sering sekali adu mulut dengan Alya, walaupun hanya sekadar candaan.

"Kamu ini demen banget sih, ngerjain Alya," kata Rini sambil mendengus geli.

"Biarin. Enak sih ngerjain dia."

Teman-teman yang lain tertawa, kemudian mengiyakan. Aku tersenyum hambar. Entah kenapa, rasanya aku sulit dekat dengan mereka seperti aku dekat dengan Alya. Mungkin gara-gara Alya tahu masalahku. Mungkin gara-gara aku tahu masalah Alya. Sementara aku tidak tahu banyak soal teman-teman yang lain.

Aku menoleh ke arah tim bola, melihat Alya sedang ngobrol dengan mereka. Lalu, perhatianku teralihkan oleh seseorang berseragam biru-putih-hitam yang naik sepeda BMX yang dipasangi boncengan. Kali ini, ada seseorang yang duduk di boncengan itu sambil membawa kruk dengan tangan kirinya. Jadi, tadi Mas Irul jemput Mas Aji dulu?

Aku jadi ingat lagi kata-kata Mas Irul waktu dulu aku dibonceng pulang olehnya.

Biasanya, aku nggak pulang sendirian, makanya sepedanya kupasangi boncengan.

Waktu berangkat sekolah juga, dia sempat belok dulu ke jalan dusun, kan? Apa jangan-jangan selama ini dia selalu antar-jemput Mas Aji ke sekolah, ya? Aku mendengus geli. Ternyata dia tidak sekejam itu. Ada juga sisi baiknya.

The White Hat [COMPLETED]Read this story for FREE!