09-Mantan Dirinya

8.6K 818 83

(Namakamu) langsung berhenti ngunyah pas tau apa maksud dari perkataan papa-nya. Dia memandang tajam kearah Ari yang juga kaget dengerin penuturan Ayahnya itu.

"Maksud kalian, (Namakamu) dijodohin gitu?" Tanya Ari mencoba untuk santai, dan pertanyaan itu langsung dibalas anggukkan santai dari kedua orang tuanya yang sedang makan itu.

Ari langsung bergidik ngeri. Ada untungnya menjadi anak sulung, selain bisa ngatur Adek nya sesuka hati--walaupun (Namakamu) gak pernah nurut---Tapi juga bisa selamat dari yang namanya jodoh-jodohan.

"Ma, please deh, punpun masih kelas 1 es-em-aa! Masa iya habis SMA langsung nikah, ihh nyebelin!" Celetuk (Namakamu) dengan wajah yang sangat kesal.

(Namakamu) sengaja memanggil dirinya 'Punpun' agar kedua orang tua mereka luluh dan jodoh-jodohan gak akan jadi momok pengantar tidur bagi (Namakamu). Tapi salah, orang tua (Namakamu) malah ketawa kecil.

"Kamu pasti suka kok sama orangnya, percaya deh!" Seru mama-nya semangat. Namun (Namakamu) malah meletakkan garpu dan sendok secara bersamaan, lalu berlari kekamarnya.

°°°°

Iqbaal menyentik ujung rokok lalu kembali menghisapnya. Lalu setelahnya Iqbaal menatap luas kearah ladang besar yang tengah ia duduki itu. Rumput beserta bunga kecil itu sedikit membuatnya geli, namun ia harus stay cool.

Kan gak lucu kalau Iqbaal ketawa sendiri di ladang, trus pas ditanya alasannya apa, Iqbaal bilang:

'Tanya sama Rumput, Dia yang gelitikin gue, mau apa lo?!'

Duh, bisa-bisa orang yang nanyain Iqbaal bakalan dibikin babak belur cuma karena nganggap Iqbaal gak waras.

"Dasar keluarga aneh." Desis Iqbaal pelan yang hanya dapat didengar angin, juga rumput yang masih bergoyang.

Kalau tau begini, Iqbaal berharap malam itu orang tuanya tidak usah pulang. Malam dimana seharusnya ulang tahun adiknya dirayakan malah menjadi malam yang harus Iqbaal benci. Malam dimana seharusnya Tila tertawa bahagia karena mendapat ucapan ulang tahun dan kado yang berlimpah. Tapi semua itu sudah tidak terjadi.

Iqbaal mengaku, dia memang salah. Salah karena menjadi anak yang tidak tau balas budi. Tapi tidak begini caranya agar bisa balas budi orang tua. Iqbaal punya kriteria sendiri untuk gadis idamannya, dan orang tua Iqbaal tidak berhak untuk mengatur siapa jodoh Iqbaal, kelak.

Ya, Iqbaal dijodohkan. Dan itu dengan orang yang Iqbaal tidak kenal. Sama sekali.

Iqbaal lebih memilih untuk memejamkan matanya, sambil menyesap rokok itu berkali-kali. Me-relax kan diri, ingin melupakan ini semua. Namun...

"TAIIIII!!!!!"

Jeritan melengking khas wanita itu seketika menghancurkan mood Iqbaal, untuk yang kesekian kalinya. Iqbaal mengepalkan tangannya, menahan emosi yang sudah memuncak dan berapi api diatas kepalanya.

"WOI! GILA APA LO TERIAK---" Bentakkan Iqbaal terhenti saat mengetahui siapa yang teriak gak jelas itu.

Siapa lagi kalau bukan, si unyu (Namakamu).

Tanpa memperdulikan pria yang sempat mengatakannya gila, (Namakamu) kembali mengambil nafas, dan..

"Gue udah baik banget sama mama papa, tapi Kenapa? KENAPA MEREKA JAHAT BANGET SIH SAMA GUE?!" (Namakamu) menakutkan jika sudah teriak gak jelas gini.

"INI BUKAN JAMAN SITI NURBAYA! DUH" Teriak (Namakamu) yang kali ini tidak membuat Iqbaal berfikir ulang untuk melempari (Namakamu) Tai kucing yang berada tak jauh dari Iqbaal.

'Dia dijodohin juga?' Batin Iqbaal bertanya, dan jelas hanya Iqbaal sendiri yang bisa menjawab. Jika Iqbaal tidak membatin, kali aja rumput yang bergoyang bisa menjawabnya.

Chainsmokers Baca cerita ini secara GRATIS!