One

3.5K 206 21

E N G A G E D

[First Name] terus memperhatikan cincin di jari manisnya dengan senyum terkulum. Cincin itu bukan sesuatu yang mewah, bahkan cincin perak itu hanya bertahtakan batu safir kecil di tengahnya tanpa ada hiasan apapun. Namun, bukan itu yang menjadi fokus [First Name]. Cincin yang melingkar di jari manisnya ini benar-benar mengingatkan [First Name] pada pemberinya. Batu safirnya terlihat seperti iris mata seseorang, cincinnya yang bersih tanpa ornamen memperlihatkan kesederhaan dan malas untuk mengukir dalam waktu yang bersamaan. Menggambarkan seorang Shuu Sakamaki.

Ya, cincin itu pemberian Shuu bersamaan dengan janji untuk selalu berada di sampingnya. Memang sebelumnya sudah ada janji yang tidak terucap di antara mereka berdua untuk tetap saling memiliki selamanya, bahkan [First Name] juga tidak menyangka Shuu merepotkan dirinya sendiri untuk membeli cincin ini. Membayangkan perjuangan Shuu untuknya membuat [First Name] tidak bisa menahan senyum lebih lama.

“Memandangi cincinmu lagi, eh?” suara setengah mengantuk itu memaksa [First Name] mengalihkan pandangan dari cincinnya. Senyumnya melebar menyadari tunangannya berdiri di depan pintu kamar dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

“Shuu!”

“Tch. Berisik,” Shuu menjauhkan diri dari pintu dan berbaring di atas kasur [First Name]. Kedua matanya kembali terpejam seakan siap untuk kembali tenggelam dalam tidurnya.

[First Name] beranjak dari tempatnya duduk di dekat jendela lalu berdiri di tepi tempat tidur. Matanya terfokus pada Shuu. Helaian rambut pirangnya yang membingkai wajah Shuu dengan baik, iris mata sebiru lautan yang mampu membuat [First Name] tenggelam di dalamnya, tulang pipi yang tinggi. Bahunya yang bidang, telinganya yang hampir setiap waktu disumbat oleh earphone, semuanya terlihat begitu sempurna. [First Name] begitu terfokus pada Shuu sampai tidak menyadari kalau objek pandangannya sudah membuka mata.

“Sampai berapa lama kau hanya akan berdiri di sana?” suara Shuu membuatnya terkejut. [First Name] tersadar dari lamunannya dan memilih untuk membaringkan dirinya di sebelah Shuu, toh ini juga kasur miliknya. “Begitu lebih baik.”

Tidak ada yang berbicara. Shuu kembali memejamkan mata dan [First Name] menyibukkan diri dengan memainkan kancing sweater milik Shuu. Saat melihat pantulan sinar bulan dari cincinnya, [First Name] kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Apa yang kau pikirkan?” tanpa membuka kedua matanya Shuu membawa [First Name] lebih dekat padanya, tangannya menyibak rambut yang menutupi wajah [First Name].

[First Name] terdiam sejenak. Matanya kembali memandangi Shuu dalam diam lalu menghela nafas panjang ketika sudah menemukan kata yang cocok untuk diucapkan. “Kenapa sampai bersusah payah untuk membelikan cincin? Kita berdua tahu bagaimana perasaanku padamu. Dengan atau tanpa cincin, aku tetap mencintaimu.”

Shuu mengerang seperti baru saja dihadapi dengan pertanyaan yang sangat sulit. Sebelah matanya terbuka, menatap gadisnya dengan kesal walaupun [First Name] bisa melihat sirat kelembutan di iris mata biru itu. Tangannya yang memeluk punggung [First Name] bergerak konstan naik turun. Sepertinya pertanyaan [First Name] terdengar terlalu sulit untuknya.

“Karena kau pantas mendapatkannya,” jawab Shuu. Nada bicaranya memang masih belum berubah, malas dan setengah mengantuk. Namun, [First Name] bisa mendengar ketegasan dalam jawabannya.

Senyuman lebar terlihat di wajah [First Name], pipinya memerah mendengar jawaban Shuu sampai harus menenggelamkan wajahnya di sweater tunangannya agar ia tidak bisa menggoda [First Name]. Namun, keinginan [First Name] tidak terkabul. Mendengar Shuu terkekeh pelan lalu mendengus, sepertinya vampir itu mengetahui wajahnya yang memerah.

Sekali lagi, keheningan mendominasi kamar tidur [First Name]. Jelas sudah menjadi petunjuk untuk [First Name] agar mengikuti jejak Shuu yang hampir tertidur, tetapi rasa bahagia dan bayangan tentang masa depan memaksanya untuk tetap terjaga. Matanya menangkap earphone yang menyumbat telinga Shuu dan mengalunkan dentingan piano. Tiba-tiba saja ia mendapatkan ide agar bisa tertidur.

“Hey, Shuu?” panggil [First Name] dengan suara perlahan.

“Hmm?” Shuu bisa saja mengabaikannya dan berpura-pura tertidur, tetapi ia memilih untuk menyahut walaupun nadanya terdengar kesal. Menyadari hal ini, [First Name] lagi-lagi harus menahan senyum.

“Karena kau sangat mencintaiku-”

Sebelah mata Shuu terbuka. “Aku tidak pernah berkata seperti itu.”

“Karena kau sangat mencintaiku,” ulang [First Name] mengabaikan ucapan Shuu yang menatapnya penasaran setengah kesal. “Boleh aku meminjam sebelah earphone-mu?”

Shuu mengerang untuk yang kedua kalinya. Ia memejamkan matanya tanpa melirik [First Name] lagi. Berpikir kalau Shuu tidak ingin meminjamkan sebelah earphonenya, [First Name] menghela nafas lalu berusaha untuk tidur. Ia terkejut saat mendengar suara piano dan biola menggema di telinga [First Name]. Begitu ia membuka mata, Shuu masih tetap terpejam tetapi salah satu earphonenya menyumbat telinga [First Name]. Untuk yang kesekian kalinya, [First Name] tersenyum menyadari Shuu selalu bisa memukaunya dengan gestur ringan.

“Selamat tidur, Shuu.”

Tidak ada balasan yang berarti dari Shuu. Ia hanya mempererat pelukannya pada pinggang [First Name]. Perlahan tapi pasti suara piano yang menyatu dengan biola membuat [First Name] mengantuk. Cengkeramannya pada sweater Shuu semakin mengendur. Ia tidak menyadari Shuu masih terbangun.

“Kau pantas mendapatkan perjuanganku, gadis naif,” Shuu menyibak rambut [First Name] lalu memainkannya. Sesekali bibir Shuu beradu dengan dahi [First Name]. “Kau adalah keabadianku. Cincin itu hanya simbol untuk membuatmu bahagia. Bertanggung jawablah karena sudah membuatku merasa seperti ini.”

Yeay, akhirnya setelah berhari-hari writers block, aku dapat ide buat bikin si vampir malas ini.

Ini fic perdanaku yang bercerita soal Shuu. Gimana menurut kalian? Harus di lanjut atau dihapus?

The Oldest's BrideBaca cerita ini secara GRATIS!