1. in train

297 13 7

Bagiku alat transportasi ternyaman untuk digunakan bepergian adalah kereta api. Tak perlu khawatir si sopir ugal-ugalan atau tiba-tiba ada kendaraan lain yang tanpa etika main salip ataupun potong jalan seenaknya. Tak perlu takut karena terlalu melaju cepat dan juga tak perlu khawatir tak tepat waktu karena berjalan lambat.

Secara teknis bukan berarti tidak pernah telat tapi sangat jarang sekali si "ular baja" itu bermasalah dalam perjalanan. Dan yang terpenting, aku aman dari gangguan yang sulit ku atasi, yaitu mabuk kendaraan.

Dari seringnya naik kereta api yang notabenenya hampir setiap minggu, bisa dikatakan aku hampir saja hafal jadwal kereta api tujuan Jember-Banyuwangi maupun Banyuwangi-Jember.

Bagaimana tidak, aku tinggal di Jember tapi bekerja di Banyuwangi. Kedua kota itu sama-sama berada di Jawa Timur yang hanya membutuhkan waktu tempuh selama tiga jam. Untuk bisa mendapatkan izin bekerja di Kota Gandrung itu aku harus memenuhi beberapa syarat dari orang tuaku yang mau tidak mau harus aku turuti.

Jujur saja aku sudah bosan sejak lahir hingga lulus kuliah aku sangat sulit sekali mendapatkan izin untuk pergi keluar kota tanpa orang tua atau keluarga.

Seingatku, aku hanya dua kali dalam hidupku bisa pergi meninggalkan kota kelahiranku bersama teman-teman ku.

Yang pertama, sewaktu di bangku SMA setelah merayu ayah habis-habisan akhirnya aku di izinkan ikut study tour yang diadakan sekolah hanya dua hari satu malam. Berangkat hari ini, pulang keesokan harinya. Tapi rasanya aku bahagia sekali. Pokoknya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lebay ya.

Yang kedua, di semester akhir kuliahku yang menguras waktu untuk menyusun skripsi aku bisa mendapatkan izin dari ayah yang terbilang mudah untuk pergi ke Malang mencari buku-buku referensi untuk skripsi ku.

Dan untuk bisa bekerja di luar kota tentu aku harus mengantongi berbagai persyaratan dari ayah dan ibu. Jangan tanya apa saja karena bisa jadi satu buku.

Yang terpenting adalah aku harus tinggal di rumah tante Yuli -adik ibu- yang tinggal di Banyuwangi. Aku harus pulang setiap weekend. Harus pulang kerja tepat waktu yang artinya no hang out with friends.

Setelah aku iyakan akhirnya disinilah aku setiap weekend menunggu si "ular baja" untuk mengantarkan aku pulang ke Jember atau balik ke Banyuwangi.

Hari ini hari Minggu, aku sedang menunggu kereta pandanwangi yang akan membawa ku kembali ke kota tempatku mengais rejeki.

***°°°***

Tiap kali berada di tempat ini otak ku seperti secara otomatis memutar setiap moment yang terjadi selama dua tahun ini. Moment yang bisa membuatku tersenyum sekaligus merasakan sakit yang teramat sangat. Sudah satu tahun berlalu tapi rasa sakitnya masih juga sama.

Aku memandangi kursi kosong di depan ku. Kursi tunggu penumpang tempat dia duduk pertama kali aku melihatnya.

Saat itu aku bersama penumpang lain sedang menunggu kereta yang terlambat berangkat. Menurut informasi pihak stasiun butuh waktu paling cepat setengah jam untuk memperbaiki entah kerusakan atau apa pun itu aku kurang mengerti.

Saat itulah mataku menangkap sosok berbalut kaos putih yang melekat sempurna ditubuh sosok itu.

Entah apa yang membuatnya terlihat begitu menarik di mataku. Dengan kaos putih ketat dan celana jeans selutut serta sandal jepit sudah cukup membuat mataku tak bisa beralih darinya.

Bukan karena dia amat sangat tampan. Sungguh dia tidak setampan itu. Dia memiliki kulit kuning langsat yang bersih. Rambutnya lurus agak panjang tersisir tidak rapi. Yang paling kusukai adalah postur tubuhnya yang tinggi tegap dengan berat badan yang ideal menurut ku.

SPACEBaca cerita ini secara GRATIS!