Aku terus menelusuri jalan yang menuju kerumahku. Disaat seperti inilah, rasa hampaku mulai kambuh dan pikiranku mulai memudar. Namun dari kejauhan, aku melihat seorang gadis berdiri menatapku diantara pejalan kaki yang berlalu lalang. Gadis itu menatapku dengan tatapan kosong. Fokusku kembali berkumpul dalam otakku dan sekarang tertuju pada gadis itu. Tanpa sadar langkahku terhenti dan aku menatap gadis itu lekat. Tak lama, tatapan itu meredup dan ia tersenyum tipis kearahku. Butuh waktu lama untuk menyadari bahwa gadis itu mirip denganku. Dari segi pakaian ia memakai seragam SMP yang sama denganku, tas sekolah, model rambutku dan bahkan buku yang sedang kubawa dalam dekapanku. Aku terngaga sesaat namun gadis itu sudah lenyap dalam sekejap. Aku mengerjap saat menyadari bahwa gadis itu sudah tidak ada ditempat. Kuedarkan pandangan disekelilingku namun aku tidak menangkap sosoknya sedikitpun. Aku kembali melangkah pulang kerumah dengan tergesa-gesa.

Sesampainya dirumah, aku langsung menghempaskan diri ditempat tidur, terlentang sambil menatap langit-langit kamar yang pucat. Dapat kurasakan nafasku yang tak beraturan.

"Apa itu tadi ? Gadis itu—" Aku meremas-remas rambutku saat dirinya kembali terlintas dalam benakku. "Dia sangat mirip denganku. Tapi—" Ada banyak hal yang mulai tidak aku pahami. Apa aku sedang berhalusinasi?

BRUKK !!

Tubuhku menegang saat seseorang membanting diri ditempat tidur tepatnya diatas kepalaku. Aku mendongakan kepalaku perlahan dan ia juga mendongakan kepalanya. Mata kami bertemu namun tatapannya tidak senanar tatapanku.

Gadis itu! Aku melompat saat kesadaranku menguasaiku sepenuhnya. "Siapa kau?" Aku menjerit.

Gadis itu hanya tersenyum melihat reaksiku. "Aku adalah dirimu."

"Apa maksudmu?"

"Ririn!" Teriak ibu dari ruang tengah. "Sedang apa kau? Sedang bicara dengan siapa?"

Gadis itu tersenyum mengejek saat mendengar pertanyaan ibu dari luar sana.

"Eh-hmm-aku—aku sedang menghayati dialog untuk pentas drama disekolah nanti bu." Teriaku terbata.

"Kecilkan suaramu atau ayahmu akan marah jika tidurnya terganggu." Ibu menimpali jawabanku.

"Iya bu. Aku akan mengecil suara. Maaf kalau aku mengganggu." Ucapku lagi.

Kini aku hanya menatap gadis itu. Seringainya mulai memudar dan kini ia bangkit dan mendekatiku.

"Jangan mendekat! Atau kau akan terkena masalah." Ancamku sambil melangkah mundur.

Gadis itu tersenyum. Dan mirisnya lagi, senyuman itu sama seperti senyumanku. Ia berhenti sejenak lalu mengulurkan tangannya. "Sentuh aku."

Aku menatap tangan itu sejenak. "Tidak mau."

"Kenapa? Kau takut?"

Aku hanya menggelengkan kepala dengan gugup. "Pokoknya tidak mau!"

"Aku adalah dirimu. Apa yang salah?"

Aku menatap gadis itu dari atas hingga bawah dan mataku tertuju pada kakinya. "Meskipun kau mirip denganku, tapi kakiku tidak mengambang sepertimu."

Gadis itu menatap kakinya sejenak lalu tersenyum. Kakinya menapak lantai seketika. "Sekarang kita sudah sama kan?" Gadis itu kembali tersenyum. "Sekarang sentuh aku."

Butuh waktu beberapa menit untuk menentukan pilihan dan perang batinpun dimulai. Akal sehatku menolak untuk menyentuhnya tapi rasa penasaranku memaksaku. Hingga akhirnya aku mencoba mengulurkan tangan dengan ragu. Tanganku sedikit bergetar namun aku mencoba untuk tetap meraihnya.

Ujung jari kami mulai bersentuhan dan tangan kami saling bertautan. Tubuhku mengejang dan aku seperti terseret kedalam lorong gelap. Gadis itu membawa pikiranku. Ya, ia mencoba mempermainkan pikiranku. Akal sehatku mencoba untuk memberontak dan menyuruhku untuk sadarkan diri, namun pikiranku tetap melesat kedalam kegelapan. Sebuah cahaya mulai terlihat dari ujung sana dan aku melaju kearahnya.

Aku melihat seorang gadis jatuh ke danau dari ketinggian. Gadis itu mirip sekali denganku, namun ia lebih dewasa dari aku yang sekarang. Aku sempat berpikir, apakah dia ingin menunjukan masa depanku? Aku akan terjatuh dari ketinggian kesebuah danau? Apa ini sebuah ramalan bahwa aku akan tewas dengan cara seperti itu? Berbagai macam pertanyaan negatif muncul dalam benakku.

Lalu aku melihat gadis lain entah siapapun itu tergantung dibawah pohon. Gadis itu tampak sekarat dengan leher tercekik oleh seutas tali. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Kenapa ia menunjukkan hal-hal seperti ini?

Pemandangan disekitarku mulai berubah dan kini aku berada disebuah kota. Kota yang sama sekali aku tidak tahu. Kota itu dihuni oleh makhluk aneh tapi diantaranya ada yang mirip Manusia tapi mereka agak berbeda dengan Manusia pada umumnya. Pergerakan mereka begitu kaku seperti boneka kayu, tapi ada juga yang sudah bergerak sempurna seperti Manusia. Aku mencoba memahami gambaran apa yang berada dihadapanku.

Gambaran demi gambaran yang sama sudah kulewati setiap kali aku menyentuhnya hingga aku mulai terbiasa dengannya. Meskipun begitu, aku tetap tidak paham dengan apa yang ia perlihatkan padaku. Setiap kali aku bertanya apa maksud dari gambaran itu, kota apa itu? Siapa gadis itu yang tergantung dibawah pohon itu? Tapi gadis itu selalu tersenyum sambil menjawab "Kau akan tahu dengan sendirinya."

Yap, begitulah hidupku sejak bertemu dengan gadis itu hingga aku menduduki bangku SMA kelas satu. Dia selalu membuatku penasaran dengan gambaran-gambaran yang sama hingga aku bosan dan tidak terlalu memperdulikannya.

Suatu ketika, gadis itu memintaku untuk menyentuhnya lagi. Tapi aku menolaknya. Aku dibuat frustasi oleh peristiwa yang saling berkelebat yang selalu ia tunjukan tanpa penjelasan. Selain itu karena aku bosan. Bosan dengan gadis yang tidak kukenal dalam gambaran itu dan bosan melihat pemandangan dikota itu. Hingga aku memberanikan diri untuk memakinya karena saking kesalnya.

"Siapa kau?"

"Kenapa kau selalu menanyakan hal yang pernah kujawab?"

"Aku tanya, siapa kau?" Tanyaku semakin kesal.

Gadis itu menghela nafas. "Sudah kubilang aku adalah dirimu."

"Apa maksudmu? Diriku yang mana?"

Gadis itu terdiam sejenak. "Berapa usiamu sekarang?"

Aku mengerutkan kening seketika. "Jika kau diriku, kau pasti tahu berapa usiaku sekarang."

Gadis itu tampak berpikir sejenak. "Oh ya. Kau masih duduk dibangku SMA kelas satu. Berarti usiamu baru lima belas tahun."

"Lalu?"

"Maaf aku terlalu cepat untuk memberitahumu." Gadis itu mengangkat bahunya. "Baiklah, tidak masalah. Aku akan memberi tahumu diusia yang tepat."

Emosiku memudar setiap kali dia menjawabku dengan lembut dan santai. "Memangnya diusia berapa?"

"Diusia yang sama dengan gadis yang kau lihat. Bersabarlah!" Gadis itu itu tersenyum lalu memelukku.

Tubuhnya begitu sejuk dan membuatku nyaman. Aku merasakan adanya diriku yang lain hadir dalam ragaku setiap kali ia memelukku. Entah kenapa sejak saat itu, hidupku mulai berubah. Biasanya rasa hampaku kambuh setiap aku sendirian. Tapi kini aku tidak merasakan betapa kosongnya jiwaku lagi karena ia selalu datang setiap kali aku sendirian. Kami bercakap-cakap seperti biasa layaknya seorang sahabat. Aku bisa tertawa dan merasakan betapa hidupnya diriku seperti biasanya saat bersama orang lain.

Yap, disitulah aku tahu bahawa ia tidak akan membiarkan diriku sendirian dalam kehampaan. Tapi aku juga menyadari bahwa gadis yang selalu datang dalam sendiriku ini tidak bisa dilihat oleh orang lain. Jadi aku selalu mencari tempat sepi setiap kali bertemu dengannya agar orang lain tidak menganggapku tidak waras karena dianggap berbicara dengan angin kosong.

Pikiranku terkadang melayang sejenak, membayangkan gadis yang terjatuh dari ketinggian itu. Jika dilihat sepertinya usia gadis itu berkepala dua. Berapapun itu, aku akan menunggunya. Yap, menunggu usiaku seumuran dengan gadis itu.

___Flashback End___

Yoiii Loizh 3 akhirnya muncul kawan.. Gimana untuk prolognya nih ? Mohon kritik dan sarannya yahh.. ^_^ Maaf kalo author masih Typo yahh.. :)

Jangan lupa votenya heheh.. :D

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!