Prolog

5.7K 439 81

Aku !

Aku tidak tahu siapa diriku. Semua yang aku rasakan begitu hampa dan kelam. Aku seolah-olah ditakdirkan menjadi makhluk dengan jiwa yang kosong meski akal sehatku masih bisa mengendalikan diriku. Begitulah hidupku sampai aku duduk dibangku SMP kelas dua. Saat aku mengikuti ujian semester kedua, aku merasakan ada yang aneh dengan diriku. Tubuhku menggigil, aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Aku merasa tidak demam ataupun mengalami tanda-tanda akan sakit, tapi aku menyadari tubuhku bergetar sementara aku tidak dalam keadaan kedinginan.

"Ririn ! Ada apa? Apa kau sakit?" Seseorang menyentuh dahiku yang baik-baik saja namun menurut orang lain tidak.

"Tidak. Aku tidak apa-apa." Jawabku sambil menepis tangan sahabatku, Viona Akins. "Kau tak perlu khawatir. Ini hanya menggigill biasa." Aku sengaja berbohong agar sambil berharap Viona tidak terlalu mencemaskan diriku meskipun sebenarnya aku sendiri juga khawatir.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dan tidak biasa merasuki diriku tanpa permisi. Aku hanya berharap semoga tidak terjadi suatu hal yang fatal terhadap diriku.

"Syukurlah. Tapi—jika kau merasa tidak enak badan kau bisa meminta izin untuk beristirahat." Viona meletakan buku mata pelajaran Biologinya di pangkuannya lalu menyentuh dahiku lagi lalu tangannya turun menyentuh leherku dengan mimik cemas yang tidak berubah. "Lehermu dingin sekali Ririn. Jangan paksakan dirimu untuk mengikuti ujian. Lagipula kau bisa mngikuti ujian susulan."

"Tidak perlu Viona. Aku baik-baik saja sungguh." Aku melepaskan tangan Viona dari leherku. Dan sekarang giliran tanganku yang kutempelkan keleherku dan—leherku benar-benar dingin.

"Sungguh?" Viona menatapku serius.

"Hey jangan pasanga wajah jelek seperti itu. Aku tidak apa-apa Viona." Aku mendorong pipinya lembut sambil tertawa ringan.

"Tetap saja aku khawatir. Tubuhmu menggigil seperti itu."

"Ah sudahlah. Dari pada kau mencemaskanku seperti itu, lebih baik kau baca lagi bukumu. Ingat, ujian dimulai sepuluh menit lagi. Jangan sampai kau tidak mempelajari catatan materi ujian."

"Ah baiklah baiklah. Dari pada itu kenapa kita tidak bekerja sama?"

Keningku mengerut seketika. "Kerja sama?"

"Iya. Kau pelajari materi dari halaman 4 sampai 12 dan aku akan mempelajari dari halaman 13 sampai 21." Viona mengangkat sebelah alisnya. "Kau tahu kerja sama yang kumaksud kan?"

"Oh jadi begitu." Aku mengangguk pertanda mengerti. "Tapi—apa kita bisa melakukannya didalam ruangan?"

"Tenang saja. Hari ini pengawas ujian adalah Pak Daniel dan Ibu Elena. Kau pasti sudah tahu apa yang akan terjadi jika mereka berdua bertemu." Viona mengedipkan sebelah matanya sambil menyeringai. "Ini akan menjadi ujian yang menyenangkan."

"Dari mana kau mengetahuinya ? Bukannya seorang siswa tidak boleh mengetahui jadwal pengawas ujian?"

"Sshht.." Viona menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. "Ini memang rahasia. Cukup kita yang tahu."

Aku menyeringai sambil mengacak-acak rambut Viona. "Kau atur sajalah permainanmu. Aku hanya menurut."

Viona balas menyeringai. "Dasar makhluk tidak punya pilihan!" Umpatnya.

* * *

Seusai ujian, aku dan Viona berpisah disebuah pertigaan karena rumah kami tidak searah. Ujian kali ini berjalan lancar sesuai rencana Viona. Aku melambaikan tangan pada Viona yang sudah berada diseberang jalan. Ia pun balas melambai. Menggigilku kini sudah menghilang dan leherku sudah kembali menghangat dan itu membuatku lega.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!