Prolog

26 1 3




07:00

Pip pip pip... Pip pip pip...

Alarm berbentuk robot dengan dua roda itu berbunyi dengan begitu berisiknya. Dia berlari berputar-putar mengelilingi kamar tidurku dengan hebohnya. Berusaha membangunkan di pemilik kamar dari alam mimpinya.

Aku menggeram dengan kesal. Sudah jam tujuh pagi lagi? Bukannya baru saja aku memejamkan mata? Kuambil bantalku dengan kesal. Kulemparkan bantal itu ke arah suara berisik yang mengganggu itu. Seketika, suara itu tertahan di bawah himpitan bantalku.

Ah! Damainya... Bisa tidur lagi sekarang, ujarku dalam hati.

Duk duk duk...

"Mas Al! Sudah jam tujuh ini loh. Bangun, Mas!"

Duk duk duk...

Suara cempreng dan logat medoknya Bi Yati. Gangguan macam apa lagi ini?!

"Iyaaaa! Sebentar. Sebentar lagi aku bangun kok, Bi!" seruku malas.

Padahal kepalaku masih menempel di atas kasur. Perlahan-lahan pikiranku semakin terlelap kembali.

Brak! Suara keras yang memekakkan telinga. Sontak aku langsung bangkit dari tempat tidurku. Mengira ada bom yang baru saja meledak di dalam kamarku.

Brak! Suara keras itu terdengar lagi. Kali ini aku sadar suara itu berasal dari pintu kamarku.

Oh! Not again!! gerutuku dalam hati.

Buru-buru aku menggapai pintu kamarku. Aku segera membukanya sebelum Bi Yati benar-benar merobohkan pintu kamarku seperti yang dia lakukan tiga minggu yang lalu. Begitu pintu itu terbuka lebar, sesosok wanita gempal muncul di baliknya, sedang mengangkat sebuah kursi plastik tinggi-tinggi, mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamarku.

"Ampun, Bi! Jangan dihancurin lagi dong pintunya. Bisa-bisa nanti malam aku tidur digigitin nyamuk lagi kalau pintunya gak bisa ditutup..." aku memelas sambil masih setengah tidur.

Bi Yati menurunkan kursi plastik itu perlahan-lahan ke lantai.

"Iya. Bibi tahu. Ini kan kursi plastik, Mas. Gak akan bisa bikin pintu bolong kayak martir yang kemarin ini Bibi pakai," ujarnya santai.

"Ih! Bibi kelewatan deh..." protesku

"Lah, siapa suruh waktu itu Mas Al enggak bangun-bangun sampai siang. Bibi kan khawatir. Ya Bibi dobrak saja pintunya."

"Aku kan sudah bilang. Aku ketiduran gara-gara mabuk habis pergi clubbing semalaman..." balasku gemas.

"Lah, ya mana Bibi tahu kalau Mas Al baru pulang subuh-subuh. Kalau Mas Al ternyata kenapa-kenapa gimana hayo? Bibi kan khawatir," katanya dengan sebal.

Bi Yati memang menggemaskan. Cuma dia yang begitu perhatian padaku sampai seperti ini. Serta-merta aku memeluknya sebagai tanda terima kasih. Puncak kepalanya bahkan tidak mencapai daguku.

"Bi Yati ngegemesin banget deeeehhhh..." godaku.Dia langsung mendorongku supaya melepaskan pelukan itu.

"Ih! Mas Al! Bau! Belum mandi!" protesnya, "Sudah ah, Bibi mau siapin sarapan dulu. Awas loh ya, jangan ngorok lagi. Ingat hari ini ada orang penting yang mau datang ke kantor kan?! Mas Al sendiri yang bilang enggak boleh sampai terlambat ke kantor. Ayo mandi sana!"

"Siap, Bi Yati!" kataku sambil menirukan gaya menghormat dalam baris-berbaris.

Aku tersenyum memandangi punggungnya ketika dia berbalik dari kamarku untuk kembali ke dapur. Bi Yati memang bukan orang tuaku. Tapi dia menyayangiku lebih daripada orang tuaku sendiri. Dia sudah bekerja di rumah ini sejak aku masih bayi. Dia yang merawat dan menjagaku sementara kedua orang tuaku selalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Kurasa, Bi Yati bahkan lebih mengenalku daripada kedua orang tuaku sendiri. Ironis. Sebuah ironi yang umum terjadi di kota metropolis seperti Jakarta ini.

Dusk from the PastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang