PROLOG

8K 438 30

Lucinda tidak bisa menahan diri ketika mendengar Enzo, sang suami, tak kunjung menampakkan diri. Tidak biasanya pria itu melanggar janji. Hari ini, mereka berencana menghabiskan malam bersama putri mereka yang baru berusia setahun. Wanita itu mulai merasa waswas akan sebuah prasangka; mungkinkah ada hal buruk yang terjadi hingga sang suami melanggar janji yang mereka sepakati?

Melirik ke ranjang, bayi Lucinda tertidur lelap. Setidaknya Lucinda bisa melihat wajah putrinya yang selalu mampu mengusir rasa jenuh yang Lucinda rasakan. Tidak pernah menyangka bahwa di pernikahan mereka yang terbilang baru seumur jagung, Enzo harus bergelut dengan dewan istana perihal elixer yang kian gencar menyerang kota-kota kecil yang terpisah dari kerajaan utama.

Menghela napas. Lucinda bangkit dan mulai merapikan kerutan di gaunnya. Bayi Lucinda pun mulai menggerakkan tangan, tanda si kecil akan terbangun.

Sigap. Lucinda segera menghampiri putrinya dan menggendong sembari menyanyikan lagu pengantar tidur. Biasanya, cara ini selalu berhasil membawa si kecil ke alam mimpi, namun kali ini lagu yang biasa Lucinda nyanyikan sama sekali tidak berpengaruh. Bayi itu mulai menangis.

Memeriksa kening, Lucinda tidak menangkap tanda-tanda bahwa si bayi terkena demam. Bayi itu pun sudah menyusu hingga tidak mungkin jika rasa laparlah penyebab putrinya mulai menangis.

"Sayang," kata Lucinda menenangkan. "Ada apa denganmu?"

Suara tangis semakin menjadi. Lucinda pun merasa takut. Dia mulai berlari ke kamar mertuanya, mengetuk pintu kamar dan baru berhenti ketika Amilia, sang mertua, keluar dari ruangan. "Ada apa?" tanyanya.

"Putriku...."

Tanpa perlu dijelaskan, Amilia sudah bisa menangkap maksud ucapan sang menantu. "Di mana Enzo?" Amilia mulai meraih sang cucu, memeriksa apakah ada sesuatu yang ganjil hingga bayi itu terus menangis.

"Dia masih belum pulang." Lucinda gemetar. Dia terus menggosok telapak tangannya. "Aku cemas."

"Astaga," keluh Amilia. "Putraku itu. Tak bisakah dia keluar dari dewan dan segala macam urusan kerajaan?" Wanita paruh baya itu mencoba menenangkan si bayi dengan cara menggendongnya. "Elixer itu juga. Apa salah kita hingga mereka begitu gelap mata ingin melenyapkan manusia?"

Mengabaikan komentar Amilia mengenai elixer, Lucinda berkata, "Hari sudah malam. Aku tidak mungkin berani meninggalkan rumah di saat seperti ini. Aku butuh tabib."

"Lucinda, putrimu baik-baik saja. Dia hanya sedikit rewel. Itu sudah biasa."

"Tetap saja," ucap Lucinda. "Aku khawatir."

Lucinda tidak pernah merasa seresah ini. Seolah akan mendapat kabar buruk. Lucinda bisa merasakannya; malam sunyi tanpa suara serangga ataupun binatang malam yang biasa hadir ketika surya telah lenyap, angin yang tak lagi berembus, dan tangis putrinya yang tidak kunjung reda. Ya dewa, ada apa ini? Lalu Enzo, suami tercinta itu juga belum pulang. Di saat seperti ini, dia seharusnya....

Terdengar suara gemuruh. Saat itu juga, Lucinda melirik sang mertua.

"Lucinda, sayang," kata Amilia. "Itu hanya guntur. Sudah biasa."

Merasa menantunya tidak menunjukkan gelagat menerima penjelasan sang mertua, akhirnya Amilia memutuskan untuk keluar. "Ini," kata Amilia sembari menyerahkan si bayi yang masih menangis ke gendongan Lucinda. "Aku akan memeriksanya."

Wanita itu pun pergi meninggalkan Lucinda dan bayinya di dalam ruangan.

Beberapa menit telah berlalu, namun sang ibu mertua tak kunjung menampakkan diri. Lucinda pun memutuskan untuk menyusul Amilia. Melewati lorong-lorong yang diterangi lilin, Lucinda bisa melihat bermacam lukisan yang terpajang di samping kanan dan kirinya; potret keluarga besar Enzo dan para sesepuh.

Black LilyBaca cerita ini secara GRATIS!