Part 14-Hari Baru

2.4K 223 2

Sarapan pagi ini Cellyn lakukan dengan Rain. Keempat sahabatnya sudah pulang subuh tadi. Cellyn harus terbiasa dengan kondisi seperti ini, hari-hari berat akan segera menyapanya. Sepupunya itu sangat beruntung menurut Cellyn. Kedua orangtua Rain masih menemani hidupnya, keluarganya masih utuh.

"Udah ya sedihnya, makan gih," kata Rain menyemangati.

Cellyn menggeleng pelan. "Gue nggak laper, nanti makan di sekolah aja."

"Nggak bisa gitu, pokoknya harus makan sekarang!" Rain segera mengoleskan selai kacang ke roti tawar di depan Cellyn. Rain memotong roti kecil-kecil dan menyuapkannya ke mullut Cellyn.

"Rain gue nggak laper, jangan paksa gue please."

Rain mengundurkan tangannya dan memakan sepoton roti itu. "Yaudah gue makan ya rotinya."

Selesai sarapan mereka berangkat sekolah bersama. Rain menurunkan Cellyn di depan SMA MERAH PUTIH. Sedangkan sekolahnya sendiri masih jauh, sekolah HARAPAN BANGSA.

Tetapi ada yang menarik perhatian Rain. Sepertinya gadis itu mengenal sosok yang kini membelakanginya. Cowok itu memakai baju sama seperti Cellyn. Postur tubuhnya mirip seseorang.

"Kevin?" tanya Rain kepada dirinya sendiri begitu cowok tadi masuk merangkul Cellyn ke dalam sekolahan.

"Ah tapi nggak mungkin itu Kevin. Lagipula cowok yang ganteng di sini kan banyak. Mungkin aja gue salah lihat."

Rain segera melajukan mobilnya menuju sekolah barunya. Sayangnya dia tidak salah, semua memang terjadi.

*****

Entah kenapa teman-teman Cellyn datang pagi sekali. Hampir satu kelas dan dirinya paling telat di antara mereka.

Gadis itu berjalan ke mejanya. Ketiga sahabatnya bahkan sudah duduk manis dengan beberapa lembar kertas.

"Lo udah ngerjain Cell?" tanya Edel tanpa melihat ke arahnya.

"Ngerjain apa?"

"Ya ampun Cell, tugas segini banyaknya lo nggak tau? Beneran nggak tau atau boong?" Katrina menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Gue beneran nggak tau," jawab Cellyn datar.

"Ini tuh tugas paling ualala seumur-umur. Banyaknya minta ampun, rel kereta aja kalah panjang sama tugas Pak Budi." Naya mondar-mandir sambil meminjam penghapus, pensil, bolpoin ke tempat Denin.

"Gue udah salinin buat lo Cell, tenang aja." Seperti malaikat, Denin menyerahkan lembaran yang sudah berisi jawaban itu ke tangan Cellyn.

"Gue tau kalau lo nggak mungkin ngerjain tugasnya. Jangan larut sama masalah terus ya." Denin mengacak pelan rambut Cellyn.

"Makasih Den. Tapi gue tetep nggak suka rambut gue lo acak-acak, asal lo tau, susah nyisirnya," Cellyn memang berusaha membuat senyuman, tetapi yang ada hanyalah wajah datarnya lagi.

"Cie gue meleleh tauk!" Katrina girang di belakang.

"Ih biasa aja tuh! Gue lebih so sweet sama Darrel!" Sergah Naya tidak terima.

"Lo udah baikan sama abang gue?" Cellyn memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat menghadap Naya.

Naya panik, dia kira Darrel memberitahu Cellyn kalau dia pulang. "Belom!" ketus Naya.

"Oh," jawab Cellyn datar.

Mereka absen Cellyn kembali menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia itu.

Denin memperhatikan Cellyn dari kursinya di sudut kelas. Orang yang sangat ia sayangi sedang terluka. Luka itu mungkin akan lama sembuhnya. Denin ingin menjadi salah satu alasan untuk sembuhnya luka Cellyn. Meskipun dirinya tidak pernah dianggap ada, setidaknya dia selalu ada untuk Cellyn.

"Masih belum move on lo? Dia udah punya pacar, pemilik sekolah ini. Lo nggak takut bersaing sama cowoknya?" Andra, teman sebangkunya baru datang dan langsung merebut kertas jawaban Denin untuk dia salin.

"Mau gimana lagi, udah resikonya orang jatuh cinta." Denin tersenyum masam.

"Inget, hati lo nggak sekuat baja, nggak sekokoh pagar sekolah. Bilang aja ke gue, ntar gue omongin ke Cellyn," ujar Andra kasihan.

"Thanks Ndra." Denin tersenyum tulus melihat Andra masih sama seperti Andra yang ia kenal dulu, seorang cewek yang masih menyayanginya.





Kayaknya enak update 500k tapi rajin. Gitu aja ya mulai sekarang. 

^^

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!