Part 13-Rencana Tuhan

2.5K 218 3

Rumah besar bercat putih itu menjadi pemandangan pertama Cellyn saat tiba di rumah. Beberapa karangan bunga masih terpasang rapi di halaman. Melihat karangan bunga yang bertuliskan nama kedua orangtuanya membuat Cellyn kembali sedih.

Tetapi dia tidak boleh begini terus, iya, Cellyn harus bangkit. Digenggamnya kuat-kuat tas ransel kecilnya. Mungkin hari-hari selanjutnya adalah hari yang berat, namun Cellyn yakin dia bisa melewatinya.

Kevin tidak ikut mengantar Cellyn sampai ke rumah, katanya dia ada urusan. Begitu juga om Erik, sesampainya di bandara dia ijin kembali ke London untuk membantu Darrel lagi.

Cklek.

Pintu rumah Cellyn terbuka, sepi, senyap, dan gelap. Jika begini Cellyn mana berani masuk. Dia kembali menutup pintu, rumahnya terlalu besar jika harus ditinggali sendiri.

Cellyn juga tidak mungkin menghubungi ketiga sahabatnya sekarang, mereka masih sekolah mungkin. Gadis itu mengerutkan dahi ketika ada satu mobil berwarna putih masuk ke halaman rumahnya. Kelihatannya Cellyn pernah melihat mobil itu, tapi di mana?

Seseorang turun, cewek berambut pirang lurus dengan pakaian serba hitam. Cellyn berpikir sejenak sebelum akhirnya ia kembali mengenali sosok itu.

"Rain?" tanyanya memastikan.

"Maaf ya gue baru bisa datang sekarang," kata Rain dan langsung memeluk Cellyn erat, menguatkan gadis itu.

Rain itu sepupu Cellyn dari Jerman, mereka memang sudah lama tidak bertemu. Mungkin karena sibuk, jadi Rain tidak mengabari dulu mau ke sini.

"Gapapa Rain, gue seneng banget lo bisa ke sini. Di rumah nggak ada siapa-siapa, gue sendirian."

"Hust, lo masih punya keluarga, masih ada gue, Tante Dina, Darrel. Oh ya, Darrel ke mana?" Rain baru sadar jika Cellyn memang benar sendiri, dia kira tadi ada Darrel.

"Abang gue masih di London, dia ngurusin perusahaan." Cellyn kembali duduk.

"Masuk yuk!" ajak Rain. Gadis itu memang selalu bisa membuat Cellyn tersenyum.

*****

"Jadi lo mau pindah ke Indo buat nemenin gue Rain?" tanya Cellyn.

Rain mengangguk, "gue juga pindah sekolah, tapi sayangnya nggak di sekolah lo Cell. Gapapa kan?"

"Yang penting lo udah nemenin gue." Cellyn kembali memeluk Rain.

Dari bawah, terdengar bunyi bel. Kedua gadis itu sepakat untuk membuka bersama-sama. Mungkin saja yang memencet bel itu teman-teman Cellyn.

"Iya Se-" Naya, Edel, Katrina langsung berhambur memeluk Cellyn. Mereka sangat khawatir dengan Cellyn.

"Cell lo kok nggak bilang mau pulang, tau gitu kita bisa jemput lo di bandara," Edel menegur Cellyn.

"Iya Cell, gue sama Edel kan bisa jemput," timpal Katrina. Ada yang janggal menurut Cellyn. Nama Naya tidak disebut.

"Nay, abang gue nggak pulang, dia masih di London." Akhirnya Cellyn bisa mengatakan ini kepada Naya. Gadis ini sudah khawatir jika Naya akan marah kepada Darrel.

"Gue tau kok," kata Naya dengan senyum yang sangat lebar.

Aneh, rasanya ganjal semua. Apa mungkin ketiga sahabatnya menyembunyikan sesuatu?

Rain melihat keempat sahabat itu, dia tidak seberuntunng Cellyn yang mempunyai sahabat seperti itu. Dia seorang diri, tidak pernah ada teman.

"Siapa Cell?" Naya mengintip ke belakan Cellyn.

"Sepupu gue. Kenalin, namanya Rain. Rain kenalin, mereka keempat sahabat somplak gue yang tersayang. Yang mungil ini Naya, yang rambutnya dikuncir itu Edel, yang pakai kalung salib itu Katrina. Selamat Kat, lo ada temen kalau mau ke gereja," jelas Cellyn satu-satu.

"Ayuk masuk!" Lagi-lagi Rain yang mengajak, padahal rumah siapa coba?

Mereka sepakat menjadikan ruang keluarga sebagai markas mereka. Iya, malam ini mereka tidak akan tidur di kamar, melainkan di sofa dan karpet yang ada di ruang keluarga. Semua ini atas usul Naya, siapa lagi yang memiliki ide cemerlang seperti ini kalau bukan dia.

Cellyn ingin menanyakan sesuatu kepada Katrina, kenapa dia tidak menyebutkan nama Naya tadi. Memang, sebenarnya bukan hal besar, bisa saja Katrina lupa. Tetapi Katrina tidak akan lupa menyebut nama Naya di manapun, mereka sudah bersahabat selama sembilan tahun. Sangat lama bukan?

"Kalian berantem?" Naya yang semula kepalanya di karpet berubah duduk. Katrina yang awalnya berbincang dengan Rain menatap ke arahnya. Oh lihatlah, benar ada yang tidak beres di antara mereka berdua.

"Gara-gara ini." Edel menunjuk hatinya.

"Kenapa Nay, Kat?"

"Bukan gue yang mulai," suara Katrina terdengar datar.

"Nay?" Cewek itu pura-pura sibuk dengan snack yang ada ditangannya.

Naya mengela napas sebelum mulai menjelaskan. "Waktu itu gue lagi kesel, mood gue ancur. Gue ngatain Katrina yang nggak-nggak."

Cellyn tersenyum penuh arti. "Kalian tau nggak sih? Siapa orang yang selalu nanyain keadaan kita, selalu ada saat kita susah maupun senang, seseorang yang rela memberikan separuh waktunya yang berharga untuk dengerin cerita kita?"

Katrina dan Naya masih diam saja. Terasa sekali ketegangannya di ruang ini.

"Orang itu sahabat kita. Bayangin aja, tanpa ada sahabat, kalian nggak mungkin bisa mendem masalah sendiri. Kita mungkin terasa hidup sendiri tanpa sahabat, karena sahabat itu orang yang paling mengerti kita setelah orangtua."

Rain tertohok hatinya, dia juga tidak punya sahabat. Tidak pernah punya.

"Kalian beruntung bisa sahabatan, masa gara-gara masalah sepele berantem sih?" Rain menimpali.

Kini, Naya dan Katrina saling berpandangan. Mereka mulai menggeser duduk mendekat, dan akhirnya mereka berpelukan. Sungguh momen yang mengharukan.

Rain menitikkan air matanya tanpa sadar. Tidak ada yang tau jika Rain menangis, dia juga ingin punya sahabat, satu saja.

"Ih Kat! Ketek lo bau tauk!" cecar Naya.

"Lo tuh lebih bau! Abis tidur bareng sigung ya lo?" balas Katrina.

"Bukan ... abis tidur sama kambing" jawab Naya pelan.

"Oh pantes,"

"Kenapa?" tanya Naya antusias.

"Bau kambing!" balas mereka semua kompak.

Mereka berlima berpelukan, jika Rain mau mereka bisa saja jadi sahabatnya, asal yang namanya sahabat jangan melukai satu sama lain. Nggak perlu gengsi kalau emang salah ya minta maaf aja, ingat, kita tidak akan pernah menemukan seseorang yang sama di lain waktu.





An:

Jadi, aku bakal update 'Secret Admirer' berdampingan sama 'NARel', series SDCN. Soalnya konflik kedua cerita ini pas barengan. Jadi enak gitu kalau aku nulisnya gantian.

Buat yang nungguin kelanjutannya, silahkan dibaca, divote, dan coment ya.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!