Part 11-Kenyataan

2.4K 231 5

Malam ini, Cellyn sudah berjanji akan keluar makan bersama Darrel. Itu artinya, Darrel akan terus mengawasinya. Cellyn sangat tidak suka jika kakaknya bermuka serius. Perasaannya saat ini sudah tegang, dia tidak mau ditambah lagi dengan sikap Darrel yang dingin.

"Bang, ajak kak Angie sama kak Davit ya, gue ntar jadi patung di sana," rengek Cellyn sambil mengubah channell TV.

"Kenapa? Nggak suka makan bareng gue?"

Benar kan, wajah Darrel saja udah ngeselin. Datar dan dingin tanpa ekspresi. Padahal tadi pagi wajahnya masih anget, nggak ada aura songong.

"Gue kan nggak mau jadi patung di sana. Kita keluar buat makan bang, bukan pantomim. Gue ajak Naya ya?"

Darrel berhenti menggulung lengan jaketnya kemudian menatap Cellyn dengan penuh semangat.

"Nah kan pinter lo. Gitu baru adik gue."

Hal yang Cellyn benci, selain pelajaran kimia, Darrel selalu mengacak-acak dandanan rambut yang ia tata lama hanya karena Darrel sedang senang.

"Lo rese bang kalau laper!"

"Yaudah cepetan lo kasih tahu Naya, gue mau ke atas dulu." Darrel berbalik ke kamarnya, tapi ditengah tangga dia berhenti.

"Gue kan nggak pernah beli pulsa abang sayang."

"ABG apaan lo dek!"

Cellyn mendengus kesal, dia kan tidak perlu membeli pulsa. Lagipula orangtuanya selalu mentransfer keperluannya, termasuk pulsa.

Sembari menunggu Darrel dan Naya bersiap-siap, Cellyn membuka salah satu album di galerinya.

Di sana, ada foto Kevin yang berjumlah ratusan. Bahkan jika Cellyn seperti Katrina yang tidak tahu malu, Cellyn akan melengkapi foto itu sampai ribuan.

Foto-foto Kevin ini Cellyn peroleh saat pertama kali MOS, sampai sekarang. Diam-diam Cellyn selalu memotret aktivitas Kevin tanpa sepengetahuan itu.

Dulu, sebelum Kevin menjadi pacarnya, kesempatan memotret Kevin sangatlah kecil. Kemana-mana dia selalu diikuti oleh banyak siswi. Mulai dari kakak kelas ataupun teman seangkatan. Mungkin memang seperti itulah kehidupan para most wanted yang sama persis dengan novel yang Cellyn pinjam dari Edel.

Tiba-tiba, layar ponsel Cellyn berubah gelap dan sedetik kemudian ada panggilan dari Line Kevin. Tumben anak itu menelfonnya.

"Ada apa Kev?"

"Cell, kamu di mana? Nggak papa kan?"

"Aku di rumah, ini mau keluar sama Darrel. Kenapa?"

Di seberang sana Kevin bisa menarik napas lega.

"Hati-hati ya."

Cellyn tidak tahu apa maksud Kevin berkata seperti itu, mungkin Kevin mengkhawatirkannya.

Lama, tidak ada suara dari Kevin. Tapi panggilan masih menyala.

"Kev?"

"Aku sayang kamu, Joccelyn Alvioni William."

Deg.

Kevin, berkata seperti itu.

Manis sekali.

"Woy dek! Lo nggak sakit kan senyum sendiri?"

Darrel sekarang sudah berganti pakaian yang lebih santai. Mungkin dia mengimbangi Naya yang tidak suka dandan berlebihan.

"Gue sehat!" Sewot Cellyn dan langsung menuju mobil.

Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Cellyn mengintip bintang dari balik jendela mobil. Lumayan banyak, tapi bulan yang tidak ada. Mungkin tertutupi oleh awan.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!