PART 1

108 13 32

Lelaki itu terdiam menatap lautan luas. Burung camar beterbangan, beberapa memilih berenang di air laut yang cenderung tenang. Matahari sudah mulai menyembunyikan diri. Sesekali angin menerpa rambutnya yang basah.

Matanya membengkak karena menangis sedari tadi. Rambutnya yang biasa rapi, kini tak karuan. Bajunya basah sebasah rambutnya. Terkena hujan tadi siang. Diri yang biasanya dipandang berwibawa itu kini menunduk. Kembali menangis. Tubuh yang terlihat kuat dan serius itu kembali tenggelam dalam kesedihannya.

Tadi siang ia membuat bingung seisi kantor dengan kelakuannya. Ia tiba-tiba beranjak berdiri dari kursinya, berlari keluar gedung. Sampai-sampai satpam yang biasanya menjaga di luar geleng-geleng kepala kebingungan. Pikir mereka, bosnya itu hendak menaiki mobilnya tapi ternyata tidak. Bosnya itu malah tetap berlari melewati pintu gerbang. Ia juga telah membuat bingung seorang asisten pribadinya yang hendak menyerahkan sebuah laporan keuangan yang harus dilaporkan hari itu juga kepada pemerintah. Sampai sekarang asisten itu masih kebingungan, mau diapakan laporan keuangan tersebut sementara bosnya pergi entah ke mana.

Di tengah hiruk pikuk gedung perkantoran yang seisi kantornya kebingungan dengan tugas masing-masing yang harus diserahkan itu, lelaki itu malah terisak kencang. Di sebuah pantai yang cukup jauh dari kantor miliknya, ia tak dapat menahan lagi sakit di jiwanya. Ia menumpahkan segalanya, menjerit.
"Apa salahnya? Apa?! Sehingga mereka menjadi sebegitu benci kepada kekasihku ya Tuhan?! Dan kini, kini mereka telah membuat kekasihku tak bernyawa, terbaring kaku. Apa yang mereka inginkan dari kekasihku? Apa?" Ia berteriak, berharap Tuhannya mendengar setiap kata-katanya. Hatinya serasa teriris ketika melihat bibir itu telah membiru. Bibir yang senantiasa menyemangatinya sejak pertama kali mereka saling jatuh cinta. Terlebih lagi, melihat tangannya yang penuh dengan bekas luka sayat, tangan yang sering kali mengelus rambut hitamnya, tangan yang memberinya kekuatan untuk meneruskan hidupnya, hati itu terasa ditikam pisau berkali-kali, mengutuk manusia-manusia yang telah merengut nyawa kekasih hatinya itu.

Ia terus menangis, tangisan itu seakan tak dapat berhenti. Kini sang mentari telah sempurna tenggelam ke balik samudera, perlahan-lahan, suhu udara menurun, angin malam menerpa tubuhnya. Ia mengigil. Dinginnya udara malam hari itu tak ada apa-apanya dibandingkan semua sakit hatinya.

***

Rama Satria, itulah namanya. Siapa yang tak kenal dengannya? Sebutkan saja pada pedagang sayur, mereka pasti akan tahu siapa orang yang dimaksud. Tanyakan pada pengemis di pinggir jalan, siapa tak kenal?

Rama Satria, ialah pimpinan sebuah perusahaan makanan dan minuman ringan ternama di negri itu. Perusahaan itu memiliki banyak anak perusahaan yang tersebar di seluruh negri. Tapi bukan itu yang membuatnya begitu dikenal masyarakat. Kedermawanannya yang mereka kenal. Entah sudah berapa triliun uang yang ia keluarkan untuk beramal. Membangun banyak sekolah di pelosok negri, memberikan para pedagang berbagai seminar, terutama kepada pedagang di pasar.

Lelaki gagah itu pun tak segan turun ke lapangan bersama anak buahnya, memberi langsung materi seminar kepada para pedagang pasar, tips-tips, dan juga motivasi. Ribuan anak pelosok yang biasanya hanya bermain dan bekerja, kini dapat merasakan bangku pendidikan, semua itu karena bantuannya.

Di tengah berita-berita korupsi para pejabat, namanya terangkat, menjadi masyhur. Tapi sebenarnya di balik itu semua, ada seorang wanita yang menatapnya dengan tulus, seorang wanita yang umurnya jauh lebih muda darinya. Motivasi terbesarnya. Wanita itu berparas biasa-biasa saja, tidak ada yang mencolok darinya, tapi dialah permata paling berharga untuknya.

Tanpanya mungkin kini ia hanyalah seongok sampah masyarakat yang tak berharga. Ia bertemu wanita itu ketika ia sedang menghirup selinting ganja. Di ruang yang pengap oleh asap itu seorang temannya tiba-tiba membuka pintu, masuk diikuti beberapa temannya yang memegangi seorang gadis kecil, melemparnya ke tengah ruangan.

UNFAIRBaca cerita ini secara GRATIS!