Chapter 1

761 46 12

"Ayah, apa kau yakin kita dapat bertemu dengan Marc Marquez?"

Robin--Ayahku--yang tengah menyupir disebelahku menoleh sekilas. Kepalanya mengangguk yakin sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.

"Aku telah membeli MotoGP VIP Village. Untuk apa aku membayar £724 per tiket kalau tidak bisa bertemu dengan rider favoritku?" Katanya.

Aku mengangguk mengerti, tapi sedikit kaget dengan harga yang tadi Ayahku sebutkan. Sebenarnya aku tidak perlu terkejut dengan Ayahku yang rela menghabiskan uangnya hanya untuk menonton balapan motor, karena sejak dulu, saat aku masih kecil, Ia selalu suka dengan hal itu. Bahkan di rumah, koleksinya tentang MotoGP hampir memenuhi seluruh dinding. Dimulai dari foto-fotonya dengan para rider yang aku hanya tahu beberapa, hingga segala macam merchandise pembalap bernomor 93 yang paling disukainya.

Aku yang sejak kecil disuguhkan dengan berbagai seri di MotoGP tidak pernah tertarik, dan baru kali ini selama 19 tahun aku hidup bersama Ayahku, aku mau diajak untuk menonton langsung ajang balapan motor bergengsi itu. Biasanya aku akan menolak dengan berbagai alasan, namun entah karena aku yang bosan dibujuk sejak sebulan yang lalu oleh Ayahku, atau karena aku penasaran dengan rider bernama Marc Marquez.

Ayahku selalu bercerita kalau Marc Marquez adalah rider yang ramah, lucu, dan bersahabat. Jujur, aku tidak peduli, karena memangnya kenapa kalau dia ramah, lucu, dan bersahabat? Apa Marc Marquez akan menyapaku ketika aku lewat? Tidak 'kan? Pasti harus aku yang menyapanya terlebih dahulu, baru dia akan membalas sapaanku.

Terkadang aku berpikir, Ayahku sudah memasuki kepala empat, tapi kenapa bisa menyukai rider muda seperti Marc Marquez? Padahal banyak pembalap lain seperti Valentino Rossi, yang aku tahu sudah cukup lama bergelut dibidang balapan motor ini. Tapi sebanyak apapun aku bertanya 'kenapa', yang namanya fanboy, pasti memiliki alasannya tersendiri kenapa bisa menyukai orang tersebut.

Sepanjang perjalanan menuju sirkuit Aragon, aku memandangi jalanan yang cukup ramai. Sesekali aku melihat ada beberapa mobil yang mengeluarkan bendera bernomor 93 di jendelanya. Ayahku tiba-tiba berkata, kalau Marc Marquez memiliki fanbase terbesar di sini karena ini adalah kampung halamannya. Aku mengangguk mengerti karena Ayahku sudah mengatakan hal ini lebih dari 5 kali, jadi aku diam tidak menanggapi, dan memilih kembali memandangi orang di luar yang berteriak nama Marc Marquez. Aku sampai tertawa saat orang itu mengeluarkan kepalanya dari jendela dengan wajah dilukis bendera Spanyol dan bertelanjang dada.

"Setelah ini, aku yakin kau akan mulai menyukai MotoGP, Brianna." Ujar Ayahku. Aku mengalihkan perhatianku padanya.

"Memangnya kenapa?"

"Oh ayolah, aku sedang mengajarimu untuk bangga dengan salah satu atlet dari negara asalmu, Spanyol. Dan Marc Marquez bisa menjadi contoh seseorang yang dapat mengharumkan negara melalui ajang bergengsi MotoGP." Aku tergelak geli.

"Ayah, banyak atlet lain yang harus dibanggakan. Misalkan para pemain sepak bola Spanyol. Walaupun tersingkir dari EURO 2016 kemarin, setidaknya mereka juga terkenal. Spanyol tidak hanya memiliki Marc Marquez."

Ayahku menggeleng, "Tidak, kau harus mendukung atlet yang setidaknya menang dan membawa bendera Spanyol berkibar diberbagai negara. Marc Marquez sering melakukan itu di setiap perlombaan."

"Kenapa hanya Marc yang menjadi contoh? Disana ada Jorge Lorenzo dan Dani Pendrosa, harusnya Ayah menyebut nama mereka juga."

"Ya, mereka salah satunya.. Tapi percayalah, Marc Marquez lebih baik dari mereka." oh, Ayahku mulai menjadi fanboy. Kalau sudah seperti ini, lebih baik aku mengalah. Karena kalaupun dilanjutkan, aku akan tetap kalah, jadi sama saja.

Race To Your HeartBaca cerita ini secara GRATIS!