06-Hatinya Dimana?

6.8K 769 71

[Iqbaal Dhiafkhri on mulmed]

(Namakamu) menggeliat kecil saat merasakan seseorang mencolek-colek pipinya. Apa ini bang Ari? Tapi tidak mungkin. Ari tidak pernah mau masuk kamar (Namakamu), alasannya karena horor. Padahal kamar (Namakamu) semuanya berdesain Pink dominasi putih.

Terlebih lagi, kamar (Namakamu) selalu dikunci rapat.

"Udah dong, bang!" celetuk (Namakamu) malas. Dia merasa sangat mengantuk. Lagian, hari ini kan hari Sabtu. Hari libur. Ngapain harus bangun pagi-pagi?

"Astagaa, ia-ia gue bangun!" (Namakamu) merasa sangat kesal. Terpaksa ia duduk dengan mata yang masih terpejam erat. Ia mengikat asal rambut coklat-nya itu menjadi 'High Bun'. Hanya menyisakan beberapa rambut yang tak ikut terikat.

"Mau apa? kopi atau teh? Asal jangan nasi goreng aja" (Namakamu) tertawa kecil diakhir kalimat. Kalian tidak lupa kan soal apa yang pernah (Namakamu) lakukan jika sudah berada di dapur?

"Tila gak boleh minum dua-duanya, gimana dong?"

Eh? Kenapa jadi suara anak kecil? Perempuan lagi?

Dengan segera (Namakamu) membuka matanya, mengedarkan seluruh pandangannya di kamar ini. Dominasi antara biru terang dan merah muda. Pernak perniknya juga kebanyakan berbau 'Frozen'.

"Ini bukan kamar gue!" Teriak (Namakamu) tiba-tiba dengan suara nya yang kalian tau seperti apa.

(Namakamu) mengalihkan pandangannya pada anak kecil yang imut di sebelahnya.

Alis tebal, bulu mata lentik, hidung kecil yang mancung, pipi tembam, kulit putih, Dan terakhir, rambut coklat pirang sebahu.

Kurang apa lagi coba?

"Ka-kamu siapa dek? Trus kakak kok bisa disini?" (Namakamu) bertanya gelagapan. Tila---adik kecil yang imut itu mengerutkan kening.

Baru saja ia buka mulut dan hendak mengatakan sepatah dua patah kata, seseorang keluar dari kamar mandi. Itu iqbaal, dia mengenakan kaos putih polos dan celana jeans hitam.

Iqbaal mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu saat ia sadar keberadaan (Namakamu), iqbaal sedikit tersenyum, ingat, sedikit! Tapi itu mampu membuat (Namakamu) kembali lemas.

"Udah bangun?" Iqbaal bertanya dengan nada santai.

(Namakamu) diam. Masih tidak mengerti apa yang terjadi. Apa ini mimpi? Tidak mungkin!.

Apa ini nyata? Apa keinginan (Namakamu) berkeluarga dengan Iqbaal langsung terwujudkan?

"Kak, gue kenapa disini?" Tanya (Namakamu) lalu menggigit bibir bawahnya sekilas. Ia sangat gugup, jika ia benar-benar sudah berkeluarga dengan Iqbaal, tentu saja Iqbaal suami-nya bukan?

"Ooh, sorry gue gak nganter lo pulang kerumah, pas gue nganterin lo tadi, lo ketiduran, lain kali jangan tidur diatas motor ya, bahaya. Nyusahin juga"

Penjelasan Iqbaal itu membuat (Namakamu) tersadar dari bayangannya. Bayangan dimana ia dan Iqbaal berkeluarga.

(Namakamu) cuma bisa ngerucutin mulut pas ngingat lagi kata kata terakhir Iqbaal, 'nyusahin'. Oke, (Namakamu) nyusahin. Oke, Gapapa.

"Trus kenapa gak langsung kakak anter gue kerumah?"

"Di rumah lo gak ada orang, jadi gue bawa aja lo kerumah gue, ntar lo sendirian dirumah, Gapapa kan?" Iqbaal bertanya. Dan detik itu juga, (Namakamu) terbang menembus langit ke 7 di bumi ini.

"Yaudah, kalau misalnya butuh baju, pake baju gue aja dulu. Gue keluar ya" lanjut Iqbaal, (Namakamu) mengangguk. Lalu tila sambil terkinjang-kinjang menghampiri Iqbaal minta digendong. Iqbaal menurut dan keluar dari kamar ini.

Chainsmokers Baca cerita ini secara GRATIS!