02-Didepan Mata

8.6K 837 46

(Namakamu) membuka pintu rumah bak istana miliknya itu. Tak lupa, diiringi dengan jeritan cempreng yang ceplas ceplos keluar dari mulutnya. Jeritannya menggema di ruang tamu berlanjut ke lorong-lorong rumah (Namakamu) yang luas.

"ASSALAMUALAIKUM!!!"

Ulangnya lagi, namun nihil. Hanya gemaan suaranya yang ia dapat.

Menyadari kalau tidak ada satu orang pun yang menjawab salam-nya, (Namakamu) mendengus kesal. Selalu saja begini. Sesantai mungkin ia menutup pintu rumah, namun tetap saja terdengar suara keras akibat benturan pintu, lalu (Namakamu) menjatuhkan tubuhnya di sofa putih yang nyaman itu, dan terakhir, menghidupkan televisi.

Tak lama setelah ia melakukan ritual yang biasa ia lakukan jika sampai di rumah, abang (Namakamu) yang beda 3 tahun darinya muncul dari tangga. Memainkan kunci mobil sambil merapikan rambut yang sebenarnya sudah rapi.

Dia adalah Ari. Ari Agam Daniar tepatnya.

"Mau kemana lo, bang?" (Namakamu) bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari televisi. Kebetulan, ia tengah menonton acara kesukaannya yaitu 'katakan putus'

"Ketemu belahan jiwa yang jauh disana, namun aku yakin, aku bisa meraihnya" Ari menjawab dengan nada puitisnya. Sedangkan (Namakamu) memutar bola mata kesal.

Iya, Ari ini ganteng. Banget malah. Tapi sayang, Ari gak pintar dalam pelajaran trus puitis banget. Bagi ari tuh, 'tiada hari tanpa puisi yang menggema diantara telinga kita'.

Sebagai adik yang baik, (Namakamu) harus muji ari kalau ari lagi puisi-an. Meskipun (Namakamu) tidak mendengar karena ia menyumpal telinga nya dengan earphone, dan itu tanpa sepengetahuan ari.

Dirumah yang luas ini, hanya ada Ari dan (Namakamu). Orang tua? Kalian pasti tau, jika sudah memiliki rumah bak istana itu, maka orang tuanya adalah pekerja keras. Orang tua mereka kadang ke rumah paling banyak 8 kali dalam satu tahun. Kecuali kalau ada keadaan darurat, maka orang tua mereka bakalan pulang.

Saat (Namakamu) kecil, (Namakamu) pernah berpura pura koma hanya untuk membuat orang tuanya kembali kerumah dan memperhatikan dia, juga ari. Namun yang (Namakamu) dapat adalah kemarahan ayah dan kekesalan ibunya. Mereka lebih mencintai pekerjaan dari pada anak mereka sendiri.

"Jaga rumah, bik giselle lagi pulang kampung, katanya mau jengukin anaknya yang sakit" ucap Ari lalu melesat keluar rumah. (Namakamu) lagi lagi mendengus kesal. Sekarang dia komplit sendirian di rumah.

Ada Satu lagi manusia yang tinggal dirumah ini, yaitu bik giselle. Namanya sih sebenarnya bik punem, tapi karena dia pengen banget ngerasa muda lagi, dia ganti nama. Jadi giselle pula. Dan nama itu (Namakamu) yang usulin. Bik giselle ini umurnya udah kepala lima. Tapi dia masih aja anggap dirinya 17, mungkin karena efek nama giselle.

Merasa sangat sangat bosan, (Namakamu) mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan LINE pada sahabat barunya, yaitu Kinta. Ia mengajak Kinta untuk keluar jalan jalan. Dan Kinta menyetujui itu karena Kinta bilang dia juga bosan.

Setelah mengganti baju, (Namakamu) mengambil kunci motor nya. Ia belum diperbolehkan menggunakan mobil karena dia baru 15 tahun, padahal (Namakamu) sudah mahir mengendarai itu berkat ari yang mengajarinya secara diam diam. Mamanya berjanji, ia akan mendapatkan mobil disaat ia kelas 2 SMA.

°°°°

Mcdonald. (Namakamu) berakhir untuk makan disana. Saat (Namakamu) menjemput Kinta tadi, dia malah mendapat kabar bahwa kinta pergi berjalan bersama kakaknya.

'liat aja tuh Kinta besok, abis gue sakat ntar' (Namakamu) membatin lalu kembali melanjutkan makan.

(Namakamu) membawa motornya ke jalanan yang sepi, gak sepi banget sih. Masi ada yang lewat. Ia menikmati angin sore yang menerpa wajahnya dengan lembut. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan kenyamanan ini, setelah kejadian setahun lalu yang harus membuat dia berada di rumah sakit selama 1 bulan.

Alasannya hanya satu, (namakamu) trauma karena diajak nge-drift sama abangnya. Padahal harusnya, saat itu dia sibuk belajar untuk menghadapi UN SMP. Tapi ya sudahlah.

(Namakamu) memberhentikan motornya dipinggir jalan, menghadap ke arah hamparan rumput hijau luas yang di batasi dengan pagar besi. Ia memejamkan mata. Menikmati lagi angin sore yang sebenarnya udah mulai gak enak karena ada tai kucing di sebelah motornya.

"Anjing lo!"

(Namakamu) menaikkan satu alisnya, lalu membuka mata. Siapa yang berbicara kotor begitu?

"Lo yang anjing, dasar Pig"

(Namakamu) tertegun, agak lucu. Katanya anjing, kok malah jadi pig?

"Sok inggris lo njing, dasar setan!"

Kali ini mata (Namakamu) membulat sempurna. Karena setelah ucapan tadi, terdengar suara tonjokan yang cukup keras, ditambah lagi suara 'kretek' yang sangat menyayat telinga.

"Astagaaa!!" (Namakamu) panik setengah mati. Dengan segera (Namakamu) menaiki motornya, menancap gas menghampiri Iqbaal. Ya, Itu adalah iqbaal. kakak senior yang ganteng itu. Iqbaal itu kini tengah 'bermain' tonjok-tonjokan sama 5 Orang cowok.

"Woi!! Stop woii!"

(Namakamu) berteriak masih diatas motor, namun tak ada jawaban. Para cowok cowok macho itu masih asyik berkelahi.
Merasa kesal, (Namakamu) turun secara asal dari motornya dan berlari sekuat tenaga.

Ternyata, iqbaal menyadari keberadaan (Namakamu). Iqbaal memasang wajah kesal, "Jangan kesini!" Teriak Iqbaal, masih berkelahi. (Namakamu) langsung bersyukur karena keberadaannya disadari. Aku

(Namakamu) menatap iqbaal yang tengah melawan para cowok itu, ia berdoa agar lututunya dikuatkan untuk berdiri, ia merasa lututnya melemah seketika, karena saat berkelahi, ketampanan kakak senior itu makin berlipat lipat.

Akhirnya, iqbaal berhasil menjatuhkan 4 orang, tinggal satu, dan kebetulan itu ketua geng. Merasa sudah aman, (Namakamu) mendekati Iqbaal, menatapnya dengan mata berbinar, lagi.

"Ck!, lo ngapain sih disini?! Sana awas! Ntar lo luka!" Iqbaal mendecak kesal, aneh sekali gadis didepannya ini.

Sedangkan (Namakamu) sudah merasa terbang di awan.

"Jadi itu cewe lo, sat?" Cowo di depan Iqbaal akhirnya berbunyi. Mendengar kalau iqbaal dipanggil sat, (Namakamu) menatap tajam cowok itu

"Sat sat pala lu bocor!" Umpat (Namakamu) kesal, di hiasi dengan suara cemprengnya yang subhanallah, menyakitkan telinga. Iqbaal saja sedikit kaget saat mendengar suara (Namakamu).

"Lo kali yang satan! Dasar kutil dugong!" Lanjut (Namakamu) lagi.

ternyata cowok didepannya itu tersinggung mendengar ucapan (Namakamu). Baru kali ini ada cewek yang berani ngejek dia.

"Kurang di hajar lo!" Ujar cowok itu dengan muka yang merah. Tangan cowok itu membentuk kepalan dan mengarahkan nya ke hadapan (Namakamu).

(Namakamu) cuma pasrah sambil nutup mata. Menurut dia, sekali kali kena bogem boleh juga.

Namun, kurang dari 30 cm, iqbaal sudah menahan tangan cowok itu.

"Nonjokin cewek? Mungil begitu? Yakin lo cowok?" Iqbaal bertanya dengan tatapan membunuh. Namun (Namakamu), ia merasa mati tegang untuk yang kedua kalinya.

Benarkah ia mungil? Berarti unyu dong!.

(Namakamu) masih tak menyangka, kakak iqbaal itu mengucapkan ucapan manis tepat di depan matanya!

Dan, entah sejak kapan cowok didepannya tadi sudah babak belur.

Terkapar di jalanan yang dingin. Sendiri dan tak ada yang menemani.

Iqbaal kembali merapikan kaos serta rambutnya, lalu menatap (namakamu) dengan tatapan teduh

"Gapapa kan? Ada yang luka?"
(Namakamu) menggeleng. Lalu setelahnya ia pingsan.

"Lah?!"

***********

Wkwkw.

Jangan lupa vote sama comment yaaa. Maaf kalau kepanjangan.

Chainsmokers Baca cerita ini secara GRATIS!