Part 10- Aneh

2.4K 220 3

Sejam yang lalu, Cellyn berangkat dan sejam pula dia terus berpikir tentang kedua orangtuanya. Gadis itu sangat gelisah, bahkan beberapa materi yang seharusnya mudah menjadi sangat sulit dikerjakan. Perasaan was-was dan tidak nyaman menggelayutinya.

Mungkin benar beginilah rasanya dihampiri firasat buruk. Makan tidak enak, melamun juga tidak mengubah apa-apa. Malah menambah kekhawatirannya.

Melihat sahabatnya yang sedikit aneh, Edel menoleh dan memasang tampang bertanya. Dia benar-benar buta informasi kali ini.

"Cerita Cell, jangan dipendem sendiri. Kalau kata bu Devy ntar lo bisulan."

"Amit-amit."

"Ya udah cerita. Atau lo punya hutang sama gue." Ancam Edel yang dibuat serius.

"Dari kemarin gue punya firasat buruk. Soal mama sama papa gue. Gue merasa seperti kehilangan mereka Del, padahal mereka ada di depan gue. Aneh rasanya, tapi nyata."

Edel mendengarkan seksama dan dagunya ia topang dengan telunjuk. Mulutnya membuka memberi tanggapan.

"Cuma firasat kan, nggak ada apa-apa lagian. Lo coba deh, pelan-pelan aja. Lupain firasat buruk lo itu. Jangan bawa susah, cuma firasat Cell."

"Tapi kan Del-"

"Udahlah gue bantu lupain. Gimana hubungan lo sama Kevin, baik-baik aja apa nggak baik-baik aja?"

"Baik. Lancar aja. Kevin makin care gitu sama gue."

"Lo yakin? care dalam artian perhatian atau ada sesuatu?" mata Edel memicing diikuti badannya yang maju ke depan Cellyn.

"Perhatian lah. Mau apa coba selain itu. Nggak usah aneh-aneh deh."

"Lo beneran nggak inget?"

"Inget apa? Kevin pacar gue. Gue inget nggak kan lupa."

"Kevin itu anak rival papa lo. Lo inget apa tujuan dia sekolah di sini?. Nah gue aja inget."

Benar. Edel memang tidak salah. Cellyn juga tidak lupa. Tapi, Kevin benar-benar baik.

"Kevin baik kok. Nggak bakal ngelakuin apa-apa sama gue."

"Tapi sama kedua orang tua lo belum tentu."

Matanya menajam seiring dengan tangannya yang memegang bahu Edel.

"Apa maksutnya?. Dia mau apa sama mama papa?"

"Mereka di mana sekarang?"

"Mama sama papa baru take off ke London. Papa ada tugas mendadak. Jadi mama juga ke sana."

Edel berdiri dan menggebrak meja. Otomatis satu kelas menoleh ke arahnya.

"Mereka dalam bahaya Cell. Tante Rose sama om Pratama. Mereka dalam bahaya."

"Jangan bikin gue kaget gini dong Del. Jangan buat gue panik. Nggak akan lah mereka kenapa-napa."

Bohong. Nyatanya Cellyn sekarang menunduk lemas menatap lantai kelas yang memburam.

Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Jika saja berkedip bisa dipastikan air mata itu akan jatuh bebas.

"Cell."

Edel memegang bahu Cellyn. Badan itu gemetar hebat. Isakannya bahkan mulai terdengar.

Edel merasa bersalah. Dia padahal mengkhawatirkan orangtua Cellyn. Tapi malah membuat Cellyn menangis. Hal yang sangat Edel hindari.

"Maafin gue ya. Gue cuma pake logika."

"Gue nggak maksud bikin lo cemas. Cell, jangan nangis dong. Lo kan nggak cengeng begini."

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!