Namikaze Naruto, Perwira kebanggaan Jepang yang terjebak dalam penyesalan masa lalunya, harus menghadapi kenyataan bahwa ia menjadi korban malpraktek dari rumah sakit milik keluarganya sendiri. Kesalahan medis yang membuatnya kembali terlibat dengan...
Alternate Universe Love Story Of Naruto and Hinata
Lampu ruang keluarga rumah tradisional keluarga Hyuuga malam itu masih menyala walau jarum jam sudah menunjukan pukul 22:30. Dua gadis dengan rambut panjang dengan warna berbeda mencolok tengah asik dengan kegiatan mereka masing-masing
Hinata sang kakak sedang sibuk merajut sweeter untuk sang ayah, sedang Hanabi sedang masih mengotak-atik ponsel pintarnya
"Kau kenapa disini, Nii-san?" celetuk Hanabi tanpa basa-basi saat melihat kepala sang kakak menyembul dari pintu geser.
"Harusnya aku yang bertanya pada mu imotouku sayang..., kau mau begadang, hah?! Memangnya tidak sekolah besok? Ku laporkan pada Tou-sama, kalaukau membolos." Ancam Neji sambil melipat tangannya di depan dada.
Hinata yang melihat percek-cokkan antara kakak dan adiknya hanya tersenyum tipis sambil terus merajut.
"Baka Aniki!!! Ini malam minggu! Kau lupa, ya? Kalau hari ini hari sabtu? Bukankah tadi sore kau baru selesai melakukan hair spa, di salon Orochimaru-sama, yang menjadi jadwal rutin akhir pekanmu ?" Tanya Hanabi dengan tatapan menantang.
Wajah Neji langsung memerah, ia benar-benar malu sekarang, semenjak adik bungsunya ini tahu ritualnya setiap sabtu sore, selalu saja hal itu yang dijadikannya sebagai senjata untuk mengalahkan kakak sulungnya sekarang.
"Terserah kau saja." Rajuk Neji dengan wajah memerah sambil berlalu meninggalkan ruang keluarga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hanabi tersenyum iblis sebelum ponsel pintarnya bergetar tepat tengah malam, ah... salah tengah malam lewat sepuluh menit.
'Moshi moshi-,' sapaan manis dari sang kekasih d iujung telepon tiba-tiba terpotong oleh Hanabi.
"Aku merindukanmu Baka, ku pikir kau tak menelpon, hiks...," bulir-bulir airmata mulai menetes dari mata bulan Hanabi.
'Gomenasai Hana, aku terlambat menelpon, tadi aku dihukum oleh Naru-nii, lalu-,' opss Konohamaru keceplosan.
"Naruto-nii ada disana?" Hanabi menoleh ke arah kakak perempuannya yang tengah merajut, benar saja mulut besarnya itu membuat hati sang kakak berdesir begitu nama seseorang yang selalu ia tunggu kabarnya, disebut
"Aku akan menelpon di luar Nee-sama." Hanabi tak enak hati iya tahu ucapannya barusan membuka kembali luka lama kakaknya, ia buka pintu lain di ruang keluarga yang langsung menuju ke taman belakang.
Hinata meletakkan peralatan merajutnya, tertunduk, sedikit kenangan masa lalunya terkuak kembali.