Satu

68 1 2
                                        


Mungkin ini detik-detik tersepi yang menari di antara halaman-halaman lusuh sebuah epik tentang kisah berjudul Sargasso. Namaku. Cerita yang mungkin telah tersusun rapi sebelum aku memahat sejarah di bawah langit. Langit cerah yang tak henti memata-matai setiap gerak manusia. Baik, buruk, tangisan, senyuman, kedatangan, kepergian, makian, kekalahan, menang, bergerak sempurna mengisi setapak panjang bernama kehidupan.

Sepi bukanlah hal baru, asing, atau sesuatu yang mengesankan yang harus membuat aku bermangu dalam keheningan. Atau menyambutnya dengan air mata, meratap dengan amarah, berdiam diri di puncak gedung bertingkat sambil mempertimbangkan niat untuk bunuh diri. Ia bukan lagi senjata yang setiap saat bisa saja menghempaskan semua bagian penting dari hidupku. Ia tidak lagi seperti itu. Sepi bagai sebuah tempat tidur, menemani istirahat, membalut kegelisahan dengan cahaya yang remang. Bagai lampu lima watt, sangat remang.

Aku melinting sisa-sisa tembakau puntung kretek yang ku pungut di segala sentral tempat asap nikotin dinikmati dan dibuang. Pagi tak lagi lugu. Dentuman lonceng gereja berbunyi memecah udara. Sisa-sisa embun melekat di sebuah cermin dekat jendela kamar ukuran 3x3 ini. Mengajak sepasang inti retinaku melepaskan pandangan pada sesosok di potret itu. Masih menggetirkan rasa. Dua tahun bukan waktu yang cukup untuk menyingkirkan sebuah kenangan dari ingatan. Ia tak terlihat lagi sejak dua tahun lalu.

Ia kecewa hidupnya begitu. Terlihat jelas di matanya yang tanpa pelangi sedikitpun. Ia harusnya bahagia. Aku tahu hal itu. Semua perempuan seusia itu harusnya bahagia. Langit patut mendung kalau perempuan sesempurna itu terhempas jauh dari kebahagiaan.

Ia ingin bebas. Aku bukan orang yang cukup bebas untuk tidak mengatakan ia ingin bebas. Meski kebebasan sering disembunyikan dengan sengaja dan dengan alasan kuno, sekuno cara berpikir orang tua yang masih saja terperangkap dalam kungkungan tradisi menyesatkan. Ia pernah menceritakan padaku ingin bebas sebebas-bebasnya. "Kalau burung hanya sanggup menggapai langit, aku ingin menembus angkasa luar, bertengger di planet-planet tak bernama" katanya padaku waktu itu. Aku tak tahu apakah ia ingin mengajakku merebut kebebasan itu bersama. Ada sesuatu dalam nada suara itu yang memaksaku mengambil kesimpulan demikian. Sesuatu yang melekat di wajahnya bagiku isyarat yang cukup untuk mendukung keyakinan tentang hal itu.

Aku lupa saat pertama bersua hati dengannya. Saat itu cakrawala sedang menapaki titik awal dari sebuah episode yang benar-benar kelam. Hujan tak lagi angkuh melirihkan harmoni datar pada setiap menit-menitku digerogoti mimpi. Sementara jejak-jejak berbekas darah kian sulit terhitung.

SargassoWhere stories live. Discover now