《Twenty One》

Mulai dari awal

"Pasti bagus, kok. Mikir positif aja yang penting udah berusaha, kan."

"Siap! Thank you udah buatin kue kesukaanku."

Tak terasa waktu sudah terlewat begitu cepat. Sekarang, matahari telah tenggelam dan langit mulai gelap. Seharian ini aku benar-benar menghabiskan waktu berdua saja dengan Kak Rafa. Namun, yang membuatku takut adalah dia ingin membicarakan sesuatu yang serius denganku. Entah kenapa firasatku hanyalah hal buruk dan pikiran negatifku mulai melayang-layang.

Akhirnya dia datang dan duduk di sampingku. Tadinya aku disuruh menunggu di ayunan dekat kolam renang rumahnya karena dia mau mandi terlebih dahulu. Aku meremas bantal ayunan yang sedang kupeluk karena tidak siap mendengar kalimat apa yang akan dilontarkan olehnya.

Tante Alyssa menghampiri kami dengan membawa nampan yang berisi dua lemon tea. Setelah menaruh dua gelas di meja dekat kami, beliau duduk dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Aku tak bisa mengelak kalau beliau sangat-sangat cantik dan menawan. Tidak salah kalau anaknya sangat memesona dan juga tampan. Untung saja Om Aland tidak ada selama aku di sini. Bukan karena ada apa-apa, hanya saja aku masih canggung karena tak terlalu mengenal beliau.

"Kenza, kenapa muka kamu tegang gitu?"

Suara Tante Alyssa membuat lamunanku hilang seketika. "Ah, tidak, Tan. Tadi saya hanya memikirkan suatu hal yang tidak penting."

"Benarkah? Kalau tidak penting kenapa harus dipikirkan sampai membuat pandanganmu kosong?" tanyanya yang membuatku tersentak. Sungguh bodohnya aku memberikan jawaban yang tidak masuk akal.

"Lupakan saja, Tan. Saya terkadang memang suka begitu," elakku diakhiri tawa kecil yang kedengarannya sangat garing.

"Baiklah. Ngomong-ngomong kenapa tadi kamu tidak mengajak adikmu?"

Beliau tahu dari mana soal adikku itu? Bukankah selama ini aku tidak pernah mengenalkan Audy padanya? Bingung sekaligus terkejut mendominasi diriku saat ini. Tante Alyssa menatapku penuh tanya seakan menunggu jawaban yang akan keluar dari bibirku.

"Aku yang kasih tau Mama soal Audy," ujar Kak Rafa.

"Dia tadi sedang asyik menonton film, Tan. Kapan-kapan kalau sempat saya akan membawanya ke sini," jawabku kemudian.

"Tante tunggu, ya. Kayaknya adikmu itu bisa meramaikan rumah ini. Pasti bakalan asyik!" seru beliau dengan semangatnya.

Kuanggukkan kepalaku seraya berkata, "Oke, deh. Tapi, nggak janji dalam waktu dekat, ya, Tan."

"Tenang saja. Rumah ini selalu terbuka untuk kamu. Ya sudah Tante ke kamar dulu."

Kepergian Tante Alyssa membuat keadaan hening. Hanya suara angin yang berembus bagaikan saksi bisu atas apa topik yang akan dibahas oleh Kak Rafa. Sedari tadi hatiku sudah gundah gulana tak menentu. Jantungku berpacu tak karuan.

"Kalo inget dulu pas awal kita ketemu itu lucu banget, ya."

"Mungkin itu cuma basa-basi. Kenapa kamu suka ngulur waktu, sih? Intinya aja, dong, Raf!" batinku tak sabaran.

Dia menyenggol lenganku dan aku pun tersadar. "Enggak lucu. Biasa aja, tuh."

"Kenapa kamu jutek gitu?" tanyanya dengan alis yang terangkat dan itu membuat ketampanannya naik drastis. Aku menatapnya sok serius seakan tidak mau melewatkan ekspresinya yang selalu kusukai itu.

Kugelengkan kepalaku dengan pelan menandakan bahwa aku tidak apa-apa. Padahal, dalam diriku sudah merasa keanehan serta kejanggalan luar biasa yang benar-benar mengusik dan tidak bisa dihilangkan walaupun aku mencoba untuk tetap tenang.

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!