Keluh dan Peluh

160 3 1
                                    

Sebatang demi sebatang telah habis kubakar.
Berharap pedihnya berlalu bersama asap yang terhembus.
Ditengah keramaian ini aku berbicara pada sunyi.
Berharap kesunyian akan menyahuti kicauan bibir hitamku.
Duduk terdiam di antara bisingnya lalu lalang orang-orang.
Berharap aku tak sendirian.

Kepada ayah..
Maafkan gadis kecilmu yang tumbuh liar dan berontak akan kehidupan.
Maafkan gadis cengengmu yang kini mencoba tegar seperti karang.
Maafkan gadis manjamu yang kini tak lagi seperti yang kau harapkan.

Aku tahu, tak baik memang bersikap tak acuh dan hilang keperdulian.
Berharap semua berlalu sebagai mimpi panjang.
Aku ingin kembali ke masa itu.
Masa dimana aku hanya perlu menangis jika menginginkan sesuatu, dan kau akan datang mengulurkan tanganmu untuk mengusap air mataku.

Ayah..
Tanggung jawab ibu dan adik kini di tanganku.
Bantu aku biaskan laraku.
Karena kini aku tak mampu lagi menangis meski rasanya aku ingin.

Di perjalananku belum kutemukan pelabuhan untuk bersandar.
Muara yang kutuju masih jauh dari arungan.
Lalu bagaimana?
Nahkodaku menghilang terbawa ombak yang menerjang.

Dan malam ini, sepuluh batang sudah habis terbakar.
Namun perih itu akan selalu datang.

gadis lara,
Jakarta, 26 Juni 2016

Lantunan Dalam BaitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang