Dua

1.5K 85 6
                                    


"Juna, ini data pendukung yang diminta." Aszumi yang entah datang kapan, mengagetkanku dengan mengangsurkan lembaran kertas sekaligus merusak konsentrasi berkhayal. Sepertinya aku memang kurang fokus gara-gara ketemu sial pagi ini.

"Oke, thanks ya. Ini udah fix kan dari marketing?"

"Udah dong. Kalau buat monthly report, bosku kan selalu turun tangan langsung sebelum disetor," jelas Aszumi, "tadi aku juga udah menghadap Pak Surya, kata beliau langsung kasih kamu buat diolah."

"Oke, nanti kalau ada yang kurang ku email. Makasih Aszumi cantik, Abang Juna periksa dulu, ya." Kuberikan satu kedipan yang berbuah senyuman lebar Aszumi. Tapi belum juga dia beranjak jauh, aku teringat sesuatu, "Eh Mi, sini deh."

"Ya?"

"Kamu dari ruangan Pak Surya, kan?" tanyaku dengan suara serendah mungkin, "di sana ada bocah pake t-shirt marun, itu siapa sih, kenal nggak?" kucoba peruntungan. Siapa tahu Aszumi kenal dengan bocah resek itu karena biasanya kaum perempuan suka bergosip jadi tahu banyak informasi yang masih abu-abu. Tentu saja sambil menyelipkan doa semoga tadi kupingku salah dengar menangkap kata 'papa' atau sejenisnya yang mirip seperti itu.

"Bocah?" Aszumi berputar 90 derajat melihat ke arah pintu ruangan Pak Surya, "nggak ada bocah tuh."

"Rambut cokelat panjang, t-shirt marun."

"Maksud kamu Ayana, anak Pak Surya? Serius kamu nggak kenal anak bos sendiri?" Ekspresi kaget Aszumi benar-benar menurunkan harga diriku.

"Bukannya anaknya Pak Surya masih kecil? Masih SD setahuku. Kok itu gedean?"

"SD dari mana? Udah abege, Juna. Apalagi badannya emang bongsor. Tahu sendiri Pak Surya ada darah bulenya. Tapi ngapain kamu nanya-nanya tentang Ayana? Naksir ya?" Tampang Aszumi menyiratkan tuduhan.

"Eitsss, sembarangan! Jangan suka fitnah, Mi. Aku kan naksirnya kamu," kataku dengan sedikit bumbu gombalan. Tak mungkin bukan kukatakan kalau tadi pagi aku ingin sekali mengirim bocah tengil yang belakangan baru kutahu anak bosku itu ke kutub selatan?

"Dasar! Gombalanmu nggak mutu, tau nggak?" kekeh Asumi walau wajahnya tetap memerah, "Iya itu Ayana, anaknya Pak Surya. Pendiam banget, kan? Nggak ada suaranya. Kalau papasan di lobi, dia cuma senyum dikit. Kayaknya aku belum pernah dengar dia ngomong kenceng, deh."

Hah, pendiam? Yang benar saja!

"Kenapa kalian ngerumpiin Ayana?" Suara dari sudut membuatku dan Aszumi menoleh. Bu Mey, sekertaris Pak Surya yang satu ruangan denganku ikut angkat bicara dari balik layar komputernya. "Jangan bikin gara-gara sama dia, anak kesayangan Pak Surya, tuh. Bisa-bisa kalian langsung dirumahkan kalau nyenggol dia. Ayana kesandung dikit aja, bapaknya bisa ngobrak-abrik UGD biar anaknya bisa langsung ketemu dokter spesialis. Maklum anak tunggal." Kekeh Bu Mey yang malah membuatku berkeringat dingin.

Rasanya ludah yang kutelan pun pahit dan berubah jadi bola penuh duri. Anak kesayangan? Bagaimana kalau dia mengadu pada Pak Surya dan bilang kalau aku nyaris menelannya hidup-hidup pagi ini? Pasti akan jadi lelucon sepanjang masa kalau aku sampai dipecat hanya gara-gara melotot pada anak bos.

Bahkan sepanjang pagi aku tak bisa sepenuhnya konsentrasi kerja. Rasanya seperti orang menahan kentut dan sakit perut. Sakit, tegang dan takut. Mimpi apa aku sampai kejatuhan sial begini? Walau aku yakin Pak Surya bukan tipe bos semena-mena yang gampang termakan gosip, tapi tetap saja, kali ini yang mengadu adalah anaknya. Masa performa kerjaku yang nyaris sempurna terkotori dengan insiden tak penting dengan putri bos? Ini jauh sekali dari kata keren!

Akulah ArjunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang