Prolog

31K 1.5K 21

"Bos, kenal sama cewek itu?"

Wiga mengalihkan pandangannya pada arah kemana dagu Eno menunjuk. Wiga memicingkan matanya untuk memastikan siapa wanita yang sejak tadi memperhatikannya. Wanita itu cantik dengan terusan selutut tanpa lengan berwarna biru tua. Tangannya sibuk memegang gelas berisi minuman berwarna coklat kekuningan yang Wiga tebak adalah wiski. Wanita itu masih memperhatikannya seolah memang mereka saling mengenal.

"Nggak, tapi kenapa dia ngeliatian saya terus ya?"

"Yakin bukan mantan pacar Bos?"

Wiga meneleng kepala Eno dengan santainya, "Kamu pikir saya pikun sampai tidak mengenali mantan pacar sendiri." Bela Wiga.

"Bos kan mantan pacarnya banyak mungkin aja lupa salah satunya.'

Wiga baru saja hendak meneleng kepala asistennya itu lebih kencang ketika terkejut oleh kedatangan wanita itu.

"Bos.. orangnya dateng.." bisik Eno. Wiga memperhatikan bagaimana wanita itu duduk di Bar chair disampingnya dengan santai. Wajahnya tanpa ekspresi. Dari aroma tubuhnya tercium bau minuman yang menyengat.

"Sial.. dia mabuk berat, kau saja yang urus." Desis Wiga pada Eno.

Asistennya itu bergegas pindah di samping wanita itu, "Mbak, siapa ya? Kenal sama kita?"tanya Eno. Wiga masih memperhatikan wanita itu baik-baik.

Wanita itu menggelengkan kepalanya lalu menaruh gelasnya di meja bar dengan cukup keras. Wiga dan Eno beradu pandang. Keduanya berdoa agar tidak terlihat seperti sindikat penceluk yang mengincar wanita-wanita berkantong tebal.

"Trus kenapa mbak di sini?" tanya Eno berhati-hati agar tidak menimbulkan respon yang heboh dari wanita itu. Wiga turut mendoakannya dalam hati.

"Aku kan cuma mau cari temen, kalian lagi minum juga kan?"

Wiga dan Eno mengangguk bersamaan.

"Ya sudah ayo kita minum sama-sama."

Wiga menutup wajahnya sambil menggelengkan kepalanya. Eno sudah nyengir sambil memperhatikan wanita itu yang minum dengan santai sambil sesekali meracau.

"Kalian tahu apa hukuman yang cocok bagi pria yang suka mempermainkan wanita? Kebiri! Mereka pantas dikebiri!" racau wanita itu yang membuat Eno menelan ludahnya dengan susah payah.

Wiga tersenyum tipis sedikit terhibur atas aksi liar yang wanita itu lakukan. Meracau dan minum sampai tak sadarkan diri jelas adalah aksi liar. Wiga menduga wanita itu pasti habis putus dengan kekasihnya. Apa sekarang minum pasca putus cinta sedang trend karena entah sengaja atau tidak Wiga pun melakukannya.

"Hei kamu... kamu ganteng banget, siapa nama kamu?"

Wiga tersadar saat wanita itu sudah menggerayangi wajahnya dengan tangannya yang lembut. Mata sayu wanita itu menatap Wiga dengan seksama. Wiga tergoda untuk lebih mendekat agar dapat melihat warna mata wanita itu tapi ia tak mau disangka Eno sebagai pria yang doyan mengambil kesempatan.

"Kenapa kamu mau tahu nama saya? Kamu sendiri siapa?"

"Aku? Aku Hanin, tiga puluh dua, single dan need partner life," jawaban wanita itu membuat Wiga tersenyum lagi.

"Kau mabuk Hanin, dimana rumahmu biar saya antar." Ujar Wiga yang membuat Eno melotot pada bosnya itu.

"Bos.. kau jangan ambil kesempatan,"desis Eno. Wiga meneleng kepala Eno lagi sampai pria itu terjengkang dari kursinya.

"Berisik, kau lebih percaya dia pulang dengan saya atau dengan pria hidung belang di club ini?"

Eno meringis sambil mengelus dadanya karena terkejut dengan aksi Wiga yang barbar. "Aku tidak percaya keduanya Bos, Bos kan sama saja dengan pria hidung belang lainnya."

"Enooo!" Wiga tak tahan untuk memukul asistennya yang selalu bicara terang-terangan padanya.

"Kenapa kalian berisik sekali sih, aku bisa pulang sendiri tahuu." Wanita bernama Hanin itu bangkit dari kursinya lalu tak lama terjatuh dan tak sadarkan diri.

Wiga dan Eno mematung ditempatnya masing-masing. Keduanya menatap Hanin dengan ekspresi kebingungan.

"Apa yang harus kita lakukan? Wanita itu mabuk parah." Tanya Eno. Wiga berinisiatif menggendong Hanin yang tubuhnya ternyata lebih ringan dari dugaannya.

"Saya akan membawanya pulang."

"Tapi Bos -"

Wiga melotot tajam pada Eno, "Saya tidak akan macam-macam padanya, hapus pikiran kotor dari otakmu itu."

Eno bertugas untuk membayar tagihan karena Wiga sibuk menggendong Hanin keluar dari club. Tak ada yang mencegah atau menanyakan siapa Wiga dan Eno. Harusnya petugas keamanan jauh lebih berhati-hati pada orang yang 'kelihatannya' seperti mereka yang tiba-tiba saja membawa seorang wanita yang tak sadarkan diri keluar dari club.

"Bos beneran mau bawa dia ke Apartemen Bos?"

"Lalu saya harus membawanya kemana Eno? Hotel? Kamu pikir Hotel akan menerima saya dan wanita ini kalau tahu kami tidak ada hubungan apa-apa?"

Eno menggeleng bak robot.

"Tuh tahu, ya sudah.. kamu bawa mobil saya karena saya akan naik taksi, jangan bangunin saya sebelum jam 12 besok."

Wiga menghentikan taksi untuk dirinya dan Hanin di lobi club. Keduanya masuk tanpa ada yang mencurigai.

"Bos.. kau hati-hati, jangan sampai kebablasan." Celetuk Eno yang disambut lemparan korek api dari Wiga.

"Kita kemana Pak?"tanya Sang Supir.

"Apartemen Darmawangsa."

"Baik Pak."

Wiga menyandarkan tubuhnya berusaha rileks sedangkan Hanin masih tertidur dengan posisi duduk seperti dirinya. Wiga menatap wanita itu dengan seksama. Rambut kecoklatan yang tergerai sampai punggung, wajah putih dengan hidung mancung dan alis tebal yang terukir cantik. Kuku yang dimanikur dengan rapih bahkan dicat dengan warna putih tulang. High heels warna merah dan tas yang dibawa wanita itu. Hanin jelas bukan wanita murahan.

"Kamu lihat apa?"

Wiga terkejut tak menyadari Hanin yang ternyata sudah sadar, "Kamu sudah sadar?"

"Sadar? Memangnya aku pingsan?"

"Kamu nggak pingsan, kamu mabuk."

"Ooh.. mabuk.. hehehe.. aku mabuk ya.. uuweeeee,uweeeeeekk."

"Ahh sial.. kenapa kamu harus muntah di kaos favorit saya." erang Wiga frustasi.

****

Ini cerita baru Anja.. judulnya Desperate For Love.. cerita ini Anja buat agar Anja lebih sering nengok wattpad. lebih sering aktif update agar tak mengecewakan kalian. Anja harap kalian suka sama Wiga dan Hanin ;)

Salam Hangat,

Angin Senja

DESPERATE FOR LOVEBaca cerita ini secara GRATIS!