Dua

4.2K 152 15
                                    


"Dave, ayo dong." Ghea merajuk lagi. Dengan suara dibuat-buat dan sengaja mengedipkan bulu matanya yang panjang berulangkali. Gadis ini lama-lama menyebalkan. Kalau saja tak ingat kaki jenjang, dada besar dan betapa perempuan satu ini begitu pandai berciuman, rasanya aku tak sudi meladeni semua rengekan dan rayuan maut yang dilancarkan.

"Ck, apaan sih, Ghe? Kan bukan aku yang minta diajak ke rumahmu." Dengan sengaja kuhela napas keras-keras, mengisyaratkan suasana hati yang buruk. Bukan ini rencanaku untuk Ghea. Tak pernah ada dalam kamusku mendekati seorang gadis sampai taraf perkenalan keluarga. Bagiku perempuan hanyalah sebuah nama. Yang membedakan mereka cuma ukuran payudara dan bagaimana keahlian di atas tempat tidur. Sekali cukup, atau jika sangat memuaskan, dua kali bolehlah.

Tapi kali ini berbeda, Ghea pintar bermain. Sedikit menggoda, sedikit memberi, dan menjanjikan banyak untuk lain kali. Hingga aku tak percaya bisa tahan menunggu sejak dua minggu lalu kami bertemu. Sejak pertama melihat pun, aku tahu Ghea bukanlah gadis lugu. Kami bertemu di pub milik temanku Andro, tempat para sahabatku berkumpul menikmati musik, minuman dan perempuan tentu saja. Dan Ghea ada di sana, seolah mengumpankan diri pada singa lapar dengan hanya memakai tank top ketat dan hot pants yang bener-benar hot. Aku sudah setengah gila melihat kaki jenjang berbungkus boot merah yang dipakai Ghea meliuk di lantai dansa. Seolah memanggil-manggil dalam tarian sensual yang disengaja.

Tentu saja aku mengincarnya dan berhasil membawa gadis itu ke jok belakang mobil sebelum malam berakhir. Walau tak sampai bermalam di kamar hotel, tapi aku sangat optimis, hanya soal waktu saja Ghea akan menjadi salah satu perempuan penghangat tempat tidur. Saat itu kupikir dia memang bukan tipe gadis one night stand hingga butuh sedikit waktu untuk terbiasa denganku. Terbukti dari keahliannya bercumbu, jelas dia sudah terbiasa dengan sesi raba-raba dan tebar bibir kemana-mana.

"Iya, tapi kan aku mau ngenalin kamu ke Mama-Papaku. Sekalian di sini lagi ada acara keluarga. Ini rumah tante aku, Dave, semua keluarga besar lagi ngumpul. Katanya kamu mau serius, makanya kuajak kenalan sama mereka semua. Lagian kalau Mama-Papaku sudah ngasih restu, kan kita bisa bebas kalau mau ngapa-ngapain," bujuknya dengan senyum berdaya ribuan watt—dan lagi-lagi kedipan bulu mata.

Pada akhirnya, toh aku luluh juga. Meninggalkan mobil dan mengikuti Ghea masuk pekarangan rumah yang berisik dengan banyaknya tamu. Menampilkan diri seperti teman dekat baik hati yang begitu pengertian, karena memang itulah kesan yang ingin kuberikan. Walau sebenarnya aku sudah bertekad mengucapkan selamat tinggal kalau dia tak juga membuka paha setelah ini. Tak peduli tubuh seksi itu membuatku berliur, juga payudaranya yang besar begitu menggoda. Dua minggu terlalu lama hanya untuk mendapatkan tubuh seorang gadis dan aku tak mau membuang waktuku yang berharga. Cukup adalah cukup.

"Ghea, hei! Mamamu bilang, kamu nggak bisa dateng, Sayang." Seorang perempuan seumuran Mami menghampiri kami dengan senyum lembut menenangkan. Raut wajahnya yang ramah mengingatkan pada guru TK-ku dulu yang tetap tersenyum menghadapi muridnya yang sering menangis tanpa sebab. Tipe-tipe penyabar begitulah. Wanita itu memeluk Ghea erat yang diakhiri dengan mengusap-usap lengan gadis itu dengan sayang.

"Iya nih, Tante, tadinya sih gitu. Soalnya banyak kerjaan di kantor. Sabtu begini aku masih disuruh lembur sama bos. Untungnya udah selesai jam segini," Ghea menjawab dengan mulut mengerucut. "Eh iya, Tante kenalin dong, ini Dave, pacar Ghea"

Aku hanya bisa menaikkan alis karena merasa heran. Dari dimensi waktu yang manakah kami menyatakan diri sebagai sepasang kekasih? Kalau sebatas raba-raba dan adu bibir adalah indikasi berpacaran, tentu seluruh perempuan di Jakarta sudah mengaku jadi pacarku sekarang! Tapi meski memiliki jiwa brengsek yang begitu dominan, orangtuaku masih sempat mengajarkan kesopanan hingga rasanya tak elok kalau menentang statement Ghea di depan keluarganya. Dengan senyum basa basi sebagai pemanis, kuikuti permainan gadis ini.

Cinta Masa LaluTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang