Part 9- Firasat & Perasaan

2.9K 253 4


Setelah berpikir cukup keras, Cellyn memutuskan untuk menemui Kevin sepulang sekolah. Dia bergegas memasukkan buku beserta alat tulisnya ke dalam tas. Kevin pasti sudah menunggunya di depan. Dan benar saja Kevin sudah duduk di kursi depan kelasnya dengan kaki yang disilangkan. Begitu melihat Cellyn kakinya diturunkan dan senyumnya mengembang.

"Udah selelsai, yuk aku antar pulang sekalian privat kimianya."

"Em anu Kev... bukannya aku nggak mau kamu ke rumah. Tapi privatnya di taman aja ya."

Kevin sedikit terkejut tapi tetap menjaga raut mukanya setenang mungkin. "Yaudah terserah kamu aja sih."

Cellyn sedikit merasa tidak enak karena kentara sekali alasan membatalkannya sangat klasik. "Kamu marah?"

Dua kata dari Cellyn dan Kevin kembali tersenyum manis mengalahkan panas hari ini. Senyum sejuknya menenangkan Cellyn. Seperti oasis di tengah padang pasir. Seperti sungai mengalir yang jernih, tenang dan menghanyutkan. Begitu juga senyum Kevin yang jarang dia temui jika tidak sebulan atau seminggu sekali. Tapi kali ini cellyn merasa bersyukur karena semenjak dia menjadi pacar Kevin, dengan sukarela dan tanpa paksaan Kevin selalu menampakkan senyum itu hanya pada Cellyn. Cellyn yakin itu.

"Buat apa aku marah, cepet tua. Yuk keburu sore," selajutnya mereka berdua pergi melenggang menuju taman kota.

***

Bukannya mendengarkan celotehan Kevin, Cellyn asik memerhatikan anak-anak yang bermain skeatboard dekat taman. Mereka dengan lincah bisa melayang di puncak arena dan kembali mendarat dan melaju lagi dengan mulus. Cellyn ingin mencoba, tapi dia cukup sadar setelahnya pasti ia akan berakhir rawat inap di rumah sakit.

Kevin memerhatikan arah pandang Cellyn. Gadis itu begidik sendiri saking liarnya imajinasinya membayangkan dirinya yang bermain. Tangan kevin bergerak ke atas ke bawah tepat sejajar dengan wajah Cellyn. Gadis itu sadar dan mengerjapkan matanya satu kali. Dia tersenyum kikuk karena ketahuan mengacuhkan Kevin.

"hehe maaf," Cellyn menggaruk tengkuknya yang baik-baik saja.

Kevin hanya menggeleng pelan dan melanjutkan materi privat kimianya. Entah hawa apa yang membuat Cellyn mudah sekali menerima materi kimia yang selama ini menjadi momoknya belajar. Lancar mengalir seperti tidak ada hambatan sama sekali. Cellyn mangut-mangut semangat dan sesekali mencuri pandang ke Kevin.

Cowok itu cukup tampan, sangat tampan malah. Cellyn mengakuinya. Terlihat dari gaya rambutnya yang sedikit dibuat berantakan, hidung yang mancung, alis yang tebal dan tertata rapi seperti disulam, semakin menambah plus Kevin. Apalagi sebagian wajahnya diterpa sinar matahari yang membuat Kevin harus menyipitkan matanya. Bolehkah Cellyn meleleh saking lumernya pemandangan di depannya ini. Cellyn bahkan tidak menyangka Kevin akan menjadi pacarnya. Mengingat first meet nya dengan Kevin tidak begitu baik, juga saat Kevin menembak Cellyn, tidak ada romantisme sama sekali. Seperti candaan belaka.

"Ganteng."

Cellyn menyadari, kata hatinya barusan tersuarakan keluar dan untuk kedua kalinya Cellyn membuat malu dirinya sendiri di depan Kevin. Selain saat dia mengatakan 'hai' pada Kevin saat upacara MOS.

***

Cklek

"Dari mana pulang sore gini."

Dengan susah payah Cellyn menelan ludahnya yang terasa bersarang ditenggorokannya, tidak bisa tertelan.

"Habis dari taman bang, ketiduran," jawabnya meyakinkan

"Siapa cowok yang ngantar kamu."

"Temen."

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!