Blue Guitar Cover

46 4 3

Kotak kayu berpelitur terbuka di hadapan seorang gadis, di atas tempat tidurnya yang berseprai baby pink. Gadis itu menatap nanar pada sebuah foto yang berada pada tumpukan paling atas dalam kotak tersebut.

Foto yang memuat gambar seorang pemuda berparas tampan dengan mata sipit dan bibir yang tipis. Ia berpose dengan membawa sebuah karton bertuliskan, "Happy B-day dearest Lily!".

Senyumnya begitu menawan dan matanya benar-benar jujur.

Gadis yang bernama Lily itu kemudian menyeka sudut mata dengan selembar tissue. Ada satu kotak tissue yang ia letakkan di sebelah tubuhnya yang terduduk kaku menatap isi kotak kayu itu. "Ahh," desahnya.

"Marion, kenapa masih saja kerasa sakit sih?" gumamnya dengan suara tercekik.

Ia memang tengah berusaha menahan tangisnya yang mulai tak terbendung. Kerongkongannya benar-benar tercekik sekarang, seandainya ada sang bunda di dalam kamarnya sudah tentu ia akan menelpon 911 karena yakin anaknya tengah berada dalam situasi darurat.

Yaa, darurat sih sebenarnya. Darurat cinta.

Lily mengambil tutup kotak dan menutup kotak kayu penuh kenangannya tanpa bicara sepatah katapun lagi. Emosinya agak reda setelah kotak manis itu kembali ke tempatnya semula, di bawah tempat tidur.

Gadis itu kemudian bangkit dan berjalan menuju jendela, lalu duduk di bagian jendela yang menjorok keluar. Jendelanya memang dibuat menjorok keluar, kacanya melengkung dan berada di lantai dua. Selalu ada pemandangan baru setiap hari karena kamarnya menghadap ke jalan raya.

"Dulu kamu disitu Marion..." gumam Lily, dengan suara yang makin pelan.

Duduk di jendela dan melihat keadaan diluar ternyata tak bisa membuat situasi hatinya menjadi lebih baik. Karena ada kenangan menyakitkan yang menantinya disana. Dulu, hampir dua belas bulan yang lalu selalu ada seorang lelaki muda bermata jujur yang berdiri di bawah lampu jalan, memandang ke arah jendela kamarnya dan menanti Lily melongokkan kepala.

Marion.

Ia akan melambaikan tangan kepada Lily untuk mengucapkan selamat pagi. Selalu! Setiap hari selama mereka menjalin hubungan selama kurang lebih empat semester.

Ah, Marion yang manis dan romantis.

Sekarang Lily tak mampu menahan tangisnya. Ia pun menangis dan tak sedikit pun ingin menyeka air matanya. Dibiarkannya mutiara bening itu meluncur bebas menyusuri kedua belah pipinya yang bersemu merah.

"Riing, riiing!!" ringtone old phone terdengar dari arah tempat tidurnya. Ponselnya memang ia letakkan di dekat bantal. Seseorang menelpon.

Jelas bukan Marion. Karena ringtonenya sudah distel khusus untuk nomor malaikat cintanya itu. Sejak ia menghilang enam bulan yang lalu, ponselnya tak pernah menderingkan ringtone itu lagi, karena Marion tak pernah menelponnya.

Perlahan Lily turun dari jendela dan kembali ke tempat tidur, meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera pada layar yang berkedip-kedip itu. Suzy. Teman sebangkunya.

"Iya Suz.. kenapa?" ujarnya setelah menekan tombol hijau.

"Kenapa suara lo begitu? Nangis lagi lo ya?" tuding Suzy tanpa basa basi lagi. Ia memang tahu persis apa yang terjadi pada teman sebangku yang merangkap sahabatnya ini. Ia hampir tahu semua tentang Lily, termasuk hubungannya dengan Marion yang berakhir begitu saja.

Lily tak segera menjawab, ia hanya menjauhkan ponsel dari mulutnya untuk berdeham sebentar, menyetel suaranya agar terdengar lebih normal. "Enggak kok, gue enggak nangis..."

Endless BlueBaca cerita ini secara GRATIS!