♡Prolog♡

56.8K 2.6K 317

---

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


---

Bagaimana aku bisa menghentikan badai, jika menghentikan gemuruh di dadaku pun aku tak sanggup?

Bagaimana aku bisa mengetahui apa yang kau pikirkan tentangku, jika bertemu pun kita saling tak acuh?

Bagaimana caranya aku menjelaskan apa yang kurasa, jika memandangku pun kau tak mau?

Bagaimana caranya menahan buncahan aneh, yang hanya bisa kurasakan jika tentangmu?

Ketika kau menyapaku walau hanya sekedar tundukan,
yang justru semakin membuat wibawamu melonjak di mataku...

Kau tahu?

Karena itulah aku tak bisa berpikir jernih!

Karena itulah aku seakan gila!

Menebak-nebak apa yang sebenarnya maksud dari semua yang kau lakukan!

Bertanya kemudian menjawab pertanyaan yang kulontarkan sendiri!

Aku seperti memiliki perasaan yang semu, karena hadirmu seperti sekedar fatamorgana di hidupku

Apa memang kau tahu bahwa aku memiliki perasaan ini padamu, maka kau terlalu egois untuk memikirkannya?

Atau memang kau menganggapku tak pantas untukmu, yang jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan diriku?

Namun jika aku harus jujur, aku akan jujur

Sebencinya kau padaku...

Bahkan kau tak ingin melihatku sedetikpun

Aku tetap memendam gemuruh ini

Meskipun kau tak mengizinkannya mengendap di sini, di hatiku

Aku tak bisa berbohong

Engkau, telah melambungkanku...

---




♡♡♡




Suara gesekan pensil yang menari di atas buku tulisku, sejak tadi mendominasi suara di kamarku yang hening. Meskipun terkadang, terdengar suara dengkuran halus dari adikku satu-satunya, Saibah. Sesekali aku memperhatikannya, sekedar memastikan tidak ada nyamuk yang hinggap.

Pandanganku kembali tertuju, pada sekelumit tulisan di buku tulis yang berada tepat di hadapanku. Bagiku, ini bukan buku tulis biasa. Ini, buku tulis yang berisi goresan dan tumpahan hati dan pikiranku. Berisi tentang sesuatu.

Pikiranku perlahan mencerna satu persatu kata yang kutulis sejak usai isya tadi, hingga kini telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku mengulas senyum. Sesekali terselip gelengan pelan, dengan senyum simpul yang masih tersisa di sudut bibirku. Aku hanya heran, akhir-akhir ini aku begitu puitis.

Tentang rangkaian tulisan-tulisan manis, yang merupakan buah dari apa yang mengendap di hati dan pikiranku, aku merasa ini suatu keanehan. Ya, cukup aneh bagiku. Mengapa aku bisa seperti ini?

Sejak suatu 'rasa' itu menyergap tiba-tiba, yang sama sekali tidak kuharapkan kehadirannya, membuatku memiliki banyak kosakata untuk kuluapkan tentang sesuatu hal.

Tentang rasa yang datang tak diundang.
Tentang ia yang sulit untuk kuraih.
Tentang aku yang ahli dalam menyimpan rasa, namun tak ahli dalam mengungkapkannya di suatu masa.
Tentang ia yang begitu luar biasa di mataku.
Tentang cinta yang tak kunjung usai.
Tentang waktu yang tak kunjung berhenti, jika tatapanku menatap lezat indahnya kepribadiannya.

Desiran ini masih tersimpan rapi sejak pertama kali aku merengkuhnya. Rapat. Bahkan kelima teman dekatku di sekolah tidak ada yang tahu.

Ya, tidak ada yang tahu. Dan aku, tidak akan memberitahunya pada siapapun jua.

Aku akan terus menyembunyikannya, meski tatapanku padanya tak dapat membohongi hasratku yang tersirat.







♡♡♡







°To Be Continue°


WARNING!

Cerita ini sebagian diprivate. Disarankan untuk follow akun saya terlebih dahulu agar dapat membaca konten secara keseluruhan.

Maaf merepotkan.
Oke. Terimakasih.

 Terimakasih

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Tersirat ✔ [Belum Revisi]Baca cerita ini secara GRATIS!