chapter 1

171K 9.7K 240

Ali memutar bola matanya jengah menatap kesekeliling kelasnya, semua mata tertuju padanya tanpa terkecuali. Bahkan bu Dewi yang terkenal sangat menakutkan itu kini tengah menatapnya dengan tatapan memohon.

"Ayolah Ali," entah sudah berapa kali gurunya itu mengucapkan kalimatnya itu.

"Kenapa harus dipikirin sih bu? Biarin aja dia mau ngapain. Toh gak bakal ada yang bisa marahin dia kan?"

"Iya, tapi kamu tau sendiri efeknya bila dia dibiarkan. Ayolah Ali, ini juga pasti karna kamu makanya dia kayak gitu," kini bu Dewi terlihat sudah mulai lelah membujuk Ali yang selalu ada jawaban untuk menolak permintannya.

"Iya nih Li pasti gara-gara lo."

"Iya bener."

"Buruan dong Li."

"Lo mau liat guru-guru kita pada dipecat? Terakhir pak Joko, guru favorite gue. Kalau sampai sekarang bu Dewi juga, gue bener-bener gak terima. Walaupun bu Dewi galak, tapi sebenarnya dia baik kok."

"Susan kamu ngomong apa barusan?"

"Hehehe maaf bu, becanda."

Ali menghembuskan nafasnya kasar kemudian bangkit dari duduknya. Ali sadar ia tak akan menang mengalahkan suara satu kelas yang selalu memojokkannya setiap kali dalam keadaan seperti ini.

"Oke," balas Ali pasrah kemudian berjalan keluar kelas.

Semua isi kelas menghela nafas lega. Setidaknya mereka yakin Ali Arkayuda itu bisa menyelesaikkan semuanya. Ali selalu bisa di andalkan dalam situasi seperti ini.

***

"Turun!"

Seorang gadis yang sedang berdiri di atas meja dengan tangan yang memegang piloks langsung menunduk saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan, ia sudah mengira jika lelaki itu pasti akan datang.

"Enggak, sebelum lo malam ini mau nemenin gue nonton," balas gadis itu acuh kemudian melanjutkan aksinya menyemprotkan piloks itu ke tembok.

"Prilly, turun!"

Kini suara lelaki itu makin terdengar tegas. Bukannya menjawab gadis itu tetap sibuk dengan piloksnya. Tangannya mengukir huruf A dan P dengan begitu besar di dinding.

"Mau lo itu apa sih? Lo selalu kayak gini. Lo coret dinding seenak lo saat lo gak bisa dapatin apa yang lo mau, dan setelah itu lo ngadu sama bokap lo seolah-olah lo di tindas dan akhirnya guru yang saat ngajar di jam lo ngelakuin hal bodoh ini di pecat sama bokap lo setelah itu lo ngamcem gue buat lakuin apa yang lo mau biar guru itu bisa balik lagi ngajar disini, itu kan mau lo."

"Nah itu tau, pinter! Ali Arkayuda memang pinter, jadi makin suka," Gadis itu tersenyum tanpa menghentikan aksinya.

Ali mengacak rambutnya frustasi. Gadis ini selalu sukses membuatnya pusing. Kalau tahu akhirnya akan seperti ini. Ali tidak akan pernah melakukan melakukan hal yang baru ia sadari adalah sesuatu yang bodoh beberapa bulan yang lalu.

"Gue bakal berhenti ngukir huruf awal nama kita asal lo mau nonton sama gue malam ini. Ayolah Li, ada film baru seru banget."

"Ntar malam gue harus latihan sama band sekolah buat persiapan lomba."

"Kan lombanya masih lama, latihannya juga bisa nanti-nanti."

"Oke ntar malem kita nonton," balas Ali pasrah membuat gadis itu menghentikan aksinya.

Prilly menunduk melihat Ali dengan sumringah.

"Gitu dong dari tadi. Yaudah bantu gue turun. Mejanya ketinggian," ucap gadis itu mengulurkan tangannya.

Ali berdecak kesal kemudian menyambut uluran tangan gadis itu dan membantunya untuk turun. Gadis itu tersenyum senang walaupun Ali hanya memperlihatkan wajah masamnya.

"Ntar sore gue bakal suruh orang buat cat dinding ini lagi, jadi lo tenang aja," ucap Prilly menyadari tatapan Ali yang terfokus pada dinding yang dulunya mulus kini sudah dihiasi dengan huruf A dan P.

"Yaudah sekarang lo buruan masuk kelas."

"Ih apaan sih, 30 menit lagi udah jam istirahat, nanggung banget. Mending kita ke kantin. Gue laper nih, yuk makan," ajak Prilly merangkul lengan Ali.

"Gue bilang masuk kelas sekarang atau gue gak bakal jemput lo nanti malam."

"Lo ngancem gue?" Tanya Prilly sengit.

"Terserah lo mau pikir itu ancaman atau enggak."

"Oke... oke.. gue bakal ke kelas. Gue tunggu ntar malem," balas Prilly kemudian berlalu dari hadapan Ali.

Ali mengusap wajahnya kasar. Tak pernah Ali bayangkan sebelumnya hidupnya akan di datangi oleh remote control seperti Prilly. Ali sebenarnya bingung, terkadang ia bisa menjadi pemilik remote control itu yang dapat menguasai sikap pemaksa Prilly, namun terkadang ia bisa menjadi orang yang dikuasai remote control dan tentu saja Prilly lah pemiliknya.

Jika tahu akan seperti ini ujungnya, Ali ingin waktu terulang kembali dan kejadian itu tak pernah terjadi saat dimana Ali menolong Prilly. Prilly merupakan anak baru disekolahnya sekitar 3 bulan yang lalu. Baru masuk Prilly sudah memperlihatkan sikap ketus dan dingin jauh dari kata ramahnya. Hal itulah yang membuatnya tak diterima begitu baik disekolah ini. Hingga suatu hari Prilly terlibat adu mulut dengan sekumpulan siswi di sekolah ini. Masalahnya simple, hanya karna Prilly tak sengaja menumpahkan minumannya dibaju salah satu siswi itu dan ia tak ingin minta maaf semuanya menjadi panjang. Sebenarnya Prilly bukannya tak mau meminta maaf, hanya saja melihat reaksi marah-marah berlebihan dari siswi itu membuat ia merasa malas untuk meminta maaf. Merasa tak terima siswi itu hendak membalasnya dengan menyiramkan kuah bakso miliknya, namun Ali yang kebetulan berada di kantin itu dan mulai merasa jengah dengan perdebatan mereka itu akhirnya menahannya untuk tidak menyiramkan kuah bakso itu pada Prilly. Prilly yang melihat Ali langsung terpaku.

Prilly tak menyangka, Ali salah satu siswa yang sekelas dengannya yang selama ini terkesan acuh atas kehadirannya tiba-tiba datang seolah menyelamatkannya. Padahal di kantin ini banyak orang namun hanya memilih untuk menonton karna Prilly sadar mereka semua tak suka dengannya. Namun Ali malah menyelamatkannya. Sejak saat itulah Prilly terpesona dengan Ali. Ia menganggap Ali akan selalu melindunginya walaupun Ali selalu bersikap acuh padanya. Ali tak menyangka, aksinya yang hanya ingin melerai perkelahian itu membuat gadis itu mengartikan beda atas tindakannya. Dan parahnya lagi keesokan harinya langsung tersebar pengumuman bahwa sekolah mereka kini berada dibawah kepemilikan ayah Prilly. Hal itu membuat semua orang yang selama ini memandangnya tak suka menjadi begitu takut berhadapan dengan gadis itu.

Dijadikannya ayah Prilly sebagai pemilik sekolah itu membuat Ali makin terperangkap oleh Prilly yang mulai semena-mena dengannya. Ali sebenarnya tak mengerti apa maksud gadis itu. Cinta? Ia melakukan itu karna cinta? Melakukan segala cara agar Ali mengikuti perkataannya karna cinta? Entah lah, Ali pun tak tahu karna gadis itu tak pernah mengungkapkan cinta padanya. Hanya saja baginya Ali adalah miliknya. Ya, miliknya! Jika A dan P dalam abjad terletak cukup jauh, namun tidak bagi Prilly. Ia bisa melakukan apa pun agar A dan P selalu berdampingan.

Haiii haiii haiii aku datang bawa cerita baru hahaha. Ide cerita ini udah lama banget ada di kepala. Rasanya sayang aja kalau gak di keluarin,ntar malah lupa hahaha. Semoga suka yaaa. Dan selalu setia nungguinnya hehe. Ayoo vote dan commentnya sangat ditunggu guys hehe

A dan PBaca cerita ini secara GRATIS!