👇Yuk tonton trailernya dulu 👇

👆Yuk tonton trailernya dulu👆

~~~

"Mauku tak menyakiti. Meski begitu indah, ku masih tetap saja. Jenuh." -Jenuh, Rio Febrian.

~~~

Sejak satu jam terakhir, cowok berlesung pipi yang berada di depanku ini masih saja terus-terusan bercerita. Bahkan aku yang ada di hadapannya pun tidak tau dia bercerita perihal apa. Telingaku mendengar suaranya, tapi fokusku tidak sepenuhnya ke dia. Sangat laknat kelakuanku ini.

Padahal biasanya, setiap cerita yang terlontar dari mulutnya selalu membuat kedua sudut bibirku terangkat dan perhatianku akan sepenuhnya mengarah kepadanya. Tapi kali ini beda. Entahlah, aku tidak dapat mendeskripsikan mood yang sedang menguasaiku sore ini.

Cowok bernama Arsen di depanku ini mengangkat kepalanya menatapku sepenuhnya. Sisa tawa masih tercetak jelas di bibirnya. Aku yakin, dia pasti baru saja bercerita tentang kejadian lucu atau mungkin mengarang cerita lucu hanya untuk sekadar menghiburku. Selalu begitu.

Rasanya ingin ku urungkan saja tujuan awalku mengajaknya bertemu. Aku tidak yakin semuanya akan berjalan dengan baik jika aku mengatakan kalimat yang sudah ku susun rapi-rapi semalam. Namun, jika hubungan kita terus berlanjut, aku juga tidak yakin semuanya akan sebahagia itu.

Serba salah.

Belum aku mengatakan apa yang ingin ku sampaikan, tetapi rasanya benda-benda yang berada disini seolah mendekatiku dan mengurungku hingga aku sulit bernapas. Sesak.

"Oiya, lo ngajak gue ke sini buat ngomongin sesuatu, 'kan?" tanyanya.

Sontak aku menengadah. Langsung ku tatap telak di bola matanya. Hingga aku dapat melihat pantulan diriku sendiri di sana.

"Ya." Aku mengangguk. Ku raih secangkir teh hangat yang ku pesan kepada pelayan beberapa menit yang lalu. Aku menutupi kegugupanku dengan menyeduh teh itu. "Gue minta putus, Sen."

Mulutnya langsung terkatup rapat saat kalimat itu meluncur mulus dari bibirku. Kaget, kecewa, dan ekspresi semacamnya bercampur aduk di raut mukanya. Apalagi sorot matanya menampilkan luka yang sangat nyata.

"Lo bercanda, 'kan?" tanyanya tidak percaya. "Ini udah gak April lagi lho." Dia tertawa hambar, sehambar perasaanku sekarang.

Aku menggeleng demi meyakinkan pertanyaannya tadi. "Gue serius."

Putus. Satu kata, lima huruf, satu arti yang penyebutannya tidak ada satu menit, tapi efeknya akan sangat lama. Bagaimana tidak? Tiga tahun aku pacaran dengan Arsenio Adhyasta dan tahun ini akan menginjak empat tahun. Sejak kelas 7 SMP, omong-omong. Memang saat itu bisa dikatakan masih cinta monyet, namun seiring berjalannya waktu, perasaan kita semakin lama semakin kuat dan yah ... kita berada di titik sejauh ini.

"Why?" Arsen memintaku untuk menjelaskan alasannya.

Tidak mungkin aku menjelaskan tentang alasanku. Aku tidak mau membuatnya sakit hati-padahal baru saja aku membuatnya sakit hati. Namun hanya alasan klise yang keluar dari mulutku. Alasan klise yang sulit di terima orang.

"Gue jenuh."

Bohong. Aku memang berbohong. Alasanku tidak semata-mata hanya jenuh. Ada alasan lain yang lebih spesifik dari jenuh.

Our Simple MemoriesBaca cerita ini secara GRATIS!