End :: 1

78K 7.3K 766

1 :: Pulang

ZOE:

SATU-SATUNYA hal yang aku nantikan setibanya di Jakarta tak lain tak bukan adalah kembaranku, Mira. Maka dari itu ketika melihat Mira berada di barisan penjemput di bandara, aku sudah nggak ingat semuanya. Aku melepas koperku, membuat Alyssa terpekik kaget karena menimpanya, lalu berlarian menuju Mira dan memeluknya.

"Woi!" seru Mira. Sudah barang tentu, dia kaget karena serangan tiba-tibaku. "Malu, ih! Banyak orang, Bri."

Aku semakin mengeratkan pelukan kami. Mira membalasnya. Aku tahu sekarang dia tersenyum lebar. Mau sejaim apapun Mira, dia pasti kangen banget sama aku.

Sudah hampir tiga tahun aku pergi dari tempat ini. Sudah hampir tiga tahun pula aku nggak melihat Mira secara langsung. Kami cuma bertukar cakap lewat Skype atau LINE. Selain itu, karena Mama memang nggak memperbolehkan, aku nggak bisa ketemu Mira. Entah karena Mama nggak mau aku berhubungan dengan Papa atau biaya pulangnya terlalu mahal.

"Mira," sapa Mama dan Alyssa yang menyusul. "Apa kabar, Sayang?"

Kami melepas pelukan. Sementara Mama, Alyssa, dan Mira bertukar sapaan hangat, mataku mengarah pada kerumunan orang-orang. Aku bukannnya mengharapkan orang itu juga datang. Tidak. Sudah tiga tahun ini, aku nggak mengharapkan apa-apa lagi. Aku nggak mau pengharapan itu hanya berakhir dengan diriku yang pergi tanpa kembali. Tapi ada satu pertanyaanku, sekarang gimana setelah aku kembali?

Bodoh ketika aku mengira tidak akan kembali ke tempat ini ketika Mira masih menetap di sini. Terlalu bodoh hingga aku menyesali semua ucapanku pada orang itu tiga tahun yang lalu.

Cerita kami belum berakhir. Aku terlalu egois karena mengakhiri semuanya seorang diri. Bukan begitu?

"Kak Mira!!" seru Alyssa dengan kedua tangan mengangkat ke atas. "Gendong Alyssa, dong. Kalo Kak Zoe 'kan nggak pernah mau gendong Alyssa."

Alyssa sekarang 12 tahun, tapi sifat manja dan jahatnya nggak berubah. Dia sering bikin aku susah di negeri orang karena Alyssa waktu itu belum mahir berbahasa Inggris. Pertama kali aku tinggal di sekolah, dia nangis jejeritan karena dikerubungi pertanyaan oleh teman-temannya. Terpaksa aku balik dari sekolahku ke sekolahnya untuk nganter pulang. Tapi setelah tiga tahun, dia jadi bisa bahasa Inggris. Itu suatu hikmah di balik kekacauan yang Alyssa buat.

Dan Mama? Meski Mama nggak bilang apa-apa, aku tau rasa bencinya pada Papa sudah meluruh. Mama sudah menerima pernikahan Papa dengan ... ibu Gama. Aku sendiri kadang belum bisa menerimanya. Kadang aku berpikir dunia sangat sempit. Seolah garis tangan yang Tuhan berikan menertawakanku.

"Sini-sini, Kak Mira gendong," sahut Mira lembut.

Dan Mira sayang banget sama Alyssa.

Kami berempat bergegas meninggalkan bandara menuju mobil Mira. Dia udah punya SIM dan dibolehin nyetir sama Papa. Nggak kayak aku yang masih bingung fungsi pedal ini-itu apa. Pernah sewaktu-waktu aku nyoba nyetir, bukannya jalan lurus, malah muter-muter di tempat sampe bikin satu jalan raya heboh.

"Apa kabar, Ma?" tanya Mira di sela-sela kesibukan nyetirnya.

Aku yang duduk di belakang dengan Alyssa mendengarkan percakapan Mira dan Mama dengan suka cita. Mama dan Mira kini udah lengket banget. Istilahnya, kayak roti bareng sama selai. Aku kaget Mama nggak nangis pas liat Mira tadi. Malah aku yang sering ngobrol via chat yang pengen nangis.

Kusandarkan punggungku seraya melihat pemandangan di balik kaca mobil. Jakarta tetap sama, macet dan berdebu. Tapi entah kenapa, aku merasa seperti pulang ke rumah. Dan satu rasa yang menggelitik perut dan membuat berdebar-debar ini nggak akan pernah aku lupain.

* * *

CAL:

ZACH melihat mukaku dengan pandangan paling nyebelinnya itu.
Aku memakan roti bakarku tanpa peduli. Zach lantas menggebrak meja. Aku melihatnya sekilas karena terganggu sebelum asyik melahap roti bakar buatan pelayan Zach yang jumlahnya bejibun.

"Coba ulangin sekali lagi," kata Zach persis ucapan Papa kemarin malam ketika aku mengutarakan hal yang sama. "Lo nolak tawaran itu?"

Aku mengangguk.

"Lo ditawarin Geory Production, Goblok!"

Aku mengernyit karena ucapan goblok-nya Zach. Katanya, dia mau tobat. Tapi masih aja mulutnya kayak nggak disekolahin.

"Ya ... trus kenapa?"

"Banyak orang pengen naro pantatnya di sana buat berkarya!"

Mungkin maksud Zach adalah mendapat pekerjaan di Geory, tapi dia lebih suka menggunakan kata pantat. Yah, nggak beda jauh sama muka Zach, sih.

Omong-omong Geory Production adalah salah satu rumah produksi film yang sedang digandrungi itu.

"Heh, mantan berandal," sahutku dengan tangan bersedekap. "Gue tau setelah lo tobat, lo sangat ambisius. Tapi, gue nggak seambisius lo, Zach. Gue istilahnya mau ... apa ya? Mau istirahat sejenak. Lo tau kuliah sambil kerja lepas nggak segampang yang lo liat."

"Tapi, perluas networking di sana juga menjanjikan," bantah Zach. "Gue keterima di Adhimaya Publisher, lo juga harusnya keterima di Geory. Janjinya kemarin gitu!"

Dulu, aku janjian sama Zach. Agak aneh juga sih, janjinya. Kita berdua harus keterima di pekerjaan yang kita mau, terus liburan bareng temen-temen lama. Aku oke-oke aja, sih. Udah lama nggak jalan sama Leo dan Ethan sejak kejadian dulu.

Hubungan aku dengan mereka bisa dibilang udah baik-baik aja. Mereka juga udah berhenti ikut balap liar-terutama Zach. Sesekali kami kumpul di rumah Leo untuk nyolong lasagna dan spageti, terus main playstation bareng. Kadang aku juga ngajak Jamie.

"Gue mau rehat dulu, Zach," selorohku ketika mukanya makin nyebelin. "Serius, gue mau libur dulu. Abis itu gue ikut janji bakal nerima tawaran Geory."

Zach menghempaskan badannya ke sofa, tingkahnya seperti orang yang bener-bener punya beban berat aja.

"Terserah lo deh, Cal. Lo orangnya terlalu unik sampe gue nggak ngerti maunya apa."

Aku menyeruput teh. Sementara Zach menatapku curiga.

"Oh," ucapnya tiba-tiba seolah menyadari sesuatu. Dia mencondongkan badannya ke arahku. "Ini nggak ada kaitannya sama Zoe, 'kan?"

Aku hampir tersedak kalo aja aku nggak berhasil menahannya. Mataku mengarah pada Zach sebelum beralih ke arah vas berisi bunga mawar kesukaan ibu sahabatku ini.

"Kenapa tiba-tiba jadi dia?" tanyaku dingin.

"Kali aja, lo mau ngeberesin masalah lo yang berlarut-larut sama dia," balas Zach cuek, "Kali aja, lo nolak tawaran Geory untuk fokus sama masa lalu lo dengan cewek itu. Nyelesein cerita yang belum berakhir. Ck, basi."

Aku nggak bilang apa-apa, tapi aku berhenti menyeruput teh dan memakan roti bakar.

A::N

Wohooo! Akhirnya cerita End gue publish. Semoga latar waktunya nggak terlalu jauh, ya? Sejujurnya gue pengen selang satu tahun aja, tapi kayaknya lebih oke kalo mereka udah umur 20. (Wulan pengen nyoba suasana baru, ehem)

Hope you like it! :)

Moment Trilogy (3): EndBaca cerita ini secara GRATIS!