Prolog

25.2K 1.2K 76
                                                  

Awalnya Ranala tidak merasakan apa-apa kecuali kedinginan yang menusuk. Dinginnya air melebihi udara malam yang Ranala rasakan sebelum dia jatuh ke dalam sungai. Gelagak arus deras menerpa Ranala; menembus jaket, kaus, dan celana, lekas membalur tubuhnya dengan air kotor campuran berbagai macam sampah domestik serta industri yang berasal dari peradaban sepanjang Unit 41. Sayup-sayup Ranala mendengar suara benda berat jatuh ke dalam air, tetapi dia tidak lagi bisa mempercayai pendengarannya. Sejumlah besar air memasuki mulut, hidung, dan telinga Ranala; dia akan kesulitan bernapas bila mencoba. Rasa sakit yang menyengat di kepalanya mengiringi kedinginan yang semakin menjadi-jadi. Matanya masih terbuka dan dia melihat air di sekitarnya berubah kemerahan. Ranala memperhatikan intensitas warna merah −yang perlahan memudar di sekitar seiring aliran darah dari lukanya− melarut dan membaur dalam gejolak air keruh.

Ranala tidak repot-repot mengerahkan tenaga untuk mencapai pinggiran sungai, memanjat dinding berbatu terjal, ataupun menimbulkan riak di atas air supaya keberadaannya disadari. Dia bahkan tidak bisa berenang. Tidak ada orang yang dapat memergokinya karena dinding di pinggir sungai begitu tinggi. Pun kalau bisa memilih, Ranala tidak ingin diselamatkan.

Air masih menampilkan rona merah di sekeliling kepala Ranala. Mengesampingkan rasa sakit yang melanda, Ranala merasa cukup puas menyaksikan pemandangan itu. Akhirnya keinginannya akan tercapai: cita-cita untuk mati. Sakit luar biasa, tetapi setimpal.

Ranala hampir tidak kuat untuk terus membuka mata. Dia pejamkan mereka dengan lega sebagai pengganti ucapan perpisahannya pada dunia.

Selamat tinggal, jangan sampai kita berjumpa lagi.

Dharitri (Novel - Tamat) [Wattys Award Winner]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang