Rajendra Medical Centre, 07:50 WIB

Tidak terlalu buruk, bangunan modern dengan fasilitas yang sepertinya cukup lengkap dan bisa dibilang kualitas internasional lah. Ya semoga tidak mengecawakan, skillku tidak sia-sia dan aku bisa lebih berkembang di sini. Semoga ....

Masih ada sepuluh menit, tapi dimana ruang direkturnya? Ah bodoh, apa guna ada resepsionis kalau harus capek muter-muter cari sendiri gak jelas begini. Be smart Kiya .....

"Permisi mbak, saya mau tanya ruangan direktur ada di sebelah mana ya?" tanyaku kepada resepsionis yang kuketahui namanya Shasa, perawakan cantik, tinggi, putih, sempurna. Eh? Ngapain nilai orang sih, tenang kamu gak ada tandingannya kok Kiya, trust me.

"Di lantai 8 mbak, nanti bisa tanyakan kembali pada resepsionis yang ada di sana" jawabnya.

"Terima kasih" ucapku sambil tersenyum dan kemudian pergi. Lantai 8 ya? Ya ya ya.. cukup banyak lantai memang.

Aku menuju lift dan langsung melesat ke lantai delapan. Dalam sekejap pun sampailah aku di sini.

"Permisi mbak, saya ada janji dengan dokter Reikhan, direktur Rumah sakit ini, bisa tolong disambungkan?" kataku kepada resepsionis lantai 8 ini yang lebih bisa dibilang seperti sekretaris direktur.

"Atas nama ibu siapa? Dan ada keperluan apa?" tanya respsionis itu kepadaku.

"Saya dokter Shakiya, saya dokter baru di rumah sakit ini, sebelumnya telah melakukan interview oleh HRD dan diminta untuk menemui dokter Reikhan, sudah membuat janji juga sebelumnya" jelasku kepada resepsionis yang diiyakannya dan langsung menyambukan ke ruangan dokter Reikhan untuk mengkonfirmasi.

Beberapa kali aku melihatnya mengatakan iya sambil mengangguk. Tampak masih berdiskusi dengan pemilik suara di ujung telpon.

"Baik dok, sudah di tunggu dokter Reikhan di ruangannya, mari saya antar" ajaknya yang kemudian mempersilahkanku untuk masuk ke ruangan dokter Reikhan.

"Ah iya silahkan masuk dokter Shakiya" sapa dokter Reikhan yang sepertinya telah menungguku. Sebelumnya aku memang sudah berkomunikasi beberapa kali dengan dokter Reikhan via telpon, tapi ini pertama kalinya aku bertatap muka dengan beliau.

Tampak wibawa dengan snelii putih yang dikenakannya. Diusia paruh baya seperti ini, beliau masih tampak gagah dan juga tampan. Ah jadi ingat daddy, miss you so much dad....

"Jadi bagaimana dokter Shakiya, sudah siap bergabung dengan RMC?" tanyanya tanpa basa basi. Yep, aku lebih suka seperti ini, to do point, tak perlu bertele-tele yang tidak penting. Sepertinya dokter Reikhan bisa memahamiku dengan baik, awal pertemuan yang cukup baik.

"Sangat siap dok, saya sudah menantikan kesempatan ini sejak saya lulus spesialis kemarin" ucapku bahagia. Yep, bahagia, pulang kampung dan diberi kesempatan berkarir dengan jenjang yang tak kalah menjanjikan dengan yang kudapat selama berada di luar negeri kemarin.

"Baiklah kalau begitu, selamat datang di Rajendra Medical Centre, saya sangat mengharapkan kontribusi dan keahlian dokter untuk rumah sakit ini" ucapnya sambil megajakku untuk berjabat tangan.

Aku pun menyambut baik shaking hand yang diberikan beliau. "Saya akan mengerahkan segenap kemampuan terbaik saya"

"Kalau begitu, sepertinya hari ini saya bisa langsung mengajak Anda mengenal lebih dekat dengan RMC, dan departemen yang tentunya akan anda tempati, bagaimana?"

"Sama sekali tidak masalah dok, saya sangat antusias"

Dokter Reikhan kemudian langsung mengajakku berkeliling rumah sakit sambil menjelaskan seluk beluk yang perlu ku ketahui. Mulai dari departemen apa saja yang ada di rumah sakit ini, ruangan-ruangannya, fasilitas, bahkan sampai manajemennya dijelaskan secara gamblang dan apik yang sangat mudah kupahami. Aku tak menyangka seorang yang bisa dibilang pemilik rumah sakit ini bersedia secara suka rela menemamiku berkeliling seperti ini. Jika dipikir bisa saja kan dokter Reikhan meminta asistennya untuk menemaniku, tapi tidak loh? Salut untuk beliau.

Heal Your HeartBaca cerita ini secara GRATIS!