63

6.2K 384 20

Seminggu kemudian. Dimana hari ini adalah hari yang cukup menegangkan bagi kelas 3 SMA. Hari ini adalah hari penerimaan nilai UN. Tentang kelulusan mereka. Sudah pasti mereka lulus 100%.

Semua sudah di bagikan amplop sesuai nama masing masing. Dan isinya tak lain adalah hasil ujian mereka.

"Duhh.. gue gemeteran." Ucap Kevin.

"Halah santai aja, waktu ujian lo belajar kan?"

Kevin mengangguk.

"Yaudah, santai."

"Baik.. semua sudah siap untuk membuka amplop bersama sama? Hitungan ke tiga kalian buka. 1.."

"Gue buka di rumah aja dah." Ucap Kevin.

"Udah buka sini aja. Gue penasaran."

"Dasar lu!"

"2.."

"Gue jadi ikut grogi, njing!" Kata Amar.

"Udah lah buka disini aja." Gantian Kevin yang menyuruh Amar.

"Dafuqq.."

"Ti.. ga. Ayo semua coba di buka isinya." Perintah guru.

Dengan hati tegang. Mereka membuka isi amplop itu.

"Huaaaa nilai guee.." teriak Kevin histeris.

"Hastagaa nilai gue.." ucap Amar.

"Semua sudah mengetahuinya? Dan di sekolahhan kita ini ada salah satu murid yang mendapat nilai tertinggi dan mengangkat ranking sekolah. Kita panggil.."

"Lo tebak siapa?" Tanya Amar.

"Bisa aja gue?"

"Nilai gue aja di atas lu, berarti gue lah."

"Zain Ar-ridho Putra." Semua menganga, tak menyangka si tukang bolos dan tak mempunyai ke disiplinan itu mendapati nilai tertinggi se sekolah dan mengangkat ranking sekolah menjadi juara 2 se kota.

"Zain.. apa disini ada Zain?"

Tak heran jika Zain yang mendapatkan nilai terbaik itu. Ya karna jika ujian harian atau sekolah dia selalu mendapat nilai sempurna.

"Gue heran, bocah kayak dia bisa punya otak seencer itu."

"Udah lah apa daya, kita cuma punya tampang yang menjamin."

"Idih, bagussan juga muka Zain kalik."
"Oya Zain kan ke London? Apa kita bilang aja ya-"

"Ekhm.. Pertama tama saya ucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian kedua orang tua saya. Ibu saya.. dan tak lupa jasa jasa semua guru yang telah mendidik saya. Mungkin saya selalu berbuat hal hal yang menjengkelkan dan suka melanggar aturan..."

"Eh itu Zain benerran?" Tanya Kevin terkejut.

"Hah dia udah pulang?"

"Itu beneran Zain?"

"Bodong!! Liat dia napak berarti beneran dia Zain bego!" Sadar Amar.

"Oh okey okey."

"Yaa seenggaknya maklumin lah, atas segala ke nakalan saya. Oke sekian terimakasih." Semua memberi tepuk tangan meriah.

"Pidato yang buruk." Bisik Kevin sambil cengengesan.

"Haha, kayak lu bisa pidato aja."

"Hm."

Zainpun langsung menghampiri keduanya.

"Hey bro! Lo balik?"

"Menurut lo?"

I Love My Stepbrother ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang