d u a

72.4K 6K 400
                                                  

Seperti ibu-ibu sosialita pada umumnya, Anna memiliki sebuah pekerjaan. Pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan tapi sebenarnya tidak dibutuhkan Anna. Anna bekerja bukan untuk uang. Upah kerja suaminya, Al, dari perusahaan penerbangan internasional sudah lebih dari cukup untuk kehidupan keluarga mereka. Anna kerja untuk mengisi waktunya. Untuk mendapat status. Untuk tetap menjaga status kewarasannya.

Anna memiliki sebuah bisnis dibidang makanan. Namanya Foodie. Di foodie, anak-anak seperti Vin bisa makan apa saja dan ibu-ibu seperti Anna tidak perlu khawatir anaknya sakit tenggorokan, perut atau kanker. Di Foodie, Anna memastikan, hanya bahan terpilihlah yang digunakan. Bebas MSG, pewarna yang tidak sehat dan berlebihan dan paling penting: menggunakan bahan-bahan segar. Di Foodie, sayuran yang tidak lezat dan tidak disukai anak-anak diubah menjadi makanan lezat. Untuk mencegah anak-anak sakit gigi, Foodie tidak memakai gula tebu atau aren seperti yang dipakai restoran kebanyakan. Foodie memakai glukosa dari bahan itu sendiri. Semua bahan-bahan terbaik alam, diubah menjadi makanan. Meski terkesan serius, Anna benar-benar hanya menganggap bisnisnya mainan. 

Foodie adalah objek pembicaraan yang menyenangkan saat bertemu teman-teman selain anak. Di arisan ibu-ibu, rata-rata yang dibicarakan adalah barang-barang baru, "lucu deh gucci-nya." atau "Iya nih, mau upgrade mobil. Udah buluk, ya." Padahal mobil itu adalah keluaran terbaru yang baru dipakai empat bulan. Selain barang baru, anak adalah yang terpenting. "Anak saya udah bisa jalan, nih," adalah kalimat paling sering dipakai para Ibu-ibu yang baru punya anak. Pertumbuhan anak seperti bisa jalan, bicara atau berenang itu penting. Juga prestasi pendidikan. Anak Jeng Anu juara satu lomba lukislah, juara satu lomba renanglah dan lainnya. Dan supaya tidak bosan: ditambahlah bumbu pelengkap bertajuk bisnis. Aneka bisnis mereka tekuni disela waktu senggang menunggu suami. Mulai dari yang menjual aneka garmen, asesoris sampai yang digeluti Anna: makanan. 

Kenapa Anna dan teman-temannya butuh status? Kenapa mereka terkesan serius bekerja saat semuanya hanya permainan di waktu senggang?

Sederhana. Karena mereka harus siap bercerai kapan saja. Semakin kaya berarti waktu pertemuan semakin sedikit. Skandal perselingkuhan adalah hal lumrah di kalangan mereka. Suami tidur dengan wanita lain? Biasa. Selama uang tetap mengalir, biarkan saja. Lagi pula, mereka tidak mau terkesan sebagai pelacur yang hanya membuka selangkangan dan menerima uang. Mereka juga tidak ingin menghabiskan uang sambil menunggu suami pulang di rumah. Membosankan. Lama-lama mereka bisa gila karena kebanyakan membayangkan apa yang sedang suami mereka lakukan di luar sana.

Ya, Anna memang tergabung di sebuah persekutuan dengan tagline: 'enggak apa-apa isinya berceceran, yang penting botolnya pulang ke rumah'. It sucks, isn't it? Tapi, Anna emang enggak bisa bilang apa-apa. Kehidupan pernikahannya memang seperti itu. Itu konsekuensi yang harus ia peroleh. Toh, dulu, sebelum menikah, Ibunya sudah memberitahukan kalau kehidupan seorang pilot itu bebas dan lagi pula siapa yang bisa tahan untuk setia pada istri di rumah saat tubuh mereka kelelahan dan banyak perempuan cantik dengan badan fit dan tak pernah melahirkan yang bersedia naik ke ranjang bersama mereka?

Anna menepikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana. Sederhana? Huh. Sederhana tapi hangat, tepatnya. Anna kadang memimpikan menukar rumah yang ditinggalinya, yang mirip istana di serial Disney itu, dengan rumah ini. Rumah berlantai satu dengan keramik warna merah dan dinding bercat putih. Rumah yang pagarnya terbuat dari besi dan dicat dengan cat murahan yang kadang menempel di tangan kalau Anna menyentuhnya. Rumah dengan pot-pot kecil dan sebuah pohon mangga di sudutnya. Rumah dengan genteng coklat yang sudah tua. Rumah dengan kombinasi warna yang sedikit membuat Anna mempertanyakan selera pemilihan warnanya. Rumah yang bahkan tidak memiliki parkiran mobil karena toh memang tidak perlu, pemilik rumahnya memang hanya memiliki satu buah sepeda motor jelek. Rumah sederhana yang hangat. Rumah miliki keluarga Joni, teman Vin. 

Vin pertama kali kenal Joni di playgroup. Agak janggal karena Vin masuk playgroup elit yang bayarannya tidak murah sedangkan Joni, maaf saja, berasal dari keluarga.. uhm.. sederhana? Malah terkesan "kurang" di mata Anna yang bergelimang harta. Sampai sekarang, Anna tidak tahu kenapa keluarga Joni memaksakan keuangan untuk memasukkan Joni ke sekolah semahal itu. Dan Anna memutuskan untuk tidak perduli. Keluarga Joni menyenangkan. Sejak pertama kali datang ke sini untuk menemani Vin main bersama Joni, Anna sadar ada sesuatu yang tidak ia miliki tapi dimiliki keluarga Joni: kehangatan sebuah keluarga. Itu sebabnya, Anna percaya Vin main di sini. Apalagi rumah Joni cukup aman untuk anak-anak. Tidak banyak benda pecah belah di sana dan Asti, Ibu Joni, sangat ramah dan menyenangkan. Ia tidak suka bergosip atau mempertanyakan apapun.

Begitu sampai di dalam, tanpa memperdulikan apapun, Vin dan Joni langsung saling menyongsong satu sama lain. Sementara Anna menyerahkan beberapa oleh-oleh yang dibawakan Al. Tak lama, Anna pamit. Kadang-kadang, Anna memang 'menitipkan' Vin pada Asti--Asti memang tidak keberatan. Ia menyukai anak-anak tapi ia sudah tidak bisa punya anak lagi karena masalah internal di tubuhnya.

Hari ini Anna ada agenda wajib: bertemu teman-teman arisannya. Melepas penat. Mengapus semua kesedihannya. Menghapus semua sketsa wajah yang terbayang di benaknya. Secantik apa mereka? Secantik apa Maura, Key, Sarah dan Anisa yang semalam namanya Al catat di daftar buku dosanya. Buku khilaf. Buku habit. Apapunlah itu namanya. Anna tidak perduli. Secantik apa? Seseksi apa? Selangsing apa? Semenyenangkan apa? Seperti apa bentuk tubuhnya? Lipstik apa yang dipakai? Warna apa perona pipinya? Buah apa yang tercampur di parfumnya? 

Semua pertanyaan itu bergelayut manja di kepalanya. Memecah konsentrasinya. Anna bahkan hampir menyerempet pembatas jalan kalau saja mobil yang ia kendarai berada di kecepatan tinggi. Untungnya, ia mengendari mobil selambat siput. Kepalanya pusing dan ia ingin menangis tapi ditahan mati-matian karena tata riasnya mahal dan harga dirinya lebih mahal. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian karena tata rias berantakan atau mata sembap. 

Anna akhirnya tersenyum lebar saat matanya berhasil menangkap semeja penuh ibu-ibu sosialita yang sedang mengobrol satu sama lain. Tawa mereka sesekali tersisip di antara sarkasme yang mereka lemparkan satu sama lain. Gaun-gaun mahal mewah tapi tidak norak melekat pada kulit mereka. Tas-tas dengan merk ternama bertebaran, ada yang di atas paha ada yang di atas meja. Di tangan mereka, ponsel paling mutakhir dengan kapasitas maksimal dan harga selangit yang meski fiturnya hanya digunakan tidak terlalu maksimal ada di tangan, di sisi piring makan mereka atau di dalam tas. 

Anna tersenyum. Tangannya melambai di udara untuk menyapa. Mereka balas tersenyum dan menyapa. Tapi, dua detik kemudian Anna membeku. Tangannya yang menggantung di udara ia turunkan tanpa sadar, ciuman pipi kiri dan kanan yang ia balas tak ia rasakan semuanya seperti mimpi. Heels 13 cm yang menopang kakinya, tidak terasa. Buminya berputar cepat. Matanya mengunci sebuah meja berkapasitas dua orang. Seorang laki-laki tampan dan perempuan cantik berambut panjang coklat yang digerai sempurna.

Kenapa? 

Kenapa rasanya sakit sekali melihat Al bersama wanita lain padahal ia jelas-jelas memberi izin untuk itu?

Sux MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang