《Fourteen》

Mulai dari awal

Setelah aku dan Vexia duduk, dia langsung menanyaiku dengan segelinding pertanyaan. Aku benar-benar bingung harus menjawab apa. Lalu, mengalirlah kisah yang terjadi di roof top kemarin. Saat cerita aku tak henti-hentinya menutup telinga karena teriakan heboh ala Vexia. Dia sangat senang mendengar kabar yang sudah sejak lama dinantinya.

"Oh my God! Gue nggak nyangka, Ken. Akhirnya lo bisa ngebuat dia luluh dan bertekuk lutut kayak gitu," katanya sambil melompat-lompat tidak karuan.

Aku memandangnya dengan senyum geli dan menyahut, "Berhenti, Ve! Lo berlebihan banget tau nggak."

Vexia pun kembali duduk sambil menatapku kesal. "Gue nggak mau tau. Pokoknya lo harus kasih gue pajak jadian," ancamnya sambil bersedekap.

Aku tertawa kencang mendengar ancamannya yang seperti anak kecil. "Gampang itu, mah. Lo tenang aja."

Vexia memainkan ponselnya, kemudian dia menengok ke arahku dengan muka terkejut. Aku pun menatap penuh tanda tanya padanya.

"Ada apa?" tanyaku penasaran.

Vexia menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Kak Rafa barusan post foto candid lo di instagram."

Aku menarik ponselnya dan mendapati fotoku saat sedang melamun di taman belakang sekolah. Di foto itu masih terlihat jelas ada tetesan bening yang kutahan agar tak terjatuh. Sungguh, aku sangat malu. Aku harus segera menemuinya. Belum lagi sudah banyak komentar-komentar dari para fans-nya.

Aku menarik Vexia dan membawanya ke gedung IPS. Vexia menurut saja, mungkin dia sudah tahu tujuanku. Begitu sampai di depan kelasnya, aku pun melambaikan tangan pada Kak Rafa. Dia mendekatiku dan mengarahkan kami menuju balkon. Semilir angin yang sejuk membuatku bisa bernapas lega. Aku sangat lelah karena habis berlari.

"Kenapa?" tanya Kak Rafa.

Aku menjawab, "Harusnya aku yang tanya kenapa. Kenapa kamu post foto aku yang memalukan itu?"

Vexia menjauh begitu kami sudah larut dalam percakapan. Dia sangat tahu kalau kami membutuhkan privasi. Aku meliriknya yang ternyata memilih untuk duduk di depan kelasnya Kak Rafa.

"Nggak papa. Biar mereka semua tau kalo kamu itu cuma punya aku."

Aku mengerucutkan bibirku sebal. "Yah, tapi, kan, nggak harus pake foto aku yang lagi candid kayak gitu."

"Di foto itu kamu keliatan unyu banget, kok."

Aku memukul lengannya gemas. "Sama sekali enggak," kataku, lalu menghampiri Vexia sambil mengentakkan kaki.

"Udah selesai ngobrolnya?" tanya Vexia padaku.

Belum sempat aku menjawab, Kak Rafa sudah terlebih dahulu membuka suara, "Dia lagi ngambek. Yaudah lo balik aja duluan, nanti gue yang nganter dia."

Vexia mengacungkan jempolnya dan berlalu dari hadapanku. Sekarang, aku dan Kak Rafa sedang menjadi pusat perhatian yang seakan sangat menarik untuk dilihat. Mau bagaimana lagi? Menjadi seorang kekasih most wanted memang beginilah rasanya.

"Yaudah, deh, aku hapus," ucapnya yang membuat rasa kesalku luntur begitu saja.

"Yeay, dari tadi gitu, kek."

Dia sangat mengerti diriku. Dan itu menambah rasa sukaku pada dirinya. Aku sangat bahagia tentunya.

☆♡☆♡☆

"Lo ikut camping nggak?" tanya Vexia sambil membolak-balik kertas edaran yang baru saja dibagikan.

"Gue bingung. Masalahnya, nih, camping buat semua murid dari kelas sepuluh sampe dua belas. Gue, kan, jadinya males," ucapku seraya menghela napas jengah.

Vexia memutar bola matanya mendengar alasanku. "Alah, alesan aja lo. Lagian, kan, enak bisa sama Kak Rafa juga. Gimana?"

Aku memikirkan saran Vexia. Ya, itu memang ada benarnya. "Gue pikirin dulu aja, deh. Yaudah, yuk pulang," ujarku semangat.

Kami pun menyusuri koridor untuk menuju gerbang sekolah. Sepertinya Vexia sudah dijemput duluan. Dia pun melambaikan tangannya dan aku terpaksa menunggu sendirian. Hari ini aku tak membawa mobil karena mobilku masih di-service.

Suara mesin motor cowok yang berdebum keras terdengar jelas. Cowok itu membuka helm full face-nya dengan gaya cool yang membuat para cewek berteriak histeris. Tanpa diduga, si pemilik motor itu adalah Kak Rafa.

"Pulang sama aku," ucapnya dan menarikku menuju motornya.

Aku menatap ngeri di motor gede khas cowok itu. Jelas saja aku tidak bisa naik itu karena memakai rok. Seakan mengetahui isi otakku, Kak Rafa menyodorkan jaketnya padaku.

"Pake itu buat nutupin rok kamu, sekarang naik," perintahnya padaku.

Aku pun menaiki motornya dengan pelan dan memakaikan jaket itu untuk menutupi pahaku. Sungguh, kami menjadi tontonan para murid yang berada di sekitar sini. Dan dengan arogannya, Kak Rafa menarik kedua tanganku untuk melingkar di sekitar pinggangnya. Sungguh, posisi ini membuatku panas dingin tak karuan.

Lalu, dia menyalakan mesin motornya dan melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Itu membuatku tambah mengeratkan pegangan tanganku. Tak jarang juga aku menabrak punggung tegapnya karena tiba-tiba dia mengerem mendadak.

Motornya berhenti di kedai es krim yang fenomenal. Dia benar-benar bisa menebak pikiranku. Hari ini aku juga menginginkan es krim dan dengan tepat Kak Rafa mengajakku ke sini.

"Mau pesan apa, Dik?" tanya pelayan itu.

Aku membuka buku menu dan merasa tertarik dengan banana split ice cream. "Mau yang ini satu," seruku sambil menunjuk gambar es krim itu.

Kak Rafa terkekeh geli mengamatiku yang terlihat bersemangat. "Aku juga mau itu."

Aku pun menyahut lagi, "Jadinya dua, mbak. Tambah triple tutti frutti, deh."

Pelayan itu mencatat pesanan kami dan menyuruh kami menunggu sekitar lima belas menit. Tak lama kemudian es krim yang kami pesan pun datang.

Aku langsung menikmati es krim itu. Rasanya benar-benar lezat dan membuat sang penikmat ketagihan. Kedai es krim ini memang sangat fenomenal dengan ciri khasnya sendiri. Soal cita rasa juga sudah tak bisa diragukan lagi. Hal itulah yang membuat kedai es krimnya ramai pengunjung.

"Mau nggak?" tawarku pada Kak Rafa.

Dia menggeleng. "Nggak suka. Sini biar aku suapin."

Aku pun membuka mulut dan dengan sangat semangat menerima suapan demi suapan yang diberikan. Tak terasa triple tutti frutti ice cream sudah habis.

Kami segera keluar dari kedai dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Langit mulai gelap dan menandakan bahwa sekarang sudah sore. Aku segera turun dari motor karena sudah sampai di depan gerbang rumahku.

"Thanks for today."

"Sama-sama. Yaudah, masuk gih."

Aku tidak mengacuhkannya dan tetap berdiri di sampingnya. "Kamu ikut camping nggak?"

Kak Rafa terlihat berpikir sebentar, kemudian dia menjawab, "Kalo kamu ikut, aku juga ikut."

Aku semakin bingung dibuatnya. Akan kuberikan jawaban padanya besok. "Liat besok aja, deh. Yaudah aku masuk dulu, ya."

"Okay, have sweet dream for tonight."

Dia mendekatiku dan mengacak-acak rambutku sekilas. Aku mengerucutkan bibir sebal akibat ulahnya. Setelah itu dia melajukan motornya dan aku pun masuk ke dalam rumah dengan hati yang berbunga-bunga layaknya seorang remaja yang baru saja merasakan cinta.

☆♡☆♡☆

Chapter berikutnya insya Allah bakalan sweet. Tunggu kelanjutannya! Kalian semua jangan pada bosen sama ceritanya Kenza-Rafa ya.

Don't forget to vote and comment, thanks.

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!