Penasaran

150 4 0

KEVIN SIDE.

Amy memakan makan siangnya dengan sangat lahap. Seolah-olah dia sudah tidak makan selama beberapa hari lamanya. Aku pun tersenyum memandanginya makan dari meja yang berseberangan dengannya.  Aku mengabaikan Mike yang berbicara panjang lebar tentang tim bola kesayangannya, Manchester United yang baru saja memenangkan pertandingan. Aku terlalu asyik memperhatikan Amy. Ada sesuatu dari diri Amy yang membuatku tertarik. Sampai pada akhirnya Amy pun sadar bahwa aku memperhatikannya. Dia pun lalu berhenti makan.  Aku pun izin beranjak pergi kepada Mike dan Lisa untuk pergi menghampiri Amy. Mike pun tersenyum mengejek. Aku pun tidak memperdulikannya lantas aku langsung pergi meninggalkan mereka dan pergi menghampiri meja Amy.

"Hi" sapaku

"Uh.." Amy hendak menjawab namun didahului oleh temannya

"Hi Kevin" sapa teman Amy

Ternyata aku cukup terkenal juga rupanya.Bukannya aku bermaksud sombong. Tapi entah mengapa hampir semua orang disini mengenalku. Apakah hanya Amy saja yang tidak tahu tentangku?. Aku pun membalas sapaannya dengan senyuman karna aku tidak mengenalnya. Dia pun memperkenalkan dirinya. Ternyata namanya adalah Velvet. Nama yang bagus. Aku duduk disamping Amy. Aku pun asyik mengobrol dengan Velvet Sementara Amy kembali melanjutkan makan siangnya. Sampai pada akhirnya Velvet protes kepada Amy untuk ikut mengobrol dengan kami. Namun jawaban Amy berhasil membuatku tertawa. Aku menyudahi pertengkaran kecil diantara mereka. Sampai akhirnya Velvet meninggalkan kami berdua karna dia ada tugas yang seharusnya ia serahkan sebelum makan siang namun ia melupakannya. Obrolan dengan Amy sangat menarik menunjukkan kalau dia ini sangat pintar.

"Jadi, Amy bagaimana bisa kau tertarik dengan novel misteri seperti itu? setahuku wanita hanya tertarik dengan novel-novel romantis picisan" tanyaku penasaran aku ingin dengar pendapatnya tentang hal ini

"Hahaha kau jangan langsung menjudge semua perempuan itu hanya menyukai novel romantis" jawabnya terkekeh

"Lantas apa alasanmu suka dengan novel misteri seperti ini?'' aku masih tidak puas dengan jawaban yang dia berikan

"Sederhana saja, karna aku menyukai novel misteri. Saat kau menyukai sesuatu, kurasa tidak membutuhkan alasan bagaimana bisa kau menyukainya" katanya lagi

"Alasan yang menarik, nona Amy" aku cukup dibuat terkejut dengan jawaban yang dia berikan. Karna aku sendiri merasa jika kau menyukai sesuatu pastinya ada alasan dibalik itu. Seperti saat aku belajar gitar. Aku menyukai gitar karna aku tertarik dengan nada-nada indah yang keluar dari alat musik tersebut. Namun aku tidak mau memperdebatkannya.

"Tidak juga" elaknya

Aku pun menatapnya. Mata indah berwarna abu-abu itu seolah-olah menunjukkan kemurnian dan keteguhan hati pemiliknya. Dengan alis mata yang berbentuk seperti bulan sabit dan bibir tipis yang pink merona menambah keindahan wanita ini. Entah kenapa aku menyukai untuk memandang wajahnya dalam waktu yang lama. Dia cantik.  Aku berani bertaruh, setiap kaum adam yang melihatnya pasti jatuh hati padanya.

"Ada apa?" tanya Amy

"Tidak ada apa-apa" jawabku agak tergagap dan aku menyadari wajahku sepertinya mulai memanas. Aku pun lantas membuang muka.

"Hei wajahmu merah! Apakah kau sakit?" tanya Amy ambil memegang kedua pipiku. Aku pun menyingkirkan kedua tangannya dari pipiku

"Ngg tidak aku tidak apa-apa..ah aku harus pergi maafkan aku" lantas aku pun bergegas pergi meninggalkan Amy yang masih kebingungan dengan sikapku. Aku tidak ingin dia menyadari bahwa aku salah tingkah.

Aku berjalan menuju taman kampus untuk menenangkan hatiku.  Aku pun duduk disalah satu bangku taman dibawah pohon besar yang cukup rindang. Ahh, bagaimana bisa aku dibuat salah tingkah oleh wanita serampangan seperti Amy. Entahlah perasaan apa ini? perasaan yang rumit. Angin yang sepoi-sepoi membuat mataku terasa berat dan perlahan-lahan mataku terpejam untuk beberapa saat saja gumamku.

"Kevin! Kevin!" seseorang memanggil namaku sembari menampar-nampar wajahku dengan lembut

Aku pun perlahan-lahan membuka matakau. Ketika aku bangun wajah Amy hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.

"Mau berapa lama kau tertidur disini, pemalas?" katanya tersenyum

Aku bersumpah saat Amy tersenyum. Itu adalah senyuman yang paling manis yang pernah kulihat. Senyumannya mampu membuat jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat. Aku pun tersadar lantas aku mengubah posisiku menjadi posisi duduk. Amy pun berpindah duduk disampingku. Jantungku seperti ingin melompat saat Amy duduk disampingku. Oh ayolah jantung tenangkan dirimu!.

"Bagaimana kau bisa mengetahui aku ada disini Amy?" tanyaku senormal mungkin kuharap dia tidak mendengar detak jantungku yang cepat

"Sederhana saja, karna aku kebetulan lewat sini dan aku menemukanmu sedang tertidur lelap bagaikan seorang bayi" jawabnya terkekeh

"Sudah jam berapa ini?"

"Sudah jam 4 sore"

"Oh wow hahaha" aku pun tertawa

"Hei? kau tidak gila kan?" katanya bingung

"Tentu saja tidak aku hanya....hahaha" lanjutku

Amy tetap menatapku bingung. Aku tidak akan mengatakan alasan kenapa aku tertawa kepadanya. Aku tidak menyangka untuk menghindari bocah satu ini. Aku sampai tertidur 3 jam disini. Selama aku berkuliah disini baru kali ini aku tertidur dibangku taman. Jika bocah ini tidak membangunkanku mungkin aku akan tertidur sampai malam disini.

"Hei bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? hitung-hitung sebagai balasan karna kau telah membangunkanku" kataku menawarkan tumpangan padanya

"Uhmm.." dia berfikir

bersambung...






I Found You.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang