CHAPTER XVIII: SCIENTIST, SOLDIER, POP IDOL

200 18 0

FAZRI'S ARC

"Hanick adalah adik kandungmu?" tanya Fazri dengan terkejut. Ia menatap billboard besar yang terpampang di luar ketika lift mereka naik ke lantai penthouse apartemen itu. Billboard itu merupakan iklan konser Hanick untuk pembukaan Menara MBP. Dengan kepopuleran artis yang bahkan sudah go-international, bisa dipastikan seluruh tiketnya akan habis terjual dalam sekejab.

"Iya," Andieta mengangguk, entah mengapa, tanpa sepercikpun rasa bangga, "Ia adalah adikku, namun kami tak pernah dekat karena kepribadian kami jauh berbeda."

Ya, Fazri memang tak bisa membayangkan apa kesamaan mereka berdua. Andieta adalah seorang ilmuwan sedangkan Hanick adalah pop-star. Ada perbedaan lain yang amat jelas. Andieta berperang melawan ghoul menggunakan ilmunya, sedangkan Hanick didesas-desuskan sebagai seorang vixen. Pahamnya itu tercermin di jelas di lirik lagu dan video klipnya yang selalu kontroversial. Itulah sebabnya Fazri tak pernah mengidolakan Hanick seperti ribuan remaja di seluruh penjuru Jakarta-Nova.

Lift itu akhirnya berhenti di lantai teratas gedung itu. Seorang pemuda berambut pirang dan berpenampilan khas penyanyi pop segera menyambut mereka.

"Wow, ada angin apa Kakak mengunjungiku?" tanyanya dengan tangan terbuka, "Dan siapa pacar barumu itu?"

"Dia bukan pacarku, Nick!" bantah Andieta kesal. Fazri bingung melihat perubahan mood gadis itu yang malah menjadi sewot ketika melihat adiknya.

"Ada ghoul yang mengejar kami. Bahkan Jerri sendiri turun tangan untuk menghabisi kami. Kupikir hanya di sinilah tempat yang aman." kata Andieta sambil duduk di sofa.

"Well, kau selalu diterima di sini, Kak." Hanick tertawa, namun Fazri tahu ia hanya menggoda Andieta, "Lagipula berita tentang kalian sudah muncul dimana-mana, juga berita tentang kematian Gresy. Mereka berpikir dua kejadian itu berhubungan."

"Apa? Gresy meninggal?" Fazri terkejut begitu mendengarnya.

Hanick terlihat heran, "Lho bukannya katanya GRACE yang menyergap markasnya dan menembaknya saat ia melawan?"

"MUSTAHIL!" bantah Fazri, "Aku tak pernah memerintahkannya! Lagipula anak buahku pasti memberitahuku dan kami tak pernah membunuh warga sipil ..."

"Bahkan seorang vixen sekalipun?" tanya Hanick dengan curiga.

"Tentu saja!" balas Fazri, "A ... aku sama sekali tak mengerti hal ini. Aku harus menghubungi markas!"

"Tunggu!" Andieta tiba-tiba teringat sesuatu dan mengeluarkan sebuah memory stick dari sakunya, "Mungkin mereka benar, kematian Profesor Vanriz dan Gresy mungkin berhubungan. Terlalu kebetulan kalau dua kejadian itu terjadi dalam semalam. Dan jawabannya mungkin ada di sini!"

"Apa itu?" tanya Hanick.

"Gresy meninggalkan ini untukku. Aku sebelumnya tak berani membukanya di dalam lab karena takut ia akan menggunakannya untuk meng-hack data kami, namun ... Nick, bisa kami pinjam komputermu?"

Hanick menyodorkan laptopnya. Andieta pun segera memasukkan memory stick-nya. Kemudian barulah ia menyadarinya.

"I ... ini bukan flashdisk. Ini sebuah modem."

"Lihat, tersambung langsung ke emailmu, Diet." tunjuk Fazri.

"Mustahil, ini kiriman email dari Gresy."

"Lihat jamnya, kurasa ini dikirimkan kepadamu sebelum ia terbunuh."

Andieta dengan ragu membukanya. Matanya segera membelalak begitu melihat apa isinya.

CITY OF GHOULTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang