CHAPTER XIII: LOVERS AND LIARS - CRYSTAL OF SOLITUDE

219 18 0

FAZRI'S ARC

"Jangan sentuh dia!" seru Fazri.

"Hahaha ... apakah yang akan kau lakukan, Elang? Apa kau bisa melindunginya, seperti kau melindungi Viga? Hahaha!" tawanya membahana. Andieta berusaha memberontak, namun cakar yang diarahkan ke lehernya semakin menekan kulitnya.

"Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu itu!" seru Fazri. Ia makin terdesak. Ia tak punya pilihan lain selain menggunakan apa yang selama disimpannya sebagai senjata rahasia.

Fazri mengeluarkan sebuah botol vial dari sakunya dan menyuntikkan ke dalam tubuhnya.

Tiba-tiba saja ia merasakan panas yang teramat membara dalam tubuhnya.

"Tidak!" jerit Andieta, "Jangan bilang bahwa itu adalah ..."

Mata Fazri menyala emas, tangannya tiba-tiba seperti dialiri cahaya listrik.

"EXPLODING BROFIST!!!" Fazri menghentakkan tinjunya dan segera ledakan energi meluncur dari tangannya. Ia sengaja tak menargetkan Jerri sebab tak ingin melukai Andieta juga. Ia mengarahkannya agak jauh, hanya untuk menimbulkan debu dari ledakannya saat mengenai dinding. Rencananya berhasil. Serangan itu membuat Jerri lengah dan Fazri segera bergerak cepat, dengan stamina barunya, merebut Andieta dari cengkeramannya.

Namun ketika debu itu berlalu dan mulai mengendap, Fazri yang sudah menyiapkan serangan berikutnya tak mampu lagi melihat lawannya. Jerri telah ikut menghilang.

"Sial! Dia kabur! Padahal hampir saja ..."

"Kau ..." seru Andieta tak percaya, "Kau barusan berubah menjadi ghoul!"

"Aku hanya menggunakan kekuatannya saja," bantah Fazri, "Tentu saja aku tak berubah menjadi makhluk rendahan pemakan manusia itu!"

"Jangan katakan kau baru saja menggunakan darah suci!"

***

ANDRI'S ARC

Andri mengikuti Maura masuk ke dalam basement sebuah gedung tua.

"Aku hendak membawakanmu makanan," Maura menoleh ke arahnya, "Namun kuduga kau tak memakan makanan manusia, bukan?"

"Jangan khawatir, aku takkan memakanmu." canda Andri.

"Tentu saja tidak, Andri." Maura tersenyum misterius. Kemudian tanpa peringatan ia berteriak.

"SEKARANG!!!"

Tiba-tiba jaring ditelungkupkan ke atas tubuh Andri. Pemuda itu tak mampu menghindar, terutama dengan segerombolan pemuda memegangi jaring itu dengan kuat. Secara bersama-sama mereka memukuli dan menendangi Andri sekuat tenaga mereka hingga ia tak mampu melawan. Bahkan ghoul sepertinya pun tak mampu menahan serangan membabi buta seperti itu dan akhirnya memuntahkan darah.

Setelah situasi mereda, Sule berjalan masuk. Maura menghampirinya lalu memeluknya dari belakang.

"Aku berhasil menangkapnya. Apa kita akan mendapatkan hadiah uang dari pemerintah?"

"Kau punya nyali besar masih berada di kota ini. Apa kau tak tahu semua penduduk tengah mengejarmu?" Sule berkata dengan geram.

"Apa salahku padamu!" teriak Andri, "Kenapa kau melakukan semua ini?"

"Kau selama ini berbohong padaku!" balas Sule, "Selama ini kau berpura-pura menjadi manusia, berpura-pura menjadi temanku ... padahal aslinya kau adalah ghoul! Apa kau tak tahu orang tuaku dibunuh oleh ghoul?!"

Andri tersentak, "Maafkan aku ... aku tak pernah tahu ..."

"Ya, orang tuaku yang sekarang mengadopsiku. Namun aku tak pernah melupakan kematian mereka," Sule menunjuknya dengan tajam, "Karena ghoul seperti kau!"

"Sudahlah, Kak!" kata Isandi yang juga geram melihat keberadaan Andri di balik jaring, "Kita bunuh saja dia sekarang!"

"Aku sudah siapkan apinya di luar." kata Sule, kali ini mencoba menenangkan dirinya, "Kita akan bakar dia di sana. Giring dia!"

Andri membiarkan tubuhnya diseret. Bukan karena ia tak bisa meloloskan, namun karena ia sudah putus asa. Ia bisa saja mengeluarkan kekuatannya yang jelas takkan dapat ditandingi oleh mereka. Namun Andri tak melihat kegunaannya.

Ia tak punya alasan untuk hidup sekarang.

Orang tuanya meninggal, teman-temannya mengkhianatinya, bahkan sahabat sendiri dan gadis yang ia cintai menjebaknya.

Sudah tak ada apa-apa tersisa untuknya. Hanya ada kepahitan, yang ia harap akan segera berlalu, dipadamkan oleh api yang akan membakar tubuhnya.

Ia hanya berharap semua rasa sakit ini akan segera berakhir.

***

FAZRI ARC

"Tangkap ghoul itu!"

Ghoul itu memuntahkan cairan asam yang segera melelehkan senjata milik Chaleed.

"Sial!" bisiknya, hanya bisa menatap tak berdaya kepergian ghoul itu. Namun tiba-tiba saja ...

"EXCALIBUR QUARTERBACK!!!"

Tebasan pedang segera melumpuhkan ghoul itu.

"Dimana Jerri??? DIMANA DEMON OF WRATH!!!" Dan Alones yang baru saja menyabetkan pedangnya berusaha menginterogasi ghoul itu, namun makhluk itu keburu mencair oleh asamnya sendiri.

"Sial! Dia malah bunuh diri!" Dan mengibaskan mayat ghoul itu ke tanah, "Padahal dia adalah anak buah Jerri."

Chaleed hanya menatap dari kejauhan ketika pemuda itu berbalik pergi.

"Pemburu ghoul itu," bisiknya dalam hati, "Apa yang sebenarnya ia inginkan?"

Sementara itu, suara seorang gadis menghentikan langkah Dan.

"Kau masih mengejar Jerri rupanya."

Pemuda itu berbalik dan berbicara dari balik cadar yang menutupi mulut dan hidungnya.

"Bukanlah itu juga tujuanmu?"

Gadis bertudung mantila itu tersenyum dan berjalan menghampirinya. Gadis itu pulalah yang telah menolong Aldhi dan Ajeng dari kejaran GRACE di rumah sakit.

"Apa kau tahu," bisiknya di telinga ghoul itu, "Aku sudah menemukannya, Darah Suci."

Dan tersenyum. "Apa kau pikir dia satu-satunya Darah Suci di kota in? Kabar itu sama sekali tak mengejutkanku."

"Namun kali ini berbeda. Kau sudah tahu bukan bahwa Darah Suci mampu menyerap kekuatan ghoul ke dalam tubuhnya?" bisiknya lagi. "Namun apa kau pernah bertemu dengan Darah Suci yang memiliki kekuatan salah satu dari Seven Demons of Deadly Sin?"

Mata Dan membelalak.

TO BE CONTINUED

CITY OF GHOULTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang