05. poci-poci

1.9K 355 11

11.52

Baik gue maupun Calum sama sekali gak berniat buat ngelewatin booth foto hysteria. Sumpah gue udah sadar banget muka gue udah kaya bocah ayan ngeliat pantai. Gue pikir tadinya Calum bakal nyetak, tapi berhubung di atas sana muka dia jauh lebih freak dari gue mungkin dia mengurungkan niatnya.

"Naik apaan lagi nih, Sha?" Calum emang gak pernah ke Dufan sebelumnya, jadi dia cuma mengandalkan gue yang dulunya sering kesini. Makanya dia cuma tau wahana fenomenal Dufan, kaya kora-kora, hysteria, niagara-gara, istana boneka.

Kita jalan tanpa arah dan berhenti di depan istana boneka. "Aduh, Sha. Lo tau aja gue pengen ngadem." pede banget si bibir koreng.

Gue menendang pantat semok milik Calum. "Ye siapa juga yang mau ke istana boneka. Itu mah entar, orang kita bakal naik itu." Gue menunjuk wahana poci-poci yang terletak di seberang istana boneka.

Matanya memandang lurus wahana poci-poci. "Itu maenan apaansih?"

"Perkumpulan gajah bleduk se Jakarta Utara." Calum mencubit lengan gue hingga merah, "—eh sakit anjir tai babi bangsat monyet dan juga kudanil." gue terus mengucapkan penghuni ragunan satu persatu hingga laki-laki itu melepaskan tangannya.

Gue mengehela nafas. "Liat kek itu di puter-puter. Lagian punya mata bukannya di gunain malah cuma di pajang doang." cibir gue.

Calum menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hm gimana ya, Sha. Duh masa maen begituan sih.."

I smell ada yang ketakutan.

"Ayo kek, Cal. Lo yang ngajakin ke Dufan, masa semua-muanya lo takut?" Setelah gue ngeledek Calum dengan embel-embel 'laki-masa-penakut', akhirnya dia mau naik wahana poci-poci.

Dia menggenggam tangan gue di saat kita mau masuk ke wahana itu yang kebetulan gak ngantri sama sekali. "Ish tangan lo dingin." komentar gue saat merasakan tangan Calum dinginnya melebihi es kiko.

Tapi gapapa sih, kapan lagi gue diginiin sama dia? EHEHEHE.

"Kalo nanti gue muntah gimana?" Ye bocah, dikit-dikit nethink. untung sayang.

"Najis dah sugesti melulu. Ada tipsnya kali biar kaga pusing."

Calum pun langsung mengguncang tubuh gue. "gIMANA CARANYA WOY!?!?!?! PLIS PLIS KASIH TAU GUE?!!!" serunya tak sabaran.

Gue menjawab setelah berhasil mendaratkan pantat gue dengan selamat sentosa di atas salah satu poci yang tersedia. "Di saat mau mulai, lo tutup mata lo dan nyanyi sekenceng yang lo bisa."

"Beneran?" tanyanya memastikan. "i'll do the same."

Ketika wahana poci-poci mulai beroperasi, Calum menutup kedua matanya dan mulai bernyanyi. begitu juga gue.

I think I've had enough

I might get a little drunk

I say what's on my mind

I might do a little time

Calum nyanyi se histeris mungkin. Buset ini baru main poci-poci, gimana gua ajakin dia main tornado?

'Cause all of my kindness

Is taken for weakness

Kamipun bernyanyi bersama di bagian reff.

Now I'm Four Five Seconds from wildin'

And we got three more days 'til Friday

I'm tryna make it back home by Monday mornin'

I swear I wish somebody would tell me

Ooh, that's all I want

Four Five Seconds from wildin'

And we got three more days 'til Friday

Just tryna make it back home by Monday mornin'

I swear I wish somebody would tell me

'Cause that's all I want

Bersamaan dengan berakhirnya lirik lagu, putaran poci-poci yang kami naiki pun berhenti secara perlahan. Gue memuka mata terlebih dahulu, terlihat seorang laki-laki sedang menutup matanya sambil menggembungkan pipinya.

Iseng, gue pun menekan pipi itu hingga pipi itu kembali ke dalam bentuk normal. Calum pun membuka matanya, ia pun tersenyum sumringah. "Gaada efeknya masa." ujarnya.

"Alah pler. Yadi aja pas di ajakin mukanya monang monang gitu." ejekan langsung keluar dari mulut gue mengingat kejadian sebelum permainan ini dimulai.

Calum merapatkan mulutnya kembali. Gue sih bodo amat, palingan bapernya bercanda doang. Gue sama dia pun pergi dari poci-poci dan berjalan sesuai kata hati.

dufan 🌿 hood [✔️]Read this story for FREE!