Chapter 8

547 36 14
                                                  

Apa? Membuatnya menyukaiku? Hah, Jang Mi pasti sudah gila. Atau mungkin diriku sendiri yang sudah gila. Kurasa membuatnya menyukaiku tidak akan mudah. Aku tahu kami memang sudah cukup dekat sekarang. Tapi aku tidak tahu seperti apa wanita di masa lalunya. Wanita yang sudah membuatnya hampir bunuh diri waktu itu. Hah, Ya aku hampir lupa. Dia begitu mencintai wanita itu hingga ingin mati.

Tapi aku merasa sia sedikit berbeda kepadaku. Atau, itu hanya perasaanku saja. Dia memang bersikap baik pada semua orang. Pasti hanya aku yang merasakannya. Ya. mungkin.

Hei, tapikan wanita itu sudah tidak ada. Kenapa aku harus menyerah? Musuhku tidak ada di depan mata.

Ya, tetapi dia ada di hatinya Joong Ki. Aaarrggh Aku bisa gila. Apa yang harus aku perbuat? Menjauhinya, agar perasaanku tidak semakin besar kepadanya? Atau menedekatinya dan membuatnya menyukaiku?

Kau tahu sebuah kelereng yang diletakkan di atas sendok lalu kau menggigit ujung sendoknya? Ya perasaanku seperti kelereng itu. Terombang-ambing. Rasanya aku sangan ingin melompat dari sendok itu. Tapi, Joongki lah yang menggigit ujung sendok itu. aku ingin bersamanya. Aaaaaa apa ini, aku mulai berkata-kata aneh.

Lebih baik aku segera pulang. Daripada melamun didepan loker seperti wanita gila. Kau tahu, ternyata aku sedari tadi aku sudah menabrakkan kepalaku dengan loker besi itu beberapa kali. Mugkin juniorku yang memandangiku di ujung sana mengira aku perlu di bawa ke dapartemen psikiatri.

Segera ku ambil barang-barangku dan enyah dari ruangan itu. Kududuk di halte rumah sakit menunggu kotak besar yang bisa berjalan mengantarkanku ke apartemen baru yang ibuku belikan waktu itu. Akhirnya datang juga. Aku segera naik, tak banyak penumpang di bus itu. hanya sepasang kekasih di pojok belakang sana. Ah sial enah mengapa aku merasa kesal sendiri. Segera ku lemparkan diriku di kursi paling depan. Ya agar jauh dari pasangan itu.Aku menyenderkan kepalaku di jendela bis memndangi hiruk pikuk kota di malam hari. Sebenarnya aku tak benar-benar memandanginya. Pikiranku melayang-layan entah kemana.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Aku sedikit terkejut dan menoleh ke arah orang itu. Kurasa ia duduk di beakangku. Aku menengok dengan sedikit tidak nyaman.

"Joong Ki Shi?" Mulutku spontan memanggil nama orang itu. orang yang sedari tadi menghantui fikiranku. Kini ia beranjak duduk di sebelahku.

Mataku masih membulat sempurna terkagetkan karena kehadirannya di bis ini. Memang tidak ada yang melarang ia untuk menaiki bis ini, memang tak salah ia duduk dimanapun, tapi ya kalian tahu lah.

"Kenapa terkejut begitu?" tanyanya.

"Bagaimana bisa kau?" Aku masih belum bis amelancarkan ucapanku. Segera ku alihkan pandanganku darinya. Dan ku coba untuk menetralkan detak jantungku yang tiba-tiba saja seperti terserang 1000 volt listrik pikachu. Oke aku hanya mendramatisir.

"Aku baru saja naik setelah kau naik."Ujarnya.

Oke Moon Chaewon. keep calm. Tanyakan yang sepantasnya. "Apa kau ada urusan di rumah asakit? Dimana mobilmu?"

"Tidak."

"Oh..." Dia tidak sedang ada urusan di rumah sakit? lalu.... "Apa kau sedang ada urusan di sekitar sii?" Tanyaku lagi masih penasaran sebenarnya dia sedang apa menaiki bus ini dan bukannya meniki mobilnya.

"Aku sengaja menunggumu."

Tunggu, Apa??? Aku lagi-lagi terbelalak. Apa maksudya? Apa aku tidak salah dengar. Hah! Pasti telingaku mulai bermasalah karena hatiku yang sedang tidak karuan.

"Hei, kenapa diam saja??" Tanyanya membuyarkan lamunanku.

"Apa katamu tadi?" Tanyaku lagi mencoba memastikan apa yang barusan ku dengar.

Please Move OnWhere stories live. Discover now