Part 8- Di balik Sandiwara

2.6K 232 6

Dua orang itu berada dalam atmosfer yang berbeda. Laki-laki yang muda duduk tegap terpisah meja makan dengan laki-laki berumur diseberangnya. Satunya, laki-laki yang sudah sedikit beruban, membenarkan letak kacamatanya dan membersihkannya. Pria itu meneguk air putih lalu menatap anaknya lamat-lamat. Masih sama seperti lima belas menit yang lalu.

Hening.

Tidak ada pembicaraan yang berarti. Hanya deru napas dari masing-masing yang terdengar. Satu bernapas menggebu-gebu. Satunya lagi bernapas santai-kelewat santai. Sampai satu pertanyaan keluar dari mulut Wijaya dan membuat Kevin tersentak.

"Bagaimana kamu dengan anak Pratama?"

Kevin mengehela napas, "saya lelah menyakiti orang lain." Itu benar, Kevin bukanlah tipe orang yang suka bermain-main dengan perasaan orang lain. Perasaan itu rapuh seperti kaca, yang jika jatuh dan pecah akan sulit kembali lagi.

"Itu tugas kamu Kevin. Kamu sendiri yang ingin bertunangan dengan Rain, jadi sebagai imbalannya, kamu harus bisa membuat putrinya hancur. Papa akan mengurus orangtuanya." Ketukan tangan Wijaya di meja seperti intruksi yang tak terbantahkan.

Sejenak, Kevin memandang foto keluarga yang terletak di atas TV. Dia tersenyum tipis. Semoga pilihannya tidak salah. "Saya sudah melakukan kontrak pertama. Selanjutnya saya masih menunggu waktu yang pas."

"Papa mau, kamu cepat-cepat membuatnya terbang lalu kamu hempaskan dia keras-keras."

Tidak usah memakai kiasan seperti itu pun Kevin tau. Papanya ingin dia menyakiti hati gadis yang bahkan tidak dikenalnya. Gadis polos yang tidak tau apa-apa. Terlintas dipikirannya tentang bayangan Rain. Gadis itu cukup lama tidak mendapat perhatian dari Wijaya

"Pa, apa benar saya akan bertunangan dengan Rain?" Entah kenapa rasanya Kevin mulai ragu-ragu. Padahal tidak lama ini dia selalu semangat jika menyangkut Rain. Tapi kali ini dia diserang rasa aneh.

"Papa hampir lupa dengan masalah itu. Kamu dan Rain akan bertunangan tiga bulan lagi," sebuah senyum tulus selayaknya seorang ayah terbit di wajah keriput Wijaya.

Kevin hanya membalas senyum seadanya. Setelah papanya keluar, Kevin menelepon Rain.

"Kevin." Suara Rain menyambutnya.

"Rain, kamu baik-baik kan?"

"Aku selalu baik kok. Gimana sama keluarga di Jakarta? Aku kangen sama kamu."

"Raga kami baik-baik saja Rain. Tapi tidak dengan perasaannya. Papa, Mama, selalu sibuk seperti yang pernah aku bilang. Mereka terus menyuruh aku untuk cepat-cepat menuntaskan kontrak itu."

Kevin berhenti sejenak, mengambil pasokan udara sebelum melanjutkan bicara. Kevin merasa menjadi orang yang amat sangat jahat, bagaimana seandainya jika Rain yang mengalami itu? Bagaimana jika orang yang Kevin permainkan adalah orang yang ia sayang?

"Aku ada berita bagus buat hubungan kita. Tiga bulan lagi Papa mau kita bertunangan."

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!