Part 7- What the?

3.3K 254 2

Vote sebelum baca dan komen setelah baca

*****



Sebuah suara dari TOA sekolah membuat kegegeran tersendiri di kelas X-1. Tidak cewek maupun cowok, mereka asik berkerumun sesuai rasnya. Kaum hawa melingkar di bawah papan, sedangkan kaum adam di tempat paling stategis, pojok kelas. Mereka merapatkan diri untuk menggosip ria.

Cellyn hanya memutar bola matanya kesal. Suara itu, Cellyn mengenalinya, tapi dia tidak mau membuat opini sendiri. Edel hanya menatapnya kasihan, sedangkan temannya yang lain menatap seakan ingin cepat-cepat mengusirnya. Gadis itu berjalan lemas menuju ruang kepala yayasan sekolah.

Panggilan di TOA sekolah itu untuknya. Gadis biasa, bukan seorang yang terkenal, dan seingatnya tidak mempunyai masalah apa-apa dengan ketua yayasan, tiba-tiba disuruh menghadap dengan alasan yang tidak jelas. Cellyn merapal berbagai do'a karena selama ini belum ada yang bertemu dengan ketua yayasan langsung. Termasuk Cellyn.

"Cell, gue temenin ya," Denin kembali menawarkan diri tapi Cellyn menolak. Dia tidak mau Denin juga terlibat seandainya dia akan bermasalah dengan ketua yayasan.

Denin sudah cukup baik, bahkan dia juga sering membantu Cellyn untuk sekadar menaik-turunkan kursinya di kelas ketika akan dibersihkan.

"Bukan gimana ya Den, cuman gue cukup berani kok." Masih dengan seyumnya Cellyn menolak halus penawaran Denin. Cowok itu mengangguk patuh dan mengantar Cellyn sampai pintu kelas.

"Udah lah, gue nggak bakal pergi dalam jangka waktu yang lama. Lo jangan gitu, jadi berasa mau mati gue."

"Cell. Omongan itu doa," ujar Denin tidak suka.

"Gue bercanda. Sana lo atur anak buah lo biar nggak berisik kayak tawon."

Denin mengangkat tangannya, seperti orang hormat. Dia berbalik kemudian menutup kelas dan seketika kelas langsung senyap. Cellyn tersenyum heran dengan temannya itu.

*****

Di lorong kantin, Cellyn mendengar beberapa siswi berbisik dan menatapnya dengan berbagai macam pandangan. Namun Cellyn tidak peduli, pasti gara-gara panggilan itu dia menjadi pusat perhatian.

"Lihat tuh, pasti carmuk."

Cellyn bukan tipe seperti itu.

"Eh, jangan-jangan dia itu..."

Apa? Wonder woman dibalik topeng anak SMA?

"Jangan kenceng-kenceng. Ntar dia dengar."

Cellyn sudah mendengarnya.

Dan bla bla bla. Masih banyak lagi perbincangan tentang dirinya. Tanpa terasa, Cellyn sudah ada di depan pintu ruang bercat coklat muda, yang membedakan dengan ruang lain yang bercat coklat tua.

Rasanya, Cellyn ingin memperlambat waktu karena dia belum siap bertemu dengan sang ketua yayasan. Dia tahu, pasti salah satu dari mereka adalah orang tua Kevin. Maka dari itu Cellyn berusaha untuk menghindarinya. Ditatapnya pintu itu tanpa ada niatan untuk membukanya. Cellyn berdo'a di dalam hatinya semoga tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.

Ceklek...

Tangan gadis itu sudah menyentuh sempurna knop pintu, bahkan pintu itu sudah sedikit terbuka. Tapi itu belum cukup untuk Cellyn melihat siapa yang sedang menunggunya di ruang itu.

Kaki kanannya melangkah melewati batas pintu sedangkan kepalanya melongok sedikit ke dalam. Gelap, sepi, sunyi. Bahkan hanya suara ac yang mendominasi di ruang itu. Kini, seluruh badannya sudah memasuki ruang kedap suara ini.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!