Entah kenapa Jimin merasa aneh. Sedikit terluka dan menyesal, berbeda seperti biasanya. Jika dirinya yang dulu yang menggantikan posisinya saat ini, mungkin saja ia sudah tertawa sinis melihat respon Namjoon.

Jimin menggelengkan kepalanya, lalu berjalan mendekat. "Hyung..."

Ini pertama kalinya ia memanggil Namjoon dengan panggilan yang seharusnya itu. "Namjoon Hyung..." ulangnya sekali lagi.

Namjoon menatapnya, kilatan bingung terpancar dari matanya. Dan kilatan lain juga nampak meski Jimin tidak tau artinya itu. "Jimin... kau-"

"Kita harus bicara..."

Dulu, Jimin tidak akan memakai kata 'kita' jika berbicara dengan Namjoon. Ia selalu merasa jijik.

'Argh! Berhenti membandingkan diriku yang dulu dengan yang sekarang!' Jimin berbatin kesal pada Author. Alien kembali ke asalnya dan mulai mengetik.

Namjoon POV

Jimin? Apa yang ingin dia bicarakan denganku?

Dia tampak linglung, aku tidak berusaha untuk menyadarkannya. Aku takut dia akan marah. Tanganku menggenggam erat surat yang harusnya ku berikan pada wali kelasku.

Sebenarnya berita mengenai Jimin yang berubah sudah sampai ke telingaku. Tapi aku sudah pesimis jika dia tidak akan merubah sikapnya padaku. Daripada membuatnya marah, lebih baik aku berbicara padanya.

"B-Baik. K-Kau ingin bicara dimana?" Sial suaraku bergetar. Aku mengutuk diriku sendiri yang selalu gugup ketika menimpali pembicaraannya.

Mataku melebar, ia berjalan cepat ke arahku lalu menarik pergelangan tanganku seolah menyuruhku untuk mengikutinya.

Dan tangannya, ternyata mungil dan hangat.

Aku tidak pernah menyentuhnya, berbicara pun jarang. Dan kurasa yang kemarin adalah kali ke-sembilan aku berbicara padanya saat wali kelasnya memberikan kertas ulangan Jimin yang mendapat nilai 35, guru itu bilang Jimin menjawab soal pilihan dengan hanya menyilang C dari awal sampai akhir. Miris memang, bahkan aku dapat menghitung pembicaraan kami menggunakan ke-sepuluh jariku.

Dan berarti ini kali ke sepuluhnya aku berbicara padanya.

Haruskah aku merayakannya?

Aku menyadarkan diriku ketika Jimin melepaskan tanganku, kami berada dibelakang sekolah. Aku semakin takut, padahal tubuhku lebih besar darinya.

Aku dapat merasakan tatapannya yang terasa dalam padaku. Memberanikan diri, aku balik menatapnya.

Sarat akan penyesalan dan kesedihan. Itu yang dapat kutangkap, dan mata sipit itu sangat indah. "Jim..."

"Hyung..." Aku menahan nafasku diujung hidung. Jimin memanggilku Hyung?

Apa ini akhir dunia???

Oh Tidak!! Aku belum memberitahu Eomma!

Apa dia baik-baik saja dirumah??

"Hyung aku minta maaf...." Mataku membulat. Mulutku terbuka, pikiran liarku tiba-tiba saja menghilang. Sepertinya aku harus memeriksakan pendengaranku, atau dia salah bicara?

"Hyung, kumohon maafkan aku. Maafkan sikapku yang dulu..." ia kembali berbicara. Aku hanya mendengarkan.

"Aku harap dapat menebus kesalahanku... kebodohanku..."

Author POV

Jimin entah kenapa merasa seluruh perkataannya, tidak semua berdasarkan janjinya pada Dongwook. Ini seperti hati kecilnya yang bicara. "Hyung kumohon..."

Namjoon menatapnya tegas, "Apa kau serius?" Tanya Namjoon dengan pelan. Tampaknya ia belum bisa mempercayai Jimin.

"Apa aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi?" Jimin balik bertanya sebelum tawa miris terdengar mengudara. Ia tidak mengerti perasaan ini, serasa menyiksa dan ingin terlepaskan. Sangat sengsara.

Ia berbalik dan berjalan pergi. Meninggalkan Namjoon yang terdiam disana.

Tidak ya? Pikir Jimin menahan desahan lelah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Bel pulang sekolah berdering 5 menit lalu dan Jimin sama sekali tidak ada niatan untuk beranjak dari tempatnya. Ia melamun, memikirkan segala tingkah buruknya pada Namjoon dan Eommanya.

'Tidakkah aku begitu bodoh?' Pikir Jimin sambil menenggelamkan wajahnya diantara lipatan lengannya diatas meja.

Ini seperti Jimin mendapati cahaya yang menyingkirkan kebencian dihatinya pada mereka. Dan Jimin sadar, tidak seharusnya ia menyalahkan Eomma Namjoon atas segalanya. Ini semua Takdir.

Terlebih kini hanya mereka keluarga yang Jimin milikki. Seharusnya ia menjaganya, bukan melukainya. Seharusnya Jimin menyayangi mereka, bukan malah membenci mereka.

Melontarkan kata-kata kasar yang busuk dan selalu merepotkan mereka dengan segala daftar kenakalannya. Kesalahan selalu datang diakhir, itu yang Jimin rasakan.

Ia mengusap wajahnya lalu mengambil tasnya.

Kelas sudah sangat sepi. Jimin berdiri dan melangkah keluar kelas, suasana sangat sunyi. Ia menunduk, menghela nafas lagi dan lagi.

"Jimin!"

Jimin mendongak dan tersentak, "H-Hyung!"

"Kau lama sekali. Kakiku pegal tau." Keluh Namja itu berdiri dari dinding yang ia senderi.

"Hyung. Apa yang kau lakukan disini??" Jimin membeo, lidahnya tercekat.

Namjoon tersenyum, "Tentu saja menunggumu. Dan memberikan kesempatan kedua untukmu." Lesung pipitnya terlihat, tanda jika ia tersenyum lebar.

Jimin tidak bisa berkata-kata, ia membuang tasnya ke lantai dan segera menubruk Namjoon dengan pelukannya. "Hiks... kupikir aku hiks... tidak akan mendapatkannya Hiks... Hyungg..."

Namjoon balas memeluknya, ia tersenyum. Aroma melon yang menguar dari rambut merah Jimin membuat Namjoon mengeratkan pelukannya. "Jangan cengeng adik kecil...."

'Sepertinya aku harus menghitung pembicaraan kami menggunakan kakiku....' pikir Namjoon saat didengarnya Jimin meracau berterima kasih.

Dan Author hanya duduk dipojokkan sambil membawa tas Jimin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC

OKEH, entah kenapa Ane kecewa sama Chap ini... :'v Ada yang merasa begitu? :3

The Story Is Based On The Mood Of Author - Jimin ukeBaca cerita ini secara GRATIS!